Di bidang kedirgantaraan, Indonesia pernah berjaya. Lewat PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Indonesia memproduksi pesawat, saat itu dipelopori oleh BJ Habibie. Banyak negara, antara lain Venezuela, pernah menguji coba pesawat buatan Indonesia ini.
Tahun 2024 ini, PTDI merayakan HUT ke-48. Ironisnya, perusahaan milik negara ini, setelah terpuruk akibat krisis moneter tahun 1997-1998, sudah tidak lagi memproduksi pesawat. Padahal, produk PTDI ini sudah mendapatkan pengakuan dunia.
Terkait ketangguhan pesawat buatan PTDI ini, dari berbagai sumber, salah satunya dari video dari akun Youtube Analisis Militer, menunjukkan bagaimana pesawat CN-235 buatan PTDI bisa mengangkasa lagi dengan jarak hampir mengelilingi separuh Bumi. Catatan yang menarik adalah meskipun pesawat itu sudah lama tidak dioperasikan, tetapi lewat tekad besar dari teknisi PTDI, pesawat itu pun bisa kembali ke Tanah Air.
Kisah heroik teknisi Joko ini sangat terkenal dan menjadi pengingat bagi kejayaan PTDI di masa lalu. Lewat perayaan HUT ke-48 ini, ingatan kolektif kita bisa menginspirasi dan membangkitkan dunia kedirgantaraan Indonesia kembali.
CN-235
Pesawat CN-235 adalah pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan CASA Spanyol. Pesawat ini diproduksi sejak tahun 1983 dan digunakan oleh militer berbagai negara.
Selain digunakan untuk kepentingan militer, pesawat CN-235 juga digunakan untuk keperluan pesawat angkut sipil. Salah satu maskapai yang menyewa CN-235 untuk angkutan sipil adalah Air Venezuela. Maskapai ini menyewa 1 unit CN-235 pada tahun 1990-an.
Namun, krisis ekonomi pada tahun 1997-1998 mengakibatkan Air Venezuela mengalami kebangkrutan sehingga kontrak CN-235 tidak berlanjut. Bahkan, pesawat ini dibiarkan terparkir dan terbengkalai di bandar udara (Bandara) Maiquetía, Caracas, Venezuela, dikutip dari kanal YouTube Analisis Militer (12/5/2024).
PTDI yang merupakan pemilik pesawat CN-235 juga terdampak krisis ekonomi 1997-1998, membuatnya hampir tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, seiring bangkitnya PTDI, pada tahun 2001 PTDI menyusun rencana untuk memulangkan pesawat CN-235 itu dari Venezuela.

Tindak lanjut rencana itu, PTDI mengutus teknisi Joko Widadiyo ke Venezuela untuk melihat kondisi pesawat bekas sewa Air Venezuela itu dan mengurus administrasi untuk proses pemulangannya ke Indonesia.
Joko tiba di Bandara Maiquetía, Caracas, pada Desember 2001. Ia pun melihat kondisi pesawat CN-235 sangat buruk, tidak laik terbang. Mesin pesawat copot karena rusak, connector flight control banyak yang berkarat, cat kusam, dan hampir semua kursi penumpang dalam kondisi rusak. Meski begitu, tidak ditemukan keretakan pada badan pesawat sehingga masih bisa diperbaiki.
Joko pun kembali ke Indonesia. Ia mempersiapkan tim dan juga sejumlah suku cadang yang akan dibawa ke Venezuela untuk memperbaiki pesawat CN-235 tersebut. Kemudian, pada Februari 2002, Joko bersama sejumlah teknisi berangkat ke Venezuela untuk melaksanakan perbaikan tersebut.
Dalam beberapa hari, mesin pesawat berhasil diperbaiki dan dipasang kembali ke badan pesawat. Bagian pesawat yang berkarat pun diperbaiki dan dicat ulang. Sementara itu, urusan administrasi ditindaklanjuti oleh agen lokal yang ditunjuk oleh PTDI.
