Home Fitur Berkat Jembatan Besi Itu, Desa Anggadita di Karawang Bertransformasi…

Berkat Jembatan Besi Itu, Desa Anggadita di Karawang Bertransformasi…

Share

Kehadiran jembatan di Desa Anggadita, Kecamatan Klari, Karawang, Jawa Barat, yang dikerjakan secara mandiri oleh seorang warga desa Muhamad Endang Junaidi, pun berubah ramai.

Siang itu, Selasa (20/5/2025), permukaan air di Sungai Citarum–yang berwarna coklat lumpur–bertambah tinggi. Tim Lintas yang hendak menyambangi jembatan perahu yang begitu ramai di media sosial itu sempat terhalang luapan sungai Citarum persis di bawah kolong jembatan di Jalan Rumambe 1.

Tidak jauh dari kolong Jalan Tol Jakarta-Cikampek itu, dibantu penelusuran di Peta Google, tim Lintas tiba di lokasi. Karena mobil tidak diperkenankan melewati Jembatan Besi Khusus Motor tersebut, Lintas memarkir mobil tepat di depan warung milik Yano Sutrisno, warga Dusun Rumambe 1.

Mungkin karena sudah begitu viral dan banyak media massa yang meliput, termasuk para kreator konten media sosial, Yano tidak merasa asing dengan kehadiran tamu tak diundang itu. Ia pun dengan ramah menerima Lintas di warungnya. Setelah mempersilakan Lintas duduk, Yano pun dengan senang hati menjawab pertanyaan tim Lintas yang ingin tahu terkait jembatan yang heboh itu. Sesekali di tengah wawancara, Yano melayani pelanggannya yang ingin membeli makanan.

Seperti diketahui, Jembatan Besi Khusus Motor–demikian Peta Google merekam lokasi tersebut–ramai diperbincangkan media karena Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum menginstruksikan jembatan ditutup dan dihentikan operasionalnya. Konon instruksi penutupan itu dipicu karena jembatan yang dibangun pada 2010 tersebut tidak mengantongi izin.

Setelah Yano panjang lebar menceritakan soal betapa jembatan penyeberangan itu sangat vital bagi warga, tim Lintas pun bergeser ke lokasi. Dari Yano, didapatkan cerita, setiap pagi, ada sekitar 20.000 karyawan yang bekerja di kawasan industri di seberang sungai melewati jembatan untuk bekerja.

“Setiap orang yang lewat dipungut bayaran Rp 2.000. Warga desa sini digratiskan. Adapun mobil tidak diperbolehkan lewat,” ujarnya.

Dari pernyataan Yano didapatkan data, kalau asumsinya jembatan itu dilewati sekitar 20.000 orang, uang yang dikumpulkan oleh pengelola sekitar Rp 40 juta per hari.

Yano Sutrisno, Warga Dusun Rumambe 1, Desa Anggadita, Kecamatan Klari, Karawang, Jawa Barat. | Dok. Kementerian PU

Yano juga mengaku bahwa sejak jembatan itu beroperasi, ia menangkap potensi bisnis, yakni memulai usaha warung makan. Sejak saat itu hingga sekarang warungnya ramai terus. Begitu juga beberapa warung kelontong di dekat jembatan terlihat ramai.

Baca Juga: Pengguna dan Karyawan Tidak Setuju Jembatan Beromzet Rp 20 Juta Sehari Ditutup

Sesampai di lokasi, Lintas beruntung bisa langsung bertemu dengan pemilik sekaligus pengelola jembatan tersebut, Haji Endang, begitu ia dikenal oleh warga setempat. Sambil mengelap mobil sedan hitamnya sambil bertelanjang dada, Endang menceritakan bahwa desa mereka, terutama di lokasi jembatan itu, adalah desa mati. Jauh dari keramaian.

Dengan didorong oleh warga bernama Haji Yusuf, Endang memberanikan diri untuk membuat perahu yang digunakan untuk menyembarangkan sepeda motor. “Awalnya, menggunakan perahu bisa menyeberangkan 40 unit sepeda motor,” ujar Endang.

Seiring berjalannya waktu, Endang pun meningkatkan usahanya dengan merancang jembatan di atas perahu besi. Sejumlah perahu didesain sedemikian rupa sehingga bisa saling dirangkai dan menjadi sebuah jembatan. Konsep tersebut dianggap Endang aman karena perahu bisa langsung mengapung saat muka air bertambah tinggi.

Endang menceritakan bagaimana ia memulai usaha itu. Bahkan, ia sampai berani meminjam uang dari bank untuk membangun jembatan yang kokoh seperti sekarang ini.

Kepada media ia selalu utarakan bahwa tak pernah ia pikirkan usahanya bisa sepesat sekarang ini. “Namun, kalau Allah sudah buka jalan, siapa yang bisa tahan,” ujarnya.

Jadi, kehadiran jembatan penyeberangan ini, kata Endang, menjadi berkah bagi seluruh warga desa. Seperti diutarakan oleh Yano, Endang selalu memberikan santunan kepada warga desa yang membutuhkan. Ia juga selalu membangun jalan desa sehingga tetap mulus.

“Pada tahun 2015, tiba-tiba Kawasan Industri Mitra Karawang dan Kawasan Industri Surya Cipta dibuka. Di situlah desa kami menjadi ramai. Bukan desa mati lagi seperti dulu,” ujar Endang.

Dari sejumlah pengguna dan karyawan yang bekerja mengelola jembatan mengatakan bahwa keberadaan jembatan besi milik Endang itu sangat mereka butuhkan. Karyawan yang berjumlah 40 orang–yang bekerja secara sif-sifan–termasuk keluarga mereka mengggantungkan hidup dari jembatan milik Endang tersebut.

“Tak tahu harus bekerja di mana nanti kalau jembatan itu jadi ditutup,” kata Akeo (37) asal Rengasdengklok. (HRZ/MAL/PEP)

Oleh:

Share