Home Berita Bidik Dewan ICAO, Indonesia Andalkan Keselamatan dan Konektivitas Penerbangan

Bidik Dewan ICAO, Indonesia Andalkan Keselamatan dan Konektivitas Penerbangan

Share

JAKARTA, LINTAS – Indonesia resmi mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atau International Civil Aviation Organization (ICAO) pada 43rd Extraordinary Assembly 2026. Langkah ini menjadi upaya Indonesia untuk kembali mengambil bagian dalam pengambilan keputusan strategis penerbangan sipil dunia.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, mengatakan Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi penerbangan sipil dunia. Indonesia tercatat pernah menjadi anggota Dewan ICAO selama 12 periode berturut-turut pada 1962–2001.

Peluang Indonesia kembali duduk di Dewan ICAO semakin terbuka seiring perubahan jumlah anggota Dewan ICAO dari 36 menjadi 40 negara.

“Pencalonan ini adalah momentum strategis bagi Indonesia untuk kembali hadir di meja pengambilan keputusan penerbangan sipil dunia. Rekam jejak kita sebagai anggota Dewan ICAO selama 12 periode berturut-turut sejak 1962 hingga 2001 menjadi modal kepercayaan diri, dan perluasan keanggotaan Dewan ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk berkontribusi kembali,” ujar Lukman.

Menurut Lukman, pencalonan Indonesia didasarkan pada kepentingan, kapasitas, pengalaman, serta rekam jejak Indonesia dalam penerbangan sipil internasional.

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan berada di antara Samudra Pasifik dan Hindia, penerbangan memiliki posisi penting bagi konektivitas nasional. Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan wilayah udara sekitar 7,7 juta kilometer persegi, Indonesia memiliki peran strategis dalam jaringan penerbangan kawasan maupun global.

Layani 43,4 Juta Penumpang

Besarnya peran sektor penerbangan Indonesia tercermin dari jumlah penumpang yang dilayani sepanjang semester pertama 2026.

“Hingga semester pertama 2026, kita telah melayani 24,9 juta penumpang domestik dan 18,5 juta penumpang internasional melalui 257 bandar udara, dengan 297 rute domestik dan 160 rute internasional yang dioperasikan oleh 14 maskapai nasional dan 59 maskapai asing,” kata Lukman.

Dengan capaian tersebut, total penumpang penerbangan domestik dan internasional yang dilayani Indonesia mencapai sekitar 43,4 juta penumpang hingga semester pertama 2026.

Selain skala layanan, Indonesia juga membawa capaian di bidang keselamatan dan keamanan penerbangan sebagai salah satu modal pencalonan.

Berdasarkan audit ICAO Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP), Indonesia mencatat nilai Effective Implementation sebesar 78,85 persen. Angka tersebut berada di atas rata-rata global sebesar 70,6 persen dan rata-rata kawasan Asia Pasifik sebesar 69,6 persen.

Sementara dalam audit keamanan penerbangan ICAO Universal Security Audit Programme (USAP), Indonesia mencatat capaian 88,53 persen. Angka itu melampaui target global sebesar 75 persen.

“Effective Implementation kita di audit ICAO USOAP tercatat 78,85 persen, di atas rata-rata global maupun Asia Pasifik. Pada audit keamanan ICAO USAP, capaian kita 88,53 persen, jauh melampaui target global 75 persen,” jelas Lukman.

Latih Negara Anggota ICAO

Indonesia juga memiliki rekam jejak dalam pengembangan kapasitas sumber daya manusia penerbangan di tingkat internasional.

Melalui Indonesia–ICAO Developing Countries Training Programme, Indonesia telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 80 negara anggota ICAO, termasuk negara-negara di kawasan Pasifik dan Afrika.

Indonesia juga meraih status Platinum Member ICAO TRAINAIR PLUS melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan.

Berbagai capaian tersebut menjadi bagian dari modal Indonesia untuk kembali berkontribusi dalam perumusan kebijakan penerbangan sipil internasional.

Dalam pencalonan kali ini, Indonesia mengusung visi Bridging Regions, Strengthening Global Aviation”. Visi tersebut diarahkan untuk menempatkan Indonesia sebagai wakil Asia Pasifik yang mendorong dialog dan kerja sama antarkawasan.

Indonesia juga ingin mendorong kebijakan ICAO yang berimbang dengan mengedepankan keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan sistem penerbangan global yang inklusif.

Ajak Seluruh Ekosistem Penerbangan

Lukman menegaskan pencalonan Indonesia tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi juga melibatkan seluruh ekosistem penerbangan nasional.

“Pencalonan ini bukan sekadar upaya pemerintah, melainkan pencalonan seluruh ekosistem penerbangan Indonesia. Kami mengajak kementerian/lembaga, maskapai, pengelola bandar udara, penyelenggara navigasi penerbangan, hingga seluruh pemangku kepentingan penerbangan untuk bersama-sama mendukung langkah ini, karena keberhasilan Indonesia duduk di Dewan ICAO adalah kebanggaan dan keberhasilan bersama seluruh bangsa,” tutur Lukman.

Kementerian Perhubungan berharap dukungan dari seluruh pemangku kepentingan penerbangan, baik di dalam maupun luar negeri, dapat mengantarkan Indonesia kembali memperoleh kepercayaan untuk menjadi anggota Dewan ICAO.

“Jika terpilih, Indonesia akan memiliki ruang yang lebih besar untuk menyuarakan kepentingan negara-negara Asia Pasifik sekaligus berkontribusi dalam membentuk arah kebijakan penerbangan sipil internasional,” pungkas Lukman. (CHI)

Baca Juga:

Oleh:

Share