Setelah perbaikan selesai dan memastikan CN-235 sudah kembali laik terbang, Joko dan tim pulang ke Indonesia untuk mempersiapkan misi akhir, yakni membawa pulang pesawat CN-235.
Selanjutnya, pada Maret 2002, Joko dan rekannya Gendro Sulaksano berangkat ke Venezuela dengan misi membawa pulang CN-235. Sementara, untuk menerbangkan CN-235 dari Venezuela ke Indonesia, PTDI menyewa mantan pilot dan kopilot Air Venezuela yang sudah berpengalaman panjang menerbangkan pesawat ini.
Guna memastikan kondisi pesawat, pada 8 April 2002, pesawat diuji terbang di sekitar Bandara Maiquetía. Pesawat dapat terbang tanpa masalah apa pun. Hal ini membuat senang kedua teknisi PTDI tersebut. Mereka pun segera memuat semua barang-barang ke pesawat dan bersiap meninggalkan Caracas. Pukul 19.00 waktu setempat, pesawat CN-235 itu pun terbang meninggalkan Caracas menuju Maturin, kota kecil di sebelah timur Caracas.
Dari Maturin, 9 April 2002, keempat kru pesawat, Joko dan Gendro serta Carlos (pilot) dan Santiago (kopilot) bersiap melanjutkan perjalanan menuju Fortaleza, Brazil. Namun, perjalanan keempatnya terhenti karena Santiago (kopilot) melakukan kesalahan saat melakukan start mesin. Akibatnya, mesin pesawat tidak mau hidup dan baterai (aki) pesawat yang awalnya sudah lemah langsung drop.

Untuk menghidupkan mesin pesawat, diperlukan ground power, yakni pembangkit listrik untuk menghidupkan mesin pesawat. Namun, Bandara Maturin tidak memiliki ground power tersebut.
Tidak menyerah, kedua teknisi PTDI itu lantas mengisi aki pesawat di salah satu toko onderdil yang berada di sekitar bandara. Usaha mereka berhasil. Sore harinya, baterai pesawat telah terisi dan bisa menghidupkan mesin pesawat CN-235 sehingga siap terbang.
Namun, penerbangan diputuskan akan dilakukan esok harinya karena Carlos (pilot) keberatan untuk terbang di malam hari. Pasalnya, penerbangan menuju Fortaleza melintasi hutan belantara Amazon yang terkenal berbahaya.
Pada 10 April 2002, keempat kru pesawat akhirnya siap untuk terbang menuju Fortaleza. Mesin pesawat sudah dihidupkan dan siap untuk lepas landas. Akan tetapi, pihak otoritas penerbangan Venezuela melarang pesawat CN-235 terbang dengan pasal anti perdagangan obat terlarang. Penerbangan pun ditunda hingga agen PTDI di Caracas menyelesaikan kelengkapan dokumen anti perdagangan obat terlarang tersebut.
Tunggakan Pajak
Masalah ternyata belum usai bagi CN-235. Pagi hari 11 April 2002, ketika kru CN-235 sudah siap terbang, otoritas penerbangan Venezuela kembali tidak memberikan izin. Kali ini, Pemerintah Venezuela mendakwa pesawat CN-235 menunggak pajak sebesar 20.000 dollar AS atau sekitar Rp 300 juta dengan kurs Rp 15.000 per dollar AS.
Pajak ini seharusnya dibayarkan oleh Air Venezuela yang sudah bangkrut itu, bukan tanggung jawab PTDI. Meski begitu, untuk bisa membawa pesawat CN-235, PDTI harus melunasi tunggakan pajak ini. Karena itu, Joko dan tim terpaksa kembali ke Caracas untuk menyelesaikan urusan pajak ini dan meninggalkan pesawat di Maturin.
