Home Fitur Belajar dari Cara China Memitigasi Bencana

Belajar dari Cara China Memitigasi Bencana

Share

Sebuah jembatan tol di Guizhou, China, ambruk pada Selasa pagi, 24 Juni 2025. Namun, tidak ada korban jiwa. Ini bukan karena keberuntungan. Ini hasil dari sistem mitigasi bencana yang bekerja cepat dan terencana.

Jembatan yang ambruk berada di Jalan Tol Xiamen–Chengdu, tepatnya di Kabupaten Sandu. Hujan deras terus-menerus menyebabkan longsor yang menghantam struktur jembatan. Kejadian terjadi pukul 07.40 pagi saat sebuah truk sedang melintas.

Sopir truk berhasil diselamatkan. Tiga kendaraan lain yang tertimpa ternyata sedang tidak digunakan. Tidak ada satu pun nyawa melayang. Semua berkat deteksi dini dan respons cepat otoritas setempat.

Petugas patroli jalan tol melihat tanda-tanda kerusakan sejak pukul 05.51. Mereka langsung memberlakukan lalu lintas satu arah. Pada pukul 07.11, jembatan ditutup total. Hanya berselang 30 menit sebelum keruntuhan.

Baca Juga: Jembatan Tol Ambruk di Guizhou akibat Longsor, Tak Ada Korban Jiwa

Langkah ini menyelamatkan banyak nyawa. China tak menunggu bencana terjadi. Mereka bertindak sebelum terlambat. Ini pelajaran penting bagi kita di Indonesia yang sering terkesan terlambat dalam mitigasi bencana.

Dicuplik dari Chinadaily.com.cn, Foto udara jembatan yang ambruk di Kabupaten Sandu, Provinsi Guizhou, pada Selasa, akibat longsor yang dipicu hujan lebat berkepanjangan. | Dok: Xinhua

Sistematis

Selain itu, peringatan cuaca dilakukan secara sistematis. Layanan Meteorologi Guizhou memantau curah hujan selama 24 jam penuh. Mereka mencatat lima titik hujan ekstrem dan mengeluarkan peringatan untuk wilayah selatan.

Ketika ancaman membesar, otoritas Guizhou langsung mengeluarkan respons darurat tingkat empat. Ini adalah level resmi terendah dalam sistem nasional, tapi tetap berarti tindakan cepat di lapangan.

Kabupaten Rongjiang, yang berada dekat lokasi jembatan, mengalami banjir besar. Air mencapai level tertinggi dalam 30 tahun. Pemerintah lokal langsung menaikkan status siaga dan memerintahkan evakuasi pukul 09.00.

Evakuasi dilakukan sebelum air mencapai puncaknya. Warga di kota lama dan kawasan urban baru diminta mengungsi ke tempat lebih tinggi. Bukan setelah banjir, melainkan sebelum.

Di beberapa negara lain, evakuasi tak jarang terjadi setelah korban berjatuhan. Di China, aparat mendahului bencana. Ini hasil dari sistem informasi yang terkoneksi dengan baik antara pemerintah pusat dan daerah.

Bukan hanya itu, dari berbagai pemberitaan kita mengetahui, China juga mengerahkan pasukan bersenjata rakyat untuk membantu evakuasi. Mereka membawa perahu dan pelampung. Peran militer di sana sangat aktif dalam urusan kemanusiaan “Negara Tirai Bambu” itu.

Kesigapan pemerintah pusat setiap kali ada bencana begitu cepat. Dari berbagai sumber diperoleh data, saat ini dana sebesar 300 juta yuan atau sekitar Rp 6,8 triliun digelontorkan oleh Pemerintah China untuk penanganan bencana di tujuh provinsi. Prosesnya cepat dan langsung ke sasaran.

Barangkali ini yang sering menjadi di negara kita. Respons terhadap penanganan bencana masih kurang cepat. Sebagai contoh penanganan Jembatan Oyo di Nias Barat, Provinsi Sumatera Utara. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan setelah kejadian baru bisa ditangani.

Jembatan Oyo, Nias Barat, putus dihantam banjir Rabu (5/3/2025). | Foto: Istimewa

Baca Juga: Gubernur Sumut Bobby Nasution Janjikan Segera Bangun Jembatan Oyo di Nias Barat

China juga aktif menyampaikan informasi lewat media. Warga tahu apa yang sedang terjadi, dan apa yang harus mereka lakukan. Ini membentuk budaya tanggap darurat yang kuat di masyarakat.

Agaknya tidak berlebihan pepatah yang mengatakan: tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. Bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada manajemen risiko. Sebab, bencana tak bisa dicegah, tetapi dampaknya bisa dikurangi–jika kita serius belajar dari mereka. (HRZ)

Oleh:

Share