JAKARTA – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk memastikan hasil 10th World Water Forum di Bali tidak berhenti sebagai deklarasi semata. Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Indonesia membawa empat inisiatif strategis sebagai langkah nyata memperkuat agenda pengelolaan sumber daya air dunia menuju 11th World Water Forum yang akan berlangsung di Riyadh, Arab Saudi, pada 21–25 Maret 2027.
Komitmen tersebut disampaikan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo saat memberikan keynote speech dalam 2nd Stakeholder Consultation Meeting (SCM) di Jeddah, Arab Saudi, Minggu (28/6/2026), yang menjadi bagian dari rangkaian persiapan forum air terbesar di dunia tersebut.
Empat inisiatif yang diusung Indonesia meliputi World Lake Day, Center of Excellence for Water and Climate Resilience, Integrated Water Resources Management (IWRM) on Small Islands, serta Water Warrior sebagai pengembangan dari semangat Bali Youth Water Prize.
Menurut Menteri Dody, berbagai kesepakatan yang telah dicapai dalam World Water Forum ke-10 di Bali harus diwujudkan menjadi aksi konkret yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di seluruh dunia.
“Dari Bali dengan tema Water for Shared Prosperity menuju Riyadh dengan tema Action for a Better Tomorrow, World Water Forum harus terus melanjutkan keberhasilan yang telah dibangun. Komitmen yang kita sepakati harus diwujudkan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” tutur Dody.


Ia menjelaskan, Deklarasi Menteri pada World Water Forum ke-10 telah menghasilkan sejumlah komitmen penting, mulai dari penyediaan air minum dan sanitasi yang aman, pengelolaan sumber daya air terpadu, adaptasi terhadap perubahan iklim, pengurangan risiko bencana, pembiayaan berkelanjutan, perlindungan ekosistem, hingga peningkatan keterlibatan generasi muda dalam isu air global.
Tawarkan Empat Program
Sebagai tindak lanjut, Indonesia menawarkan empat program unggulan yang diharapkan dapat menjadi bagian dari implementasi agenda tersebut.
Program pertama adalah World Lake Day, yang bertujuan meningkatkan kesadaran internasional sekaligus memperkuat tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian danau sebagai sumber kehidupan dan penyangga ekosistem.
Inisiatif kedua ialah Integrated Water Resources Management (IWRM) on Small Islands, yang difokuskan pada penguatan pengelolaan sumber daya air secara terpadu di pulau-pulau kecil agar mampu meningkatkan ketahanan air sekaligus memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim.
Selanjutnya, Indonesia mendorong pengembangan Center of Excellence for Water and Climate Resilience sebagai pusat unggulan yang menjadi wadah pengembangan kapasitas, pertukaran pengetahuan, inovasi, riset, serta kerja sama internasional dalam bidang pengelolaan sumber daya air dan sanitasi.
Sementara itu, melalui Water Warrior, Indonesia ingin memperluas keterlibatan generasi muda dalam menghadirkan berbagai solusi inovatif untuk menjawab tantangan pengelolaan air di masa depan. Program ini merupakan kelanjutan dari Bali Youth Water Prize yang diperkenalkan pada World Water Forum ke-10.
Dody menilai tantangan pengelolaan air global semakin kompleks. Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) ke-6, yakni memastikan akses terhadap air minum yang aman dan sanitasi layak bagi seluruh masyarakat, masih menghadapi berbagai hambatan.
Perubahan Iklim
Di sisi lain, perubahan iklim, meningkatnya tekanan terhadap sumber daya air, konflik, pertumbuhan penduduk, hingga meningkatnya kebutuhan air dari berbagai sektor terus memperbesar tantangan yang dihadapi dunia Karena itu, menurutnya, kolaborasi internasional menjadi faktor utama dalam mewujudkan berbagai komitmen menjadi aksi nyata.
“Kemajuan agenda air dunia merupakan kerja bersama seluruh bangsa. Tidak ada satu negara pun yang mampu menjawab tantangan ini sendirian. Karena itu, kolaborasi internasional harus terus diperkuat agar setiap komitmen dapat diwujudkan menjadi solusi nyata,” kata Dody.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Indonesia juga mengajak Pemerintah Arab Saudi, World Water Council, seluruh negara peserta, serta para mitra pembangunan untuk memperkuat kerja sama melalui pertukaran pengetahuan, pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas kelembagaan, penyiapan proyek, hingga dukungan pembiayaan yang berkelanjutan.
Menurut Dody, keberhasilan agenda air global tidak hanya ditentukan oleh lahirnya berbagai kesepakatan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pihak dalam mengimplementasikannya secara terukur.
“Fokus kita sekarang adalah memastikan seluruh komitmen yang telah disepakati menjadi program yang dapat dilaksanakan, memiliki target yang terukur, kelembagaan yang kuat, serta pembiayaan yang berkelanjutan. Dengan demikian, manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (CHI)
Baca Juga: Jembatan Bailey Kutablang Aceh Diperbaiki, Kualitas Konstruksi Jadi Prioritas