Setelah masalah pajak selesai hampir sebulan kemudian, pada 6 Mei 2002, Joko dan tim kembali ke Maturin. Di sana, mereka mendapati baterai pesawat soak akibat hampir sebulan tidak dinyalakan. Tak hanya itu, charger baterai juga hilang entah ke mana.
Para kru kembali harus bekerja keras. Mereka merangkai baterai darurat menggunakan beberapa baterai mobil, bahkan traktor agar menyerupai daya yang dibutuhkan oleh pesawat CN-235.
Usaha Joko dan tim mendapat simpati dan bantuan dari sejumlah petugas Bandara Maturin. Mereka mengantar Joko ke sejumlah pasar untuk mendapatkan aki yang diperlukan. Akhirnya, baterai darurat itu berhasil dibuat dan menyalakan mesin pesawat di awal starter.
Setelah masalah baterai teratasi, tanggal 9 Mei 2002, kru siap untuk terbang dari Bandara Maturin. Di hari itu, pesawat CN-235 meninggalkan Bandara Maturin diiringi lambaian tangan para petugas Bandara Maturin yang bersimpati kepada kru dan pesawat yang tertahan hampir sebulan di bandara itu.
Penerbangan dari Maturin ke Fortaleza, melintasi hutan Amazon yang berbahaya, berhasil ditempuh dalam waktu sembilan jam. Perjalanan berikutnya adalah dari Fortaleza ke Cape Verde, sebuah negara kepulauan di lepas pantai Barat Afrika. Selanjutnya, dari Cape Verde ke kepulauan Canary, Spanyol, di sebelah Barat lepas pantai Maroko. Penerbangan ini melintasi Samudra Atlantik.
Perjalanan CN-235 dari Fortaleza hingga ke Canary berjalan lancar tanpa hambatan. Masalah justru mereka hadapi ketika sudah mendarat di Canary. Pihak imigrasi Spanyol di Canary menahan Joko dan Gendro dengan alasan tidak memiliki izin visa memasuki wilayah Spanyol. Padahal, menurut Joko, penerbangan feri seperti itu seharusnya tidak perlu ada izin visa, dikutip dari Majalah Angkasa yang dilansir B.cari.com.my.
Akibat tiadanya visa, Joko dan Gendro pun dijebloskan ke penjara milik otoritas setempat selama dua hari. Hal yang sama mereka alami juga di perhentian berikutnya, di Palma de Mallorca.
Setelah penahanan karena ketiadaan visa berakhir, kru melanjutkan perjalanan dari Palma de Mallorca ke Kairo, Mesir. Lalu, dari Kairo ke Abu Dhabi, kemudian menuju Maldives, negara kepulauan di sebelah Selatan India. Maldives adalah persinggahan terakhir CN-235 sebelum akhirnya memasuki wilayah Indonesia melalui Kota Medan, Sumatera Utara.
Mengelilingi Separuh Bumi
Setelah menempuh penerbangan panjang dan banyak hambatan, pesawat CN-235 dan keempat awaknya akhirnya masuk wilayah Indonesia melalui Bandara Polonia, Medan, pada 17 Mei 2002. Penerbangan akhir CN-235 ke Bandara Husein Sastranegara dilakukan tanggal 18 Mei 2002. Kedatangan pesawat dan para awak ini disambut oleh para petinggi PTDI.
Perjalanan pulang pesawat CN-235 ke Indonesia memakan waktu 40 hari dan menempuh jarak separuh bumi. Banyak masalah dihadapi, tetapi akhirnya pesawat CN-235 dan seluruh awaknya berhasil kembali ke Indonesia dengan selamat.
Keberhasilan membawa pulang pesawat CN-235 ini membanggakan karena beberapa hal. Di antaranya, membuktikan keandalan teknisi Indonesia, membuktikan ketangguhan pesawat CN-235 buatan Indonesia, dan juga menjaga harga diri bangsa.
Selamat ulang tahun ke-48 PT Dirgantara Indonesia! (MSH)



















