JAKARTA, LINTAS — Indonesia dan Belanda sepakat menggeser fokus kerja sama sektor air dari kajian ke aksi lapangan untuk menjawab ancaman banjir rob, penurunan muka tanah, dan perubahan iklim. Kesepakatan itu mengemuka dalam Joint Steering Committee (JSC) 2025 kerja sama air Indonesia–Belanda yang digelar hibrida, dari Jakarta dan Den Haag, Senin (16/12/2025).
Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Wida Nurfaida, melalui keterangan tertulis, menegaskan, tantangan kebencanaan air menuntut kolaborasi yang lebih operasional.
“Kerja sama ini diharapkan tidak berhenti pada perencanaan dan kajian. Akan tetapi, berlanjut menjadi aksi nyata di lapangan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, Kementerian PU mengusulkan pembentukan kelompok kerja baru Integrated North Java Coastal Development. Usulan ini menyasar kawasan Pantai Utara Jawa yang kian rentan akibat banjir rob dan penurunan muka tanah.

Sementara itu, JSC 2025 juga meninjau capaian tiga working group yang telah berjalan. Antara lain Integrated Water Resilience, Lowland Development and Irrigation, serta Capacity Building, Knowledge Exchange, and Youth Engagement. Ketiganya dinilai memberikan dampak melalui proyek percontohan, kajian teknis, dan penguatan kapasitas.
Selanjutnya, hasil pertemuan ini diharapkan memperjelas prioritas, pembagian peran, dan mekanisme tindak lanjut. Dengan demikian, kemitraan Indonesia–Belanda yang telah terjalin lebih dari 25 tahun dapat semakin efektif dalam menghadapi krisis air dan memperkuat ketahanan nasional. (HRZ)
Baca Juga: Mengalirkan Air dari Selatan ke Utara: Solusi Ambisius Tiongkok Mengatasi Krisis Air
