Home Profil Sarah Maghfirah, Cita-cita Masa Kecil Membangun Jembatan

Sarah Maghfirah, Cita-cita Masa Kecil Membangun Jembatan

Share

Impian membangun jembatan adalah cita-cita masa kecilnya, mulai dari corat-coret desain jembatan, bermain puzzle, dan lego membangun jembatan, yang kemudian mengantarkannya untuk mengambil kuliah jurusan teknik sipil dan diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Pada awalnya, Sarah Maghfirah, ST, MT, yang kini menjabat sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 4.3 pada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah IV (Satker PJN 4) Provinsi Sumatera Utara, cita-cita masa kecilnya berkeinginan untuk bisa menjadi seorang arsitek. Ia memiliki keinginan untuk bisa merancang bangunan-bangunan dan salah satunya adalah membuat jembatan, tetapi kala itu ia belum benar-benar mengetahui perbedaan antara arsitek dengan engineer (insinyur).

Namun, setelah duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) barulah ia paham untuk bisa membuat jembatan adalah seorang lulusan teknik sipil.

Sejak itu, selepas lulus dari SMA, Sarah berkomitmen untuk mengambil kuliah jurusan teknik sipil di Universitas Syiah Kuala, di Aceh, tahun 2005 dan lulus tahun 2010. Tak berselang lama di tahun yang sama dengan tahun kelulusan sebagai Sarjana Teknik Sipil tersebut, ia diterima sebagai PNS di Kementerian PUPR dan ditempatkan di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Utara (BBPJN Sumut), yang saat itu masih bergabung dengan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Sarah saat berada di lapangan dan berfoto bersama penyedia jasa dan para konsultan. | Dok. Pribadi

 “Saya pertama kali bertugas di Bagian Pemrograman sebagai Asisten Perencanaan selama 5 tahun. Saat itu yang menjadi atasan saya Bapak Bambang Pardede hingga akhirnya di BBPJN Sumut bertemu dengan Bapak Paul Ames Siahaan, yang sering memarahi saya,” ujar Sarah tersenyum, Jumat (13/10/2023).

Namun, bagi Sarah, semenjak itu tidak ada lagi yang seperti Bapak Paul, yang care (perhatian) juga peduli dan mau duduk bersama mendiskusikan terkait anggaran ataupun progres. “Jadi, kami kadang-kadang kebingungan sendiri,” kenangnya.

Pada 2019, ia dipindahkan di Bidang Preservasi. “Menurut Bapak Kepala Balai Selamat Rasidi, saya sudah terlalu lama berada di Bagian Pemprograman,” katanya.  Sehingga perlu refreshing  atau penyegaran. Sembari melanjutkan pendidikan Pascasarjana di Universitas Sumatera Utara (2019-2021), sejak itu dirinya tergerak untuk belajar terkait Asphalt Mixing Plant (AMP).

“Nah, mulai dari situlah sedikit demi sedikit paham, apa itu AMP, khususnya bahan baku aspal. Selama pendidikan pascasarjana ada keinginan untuk menggeluti dan bisa meneliti terkait perkerasan ataupun asbuton pracampur. Kemudian, tahun 2023, Kepala BBPJN Sumut Brawijaya menunjuk saya untuk menjadi PPK 4.3,” ungkap Sarah.

Saat menjadi tim sertifikasi Kelaikan Operasi AMP BBPJN SUMUT, kata Sarah, penting mengetahui proses bahan dalam menjaga mutu aspal dan dari situ juga muncul keinginan untuk mendalami AMP supaya bisa melihat terutama sifatnya. “Itulah hal yang berkesan hingga sekarang. Jadi, kalau produksi, saya akan rewel kepada kontraktor dan tak jarang saya menanyakan kesiapan AMP. Hot screen sudah dicek belum? Oil heater sudah berapa jam hidup? Timbangan kapan terakhir di kalibrasi,” tegasnya.

Pesan Orangtua

Bagi perempuan kelahiran Aceh ini, orangtuanya selalu mengingatkan pentingnya kejujuran. “Bapak, dahulu punya statement, ‘katakanlah jujur walaupun itu pahit’. Walaupun punya kesalahan, lebih baik katakanlah sejujur-jujurnya. Tidak hanya itu, Bapak juga selalu mengingatkan, bahwa posisi adab di atas ilmu,” katanya.

Di zaman sekarang ini, menurut Sarah, generasi hari ini anak-anak pintar-pintar berilmu, tetapi adabnya sudah mulai terkikis dibandingkan dengan zaman dulu terutama bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua.

“Orangtua bagi saya sangat berharga. Saya sangat bersyukur karena masih memiliki ayah dan ibu, sehingga bisa berbakti kepada mereka. Karena mereka adalah support system dalam hal apa pun, terutama doa kedua orangtua dan suami. Merekalah harta yang paling berharga,” ungkap anak ketiga dari empat bersaudara itu.

Bersama Keluarga

Dari pernikahannya, Sarah dan suami yang berprofesi sebagai arsitek sekaligus konsultan perencanaan dan pengusaha kopi tersebut, telah dikaruniai dua anak, yakni putra yang berumur 7 tahun dan putri berumur 4 tahun.

“Kebetulan, suami bekerja base-nya di Medan. Jadi, sekarang keluarga di Medan semuanya,” ujarnya.

Di sela-sela kesibukannya bekerja, ia selalu berusaha untuk bisa membagi waktu dengan keluarga, walaupun hari-harinya lebih banyak dihabiskan di lapangan. Khususnya, saat weekend (Sabtu-Minggu) benar-benar saat quality time dengan suami dan anak-anak, seperti  mengantar anak berlatih bola, les, dan no screen time alias tidak pegang ponsel.

“Jadi, hari Sabtu-Minggu benar-benar diskusi dengan suami dan anak. Kalau suami ingin makan apa pasti saya masakin,” ujar ibu dua anak tersebut, yang juga memiliki hobi memasak.

Walaupun demikian, ia tidak lupa untuk selalu menjaga kondisi fisik supaya bisa selalu fit, salah satunya melakukan olahraga ringan seperti jalan pagi dan menjaga pola hidup sehat dengan cara mengurangi makanan yang manis-manis, minyak, dan santan.

Pesannya pada generasi muda, khususnya generasi muda di Kementerian PUPR, jangan mudah bangga dengan apa yang sudah di dapat. Kembangkanlah diri, update ilmu, dan menjaga akhlak kepada yang lebih tua, serta jangan merasa paling pintar karena S-2, karena di atas langit masih ada langit, upgrade diri terus walaupun kita sudah pintar tetap humble (rendah hati).

Dalam lingkup kerja di PPK kaum laki-laki memang lebih mendominasi, tetapi jangan baper atau bawa perasaan, mesti profesional.

“Kalaupun di beberapa situasi perempuan masih sering dipandang sebelah mata karena jender. Sudahlah. Fokuslah pada karier supaya bisa menduduki level-level yang tinggi di Kementerian PUPR, sehingga perempuan ke depan tidak lagi dipandang sebelah mata,” tutup Sarah.

Oleh:

Share

ARTIKEL TERKAIT