JAKARTA, LINTAS – Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh menandai babak baru dalam sejarah transportasi Indonesia. Lintasan sepanjang 142 kilometer itu memangkas waktu tempuh menjadi hanya 45 menit, dengan kecepatan hingga 350 kilometer per jam. Sebuah lompatan teknologi yang patut dibanggakan.
Namun, di balik prestise nasional tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kecepatan tinggi ini sejalan dengan keberlanjutan dan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat luas? Sebab, infrastruktur kelas dunia hanya bermakna bila benar-benar terhubung dengan kebutuhan riil warganya.
Menurut Pemerhati Transportasi Muhammad Akbar, sejak awal kehadirannya Whoosh lebih mencerminkan ambisi simbolik ketimbang menjawab kebutuhan mobilitas yang mendesak.
“Whoosh hadir bukan karena krisis transportasi Jakarta–Bandung, tetapi lebih pada keinginan menunjukkan bahwa Indonesia mampu sejajar dengan negara maju pemilik kereta cepat. Secara teknologi, ini luar biasa, tapi dari sisi kebutuhan masyarakat, belum sepenuhnya terjawab,” ujar Akbar dikutip Rabu (22/10/2025).
Akbar menilai, meski pencapaian teknologinya layak diapresiasi, pertumbuhan penumpang yang berjalan lambat menunjukkan adanya kesenjangan antara kecepatan dan kemanfaatan.

“Masalahnya bukan di kecepatannya, tapi di konektivitas dan relevansi dengan kebiasaan bepergian masyarakat. Kalau dari rumah ke stasiun dan ke tujuan akhir tetap butuh waktu lama, maka 45 menit di rel jadi kurang berarti,” katanya.
Cepat Tapi Tak Praktis
Whoosh hadir dengan segmentasi jelas—bukan untuk semua kalangan. Tarif premium dan lokasi stasiun yang jauh dari pusat kota, ditambah integrasi antarmoda yang belum optimal, membuatnya lebih cocok bagi segmen tertentu. Tak heran bila pelaju harian masih memilih travel, shuttle, atau bus antarkota yang lebih fleksibel dan ekonomis.
“Moda yang cepat belum tentu praktis. Pengguna harian lebih butuh kemudahan akses dan harga terjangkau daripada sekadar kecepatan tinggi,” lanjut Akbar.
Jumlah penumpang yang belum sesuai target juga berdampak pada kerugian operasional. Meski pemerintah menegaskan proyek ini tidak membebani APBN, konsorsium yang didominasi BUMN tetap berpotensi membawa dampak finansial tidak langsung bagi publik, mulai dari tertundanya proyek strategis lain hingga potensi permintaan Penyertaan Modal Negara (PMN).
Akbar menilai, penting bagi pemerintah menjaga transparansi dan memastikan manajemen proyek tetap efisien.
“Kereta cepat adalah proyek jangka panjang, tapi masyarakat tetap berhak tahu bagaimana kelangsungannya. Jangan sampai citra prestisius menutupi masalah keberlanjutan finansialnya,” ujarnya.
Saat Whoosh Menjawab dengan Mutu
Meski dibayangi tantangan keekonomian, mutu layanan Whoosh tetap diakui unggul. Kabin yang senyap, kursi ergonomis, ketepatan jadwal, dan keramahan awak menjadi standar baru transportasi darat nasional. Dalam persepsi publik, Whoosh kini melambangkan harapan bagi layanan publik yang lebih berkualitas.
Untuk memastikan keberlanjutan, Akbar menekankan pentingnya strategi jangka panjang yang fokus pada konektivitas dan integrasi moda.
“Lokasi Halim dan Tegalluar memang bukan di pusat kota, tapi itu bukan masalah kalau integrasinya baik. Perlu ada angkutan pengumpan yang nyaman, andal, dan sinkron jadwalnya. Tanpa itu, Whoosh akan sulit menjangkau pengguna harian,” katanya.
Selain integrasi, potensi pariwisata dan bisnis juga bisa menjadi kunci. Paket wisata terpadu seperti “Whoosh + Glamping Lembang” atau “Whoosh + Heritage Trip Asia-Afrika” bisa memperluas pasar. Sementara itu, kawasan Tegalluar dapat dikembangkan menjadi pusat konferensi atau meeting hub bagi perusahaan-perusahaan besar.
Jangan Biarkan Whoosh Jadi Barang Pajangan
Akbar menegaskan, kritik terhadap Whoosh bukanlah penolakan, melainkan dorongan agar proyek ini benar-benar berfungsi optimal.
Baca Juga: Elektrifikasi Jalur Kereta Api di Seluruh Indonesia Siap Diperluas
“Whoosh harus jadi moda transportasi publik yang hidup, bukan monumen teknologi. Kuncinya ada di keberanian memperbaiki konektivitas, efisiensi tarif, dan pendekatan yang lebih manusiawi terhadap pengguna,” tutupnya.
Pada akhirnya, masa depan Whoosh ditentukan oleh kemampuannya mendekatkan diri dengan masyarakat. Sebab, kecepatan tanpa kedekatan hanya akan menjadikannya cepat, canggih, tapi asing dari kebutuhan rakyat. (CHI)

























