JAKARTA, LINTAS — PT Waskita Karya (Persero) Tbk kembali mencatat prestasi di kancah internasional. Perseroan berhasil menjadi finalis dalam ajang Bentley’s Going Digital Awards Year in Infrastructure (YII) 2025 yang digelar di Amsterdam, Belanda. Pengakuan ini diberikan atas inovasi digital yang diterapkan Waskita dalam pembangunan proyek Light Rail Transit (LRT) Jakarta Fase 1B rute Velodrome–Manggarai.
Proyek LRT sepanjang 6,4 kilometer (km) dari total 46,8 km ini menjadi salah satu pembangunan transportasi publik paling kompleks di Jakarta. Tantangannya datang dari padatnya kawasan perkotaan yang menuntut solusi efisien, presisi, dan aman.
Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, menyebut bahwa proyek LRT Jakarta Fase 1B menunjukkan progres positif.
“Dengan kondisi lapangan yang menantang, kami tetap berkomitmen menjaga mutu dan ketepatan waktu. Hingga kini, progres telah mencapai 77,96 persen, melampaui target 76,49 persen,” jelas Ermy dalam keterangan resminya, Jumat (7/11/2025).
Waskita menargetkan proyek ini rampung pada Agustus 2026. Untuk mempercepat pengerjaan, perusahaan memanfaatkan teknologi digital berbasis Building Information Modelling (BIM) dan sistem inovatif dari Bentley. Teknologi tersebut memungkinkan proses konstruksi lebih efisien sekaligus meminimalkan risiko di lapangan.
Inovasi Digital Jadi Kunci Efisiensi
Ermy menjelaskan, Waskita menggunakan platform digital terintegrasi yang menggabungkan data spasial, model BIM, dan jadwal pekerjaan dalam satu sistem. Pendekatan ini membuat seluruh tim proyek—baik teknis maupun nonteknis—dapat mengakses informasi secara real time dan mengambil keputusan cepat.
“Lewat sistem ini, kami mampu mengidentifikasi dan menyelesaikan lebih dari 1.200 potensi kendala sebelum proses konstruksi dimulai. Implementasi simulasi 4D juga membuat proses kerja lebih presisi dan efisien,” ujar Ermy.
Pemanfaatan teknologi digital tidak hanya mempercepat pembangunan, tapi juga memberikan dampak ekonomi nyata. Waskita mampu menghemat biaya hingga 14,82 juta dolar AS dan menekan konsumsi material sebesar 7,3 juta dolar AS. Selain itu, efisiensi data meningkat hingga 80 persen, waktu pemodelan berkurang 40 persen, dan inspeksi fisik menurun 20 persen.
Dukung Target Net Zero Emission
Inovasi teknologi yang diterapkan Waskita Karya sejalan dengan upaya pemerintah mencapai target Net Zero Emission (NZE). Proyek ini berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 4.000–5.500 ton per tahun, menciptakan pembangunan kota yang lebih hijau dan berkelanjutan.
“Kami mendukung langkah pemerintah menurunkan jejak karbon perkotaan lewat pembangunan moda transportasi publik yang modern dan efisien,” tutur Ermy. Ia menambahkan, proyek LRT Jakarta Fase 1B juga menjadi harapan besar masyarakat karena akan meningkatkan konektivitas di Stasiun Manggarai dan mengurangi kemacetan ibu kota.
Keikutsertaan Waskita dalam ajang internasional YII 2025 membuktikan bahwa transformasi digital di sektor konstruksi bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan. Dengan pendekatan digital yang terintegrasi, perusahaan tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menyiapkan fondasi bagi kota cerdas dan berkelanjutan. (GIT)
Baca Juga: JTT Lakukan Pemeliharaan Tol Jakarta–Cikampek 7-16 November, Awas Potensi Padat!





