JAKARTA, LINTAS – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan penanganan longsor di ruas Jalan Nasional Tetehosi–Lahusa, yang merupakan bagian dari ruas Jalan Nasional Gunungsitoli–Teluk Dalam–Lolowau di Pulau Nias, Sumatera Utara, tidak cukup dilakukan dengan memperbaiki titik longsor semata. Menurutnya, penanganan harus menyentuh akar penyebab kerusakan agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Saat meninjau langsung lokasi pada Sabtu (1/8/2026), Dody meminta seluruh proses penanganan dilakukan secara komprehensif melalui kajian teknis yang mendalam terhadap kondisi geologi, sistem drainase, serta pola pergerakan air bawah permukaan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menghasilkan solusi permanen yang mampu meningkatkan ketahanan infrastruktur dalam jangka panjang.
“Harapan saya penanganannya lebih komprehensif. Kita cek dulu lebih mendalam baru kita tangani. Harus diketahui dulu bagaimana kondisi resapan airnya sehingga solusi yang dibangun benar-benar menyelesaikan persoalan,” kata Dody dikutip Minggu (2/8/2026).
Jalur Utama
Ruas Jalan Nasional Gunungsitoli–Teluk Dalam–Lolowau sepanjang sekitar 41 kilometer merupakan jalur vital yang menghubungkan wilayah Nias dengan Nias Selatan. Jalan tersebut menjadi jalur utama mobilitas masyarakat, distribusi logistik, akses layanan kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi antardaerah.
Namun, tingginya curah hujan, kondisi topografi yang didominasi perbukitan, serta sistem drainase yang belum optimal menyebabkan sejumlah titik di ruas tersebut rawan mengalami longsor dan genangan, sehingga mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Dalam peninjauan tersebut, Dody menilai penyebab utama kerusakan bukan hanya berasal dari lereng yang longsor, tetapi juga akibat aliran air yang terus menggerus lapisan tanah di bawah badan jalan.
Karena itu, sebelum pekerjaan permanen dilaksanakan, Kementerian PU akan melakukan investigasi teknis untuk mengetahui karakteristik tanah, kedalaman lapisan resapan air, hingga pola aliran air bawah permukaan sebagai dasar penyusunan desain penanganan
Titik Prioritas
Hasil investigasi tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan metode penanganan yang paling tepat, mulai dari pembangunan struktur penahan lereng, perbaikan sistem drainase permukaan maupun bawah permukaan, penguatan badan jalan, hingga pengendalian aliran air yang selama ini menjadi penyebab utama terjadinya gerusan tanah.
Pendekatan tersebut akan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing lokasi sehingga penanganan tidak lagi bersifat sementara atau tambal sulam, melainkan mampu meningkatkan ketahanan jalan nasional terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.
Sebagai langkah awal, Kementerian PU telah memulai penanganan pada sejumlah titik prioritas guna memastikan akses masyarakat tetap dapat dilalui dengan aman. Secara paralel, perbaikan saluran drainase di sisi kanan dan kiri jalan juga akan dilakukan, termasuk pembangunan gorong-gorong tambahan pada titik-titik yang membutuhkan untuk mengurangi volume air yang masuk ke badan jalan.
Selain upaya teknis, Dody mengajak masyarakat turut berperan menjaga fungsi infrastruktur yang telah dibangun. Ia mengimbau agar saluran drainase dan gorong-gorong tidak ditutup maupun dijadikan tempat pembuangan sampah karena kondisi tersebut kerap menjadi penyebab terjadinya genangan dan mempercepat kerusakan jalan.
“Kerusakan jalan sering kali dipicu oleh saluran air yang tersumbat sehingga air melimpas ke badan jalan dan menggerus struktur di bawahnya. Karena itu, menjaga kebersihan dan fungsi drainase menjadi tanggung jawab bersama,” pungkas Dody. (CHI)
Baca Juga:Usai Hanyut Diterjang Banjir, Jembatan Gantung Sikundo Aceh Dibangun Lebih Aman dan Tangguh















