Home Fitur Berburu Durian Baduy di Rangkasbitung

Berburu Durian Baduy di Rangkasbitung

Share

Selasa pagi, 1 September 2026, perjalanan kuliner kembali menjadi agenda Tim Buldozer. Kali ini, delapan orang pensiunan PU memilih Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, sebagai tujuan. Bukan sekadar perjalanan untuk mengisi waktu, mereka datang dengan satu misi sederhana: menikmati kuliner khas Lebak sekaligus berburu durian Baduy yang sedang memasuki musim panen.

Rombongan berangkat dari Stasiun Pondok Ranji sekitar pukul 09.50 WIB menggunakan KRL menuju Stasiun Rangkasbitung. Suasana kereta yang relatif sepi membuat perjalanan terasa santai. Para anggota rombongan pun dapat duduk dengan leluasa sembari berbincang ringan sepanjang perjalanan.

Tak ada agenda yang terlalu formal. Obrolan mengalir dari satu topik ke topik lainnya, diselingi candaan khas para pensiunan yang sudah lama saling mengenal. Perjalanan dengan kereta justru menjadi bagian dari pengalaman kuliner itu sendiri.

Sekitar pukul 11.00 WIB, rombongan tiba di Stasiun Rangkasbitung. Dari stasiun, mereka berjalan kaki menuju kawasan Jalan Ki Maklum atau yang dikenal masyarakat sebagai Gang Kibun. Lokasi tersebut memang menjadi salah satu kawasan yang ramai oleh pedagang durian ketika musim panen tiba.

Fenomena itu bukan kebetulan. Laporan ANTARA pada Agustus 2026 menyebut pedagang mulai memenuhi sejumlah ruas jalan di Rangkasbitung dengan durian yang berasal dari kawasan Baduy dan wilayah Lebak lainnya. Lokasinya antara lain Jalan Gang Kibun, Multatuli, Hardiwinangun, Sunan Kalijaga, hingga kawasan sekitar Stasiun Rangkasbitung.

Baca Juga: Menyusuri Malam dengan Kereta Cepat Whoosh, Sawah Berganti Gemerlap Lampu

Bahkan, akhir Agustus melaporkan bahwa Gang Kibun yang berada tidak jauh dari Stasiun Rangkasbitung menjadi salah satu sentra penjualan durian saat musim panen. Durian yang dijajakan banyak berasal dari Kecamatan Leuwidamar dan kawasan sekitar permukiman masyarakat Baduy. Namun, sebelum berburu si raja buah, rombongan sepakat mengisi tenaga terlebih dahulu.

Sate Kambing Sebelum Durian

Rumah Makan Ramayana yang berada di seberang kawasan Jalan Ki Maklum menjadi persinggahan pertama. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi perburuan durian dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki kurang dari lima menit.

Menu sate kambing menjadi pilihan. Harga yang relatif terjangkau membuat makan siang terasa pas untuk rombongan yang sejak pagi sudah menempuh perjalanan dari Tangerang Selatan menuju Rangkasbitung.

Setelah perut terisi, barulah misi utama dimulai. Satu per satu lapak durian didatangi. Mata para anggota rombongan mulai sibuk memilih buah berdasarkan ukuran, aroma, bentuk kulit, hingga tingkat kematangannya. Aroma durian yang menguar dari lapak-lapak pedagang seolah menjadi penanda bahwa musim panen memang sedang berlangsung.

Harga durian yang ditawarkan pun beragam. Tim Buldozer menemukan durian dengan harga mulai sekitar Rp25 ribu hingga Rp100 ribu per buah, tergantung ukuran dan kualitas.

Harga tersebut sejalan dengan gambaran pasar durian Baduy di Rangkasbitung pada musim panen tahun ini. RRI mencatat harga durian lokal yang dijual pedagang berada di kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu per buah. Buah dengan harga lebih tinggi umumnya dicari karena dianggap memiliki daging lebih tebal dan rasa lebih manis.

Bagi masyarakat Baduy, durian bukan hanya buah musiman. Komoditas ini juga menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat. ANTARA melaporkan bahwa sebagian besar masyarakat Baduy memiliki perkebunan durian dan musim panen memberikan dampak ekonomi bagi petani, pemetik, buruh panggul, penampung hingga pedagang.

Dari Perjalanan Menjadi Kenangan

Bagi Tim Buldozer, perjalanan kali ini bukan semata soal berapa banyak durian yang berhasil dibawa pulang. Ada cerita yang lebih penting: kebersamaan.

Delapan pensiunan PU yang sehari-hari mungkin sudah tidak lagi disibukkan oleh rutinitas pekerjaan, justru menemukan cara sederhana untuk tetap aktif dan berkumpul. Naik KRL, berjalan kaki, makan siang, memilih durian dan kemudian pulang bersama menjadi rangkaian kecil yang terasa istimewa.

“Wisata kuliner kali ini benar-benar luar biasa. Perut kenyang dan semuanya happy,” ujar Dewi, salah satu anggota Tim Buldozer, sembari tersenyum.

Namun, usia juga membuat mereka harus lebih bijak menikmati makanan. Setelah puas mencicipi berbagai kuliner, rombongan memilih untuk membatasi porsi agar tetap nyaman dan tidak mengganggu kondisi tubuh.

Bagi mereka, prinsipnya sederhana: menikmati makanan boleh, tetapi kesehatan tetap menjadi prioritas. Perjalanan pun perlahan mendekati akhir. Setelah puas berburu durian Baduy dan menikmati makan siang, rombongan kembali menuju Stasiun Rangkasbitung untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Tidak ada kemewahan dalam perjalanan itu. Hanya KRL, langkah kaki, sepiring sate kambing, beberapa buah durian, obrolan ringan dan tawa yang sesekali pecah di antara mereka.

Tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat perjalanan Tim Buldozer kali ini terasa berkesan.

Rangkasbitung memberi mereka lebih dari sekadar rasa manis durian Baduy. Kota itu menghadirkan ruang untuk kembali berkumpul, bernostalgia dan menikmati waktu bersama sebuah perjalanan sederhana yang meninggalkan cerita manis jauh setelah kulit durian dibuang.

Musim durian mungkin akan berlalu. Lapak-lapak di Gang Kibun suatu saat akan kembali sepi. Namun bagi delapan pensiunan PU yang tergabung dalam Tim Buldozer, perjalanan 1 September 2026 itu akan tetap menjadi satu catatan kecil tentang persahabatan, kuliner dan cara sederhana menikmati hari. (PAH)

Baca Juga: KAI Petakan Risiko 1.214 Perlintasan Sebidang, 190 Titik Jadi Prioritas

Oleh:

Share