JAKARTA, LINTAS – Akses jalan nasional di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai kembali normal setelah sempat terganggu akibat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan seluruh ruas jalan nasional yang terdampak longsoran telah kembali terbuka untuk mendukung mobilitas warga dan distribusi logistik.
Kondisi tersebut dilaporkan Menteri PU Dody Hanggodo kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi penanganan bencana yang dipimpin langsung Presiden di Posko Penanganan Bencana Alam Kabupaten Nagekeo, NTT, Rabu (26/8/2026).
Dody mengatakan pemulihan konektivitas menjadi salah satu prioritas Kementerian PU sejak gempa terjadi. Penanganan difokuskan pada pembukaan akses jalan yang tertutup material longsor serta pemulihan infrastruktur jalan dan jembatan yang mengalami kerusakan.
“Kami memang fokus utamanya adalah (pemulihan) jalan. Jadi mulai hari pertama itu, sesuai dengan bimbingan Kepala BNPB kami buka semua jalan nasional,” kata Dody.
Sebagian besar gangguan akses jalan terjadi akibat material longsor yang menutup badan jalan setelah gempa. Untuk mengantisipasi kemungkinan longsoran susulan, Kementerian PU menempatkan sejumlah alat berat, termasuk excavator, di titik-titik yang telah dipetakan sebagai kawasan rawan.
Langkah tersebut dilakukan agar material longsor dapat segera dievakuasi apabila terjadi gangguan lanjutan, mengingat aktivitas kegempaan masih perlu diwaspadai.

Jembatan Wae Pesi Diprioritaskan
Selain jalan nasional, Kementerian PU mempercepat penanganan sejumlah jembatan yang terdampak gempa, salah satunya Jembatan Wae Pesi di Kabupaten Manggarai.
Jembatan tersebut memiliki posisi strategis karena menjadi bagian dari akses yang menghubungkan Pelabuhan Reo dengan sejumlah wilayah di Manggarai. Jalur ini juga menjadi lintasan penting distribusi bahan bakar minyak (BBM).
“Jita sudah diwanti-wanti oleh Kepala BNPB dan Menko Pak Pratikno, jembatan ini harus diutamakan karena transportasi BBM lewat sini. Kemudian kita kerja siang-malam. Hari kedua, Alhamdulillah, jembatan sudah bisa fungsional,” ujar Dody.
Saat ini Jembatan Wae Pesi sudah dapat dilalui secara terbatas dengan sistem satu per satu. Kementerian PU juga telah melakukan pengujian dengan kendaraan pengangkut BBM bermuatan hingga 20 ton. Hasil pengujian menunjukkan jembatan masih mampu dilalui kendaraan dengan beban tersebut.
Pemulihan konektivitas menjadi penting tidak hanya untuk aktivitas masyarakat, tetapi juga untuk memastikan rantai pasok kebutuhan pokok, BBM, bantuan kemanusiaan, dan logistik ke wilayah terdampak tetap berjalan.
Distribusi Air Bersih Turut Ditangani
Penanganan pascagempa juga mencakup infrastruktur Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Sejumlah sumber air di wilayah terdampak mengalami gangguan setelah longsoran memengaruhi kondisi sungai dan sumber air masyarakat.
Kementerian PU melakukan verifikasi terhadap sumber-sumber air tersebut untuk menentukan langkah perbaikan. Sambil menunggu penanganan permanen, kebutuhan air bersih masyarakat dipenuhi melalui penyediaan hidran umum, mobil tangki air, serta toilet portabel.
Upaya ini dilakukan untuk menjaga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat selama proses pemulihan infrastruktur berlangsung.
Pulau Palue Jadi Perhatian Khusus
Pulau Palue di Kabupaten Sikka menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus Kementerian PU. Selain menghadapi dampak gempa, wilayah tersebut memiliki keterbatasan infrastruktur dasar, terutama akses jalan dan ketersediaan sumber air bersih.
Dody mengatakan sejumlah ruas jalan di Palue sempat tertutup longsoran. Kementerian PU kemudian mengirimkan dua alat berat untuk mempercepat pembukaan akses. Kendala transportasi laut membuat proses mobilisasi alat berat membutuhkan waktu lebih lama.
“Dari 10 longsoran, Alhamdulillah, sudah kita buka semua,” ujarnya.
Dalam peninjauan langsung ke Palue, Dody juga menemukan sejumlah ruas jalan yang telah cukup lama tidak mendapatkan preservasi. Kondisi tersebut akan menjadi bagian dari penanganan lanjutan melalui program preservasi jalan.
Persoalan air bersih juga menjadi perhatian utama. Sejumlah bak penampungan air hujan milik masyarakat mengalami kebocoran akibat guncangan gempa. Bak-bak tersebut akan diperbaiki agar kembali dapat digunakan, terutama untuk menghadapi kebutuhan air pada musim hujan.
Untuk jangka panjang, Kementerian PU berkoordinasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menjajaki pemanfaatan teknologi pengolahan air laut menjadi air tawar sebagai salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan air bersih di Palue.
“Jadi Palue ini, di samping jalan yang memang sudah lama tidak dipreservasi, kita akan preservasi juga. Kebutuhan mendasar air akan kita utamakan, sesuai dengan arahan Bapak Presiden bahwa di mana pun masyarakat kita, tidak boleh satu pun kita tinggalkan,” pungkas Dody. (CHI)
Baca Juga: KAI Properti Rampungkan Peningkatan Peron Stasiun Cikampek, Kini Lebih Mudah Diakses












