Home Berita Melihat Perkembangan Transportasi Kereta Api di Depo Sidotopo Surabaya

Melihat Perkembangan Transportasi Kereta Api di Depo Sidotopo Surabaya

Share

JAKARTA, LINTAS — Depo Sidotopo, yang terletak di Jalan Sidotopo Lor No. 2, Surabaya, Jawa Timur, adalah fasilitas perawatan kereta api milik KAI yang telah beroperasi sejak tahun 1923. Dengan sejarah yang panjang dan penuh perjuangan, depo ini menjadi saksi bisu perkembangan transportasi kereta api di Indonesia.

Dilansir dari keterangan tertulis di laman resmi PT KAI, Sabtu (21/10/2023), disebutkan, pada era Hindia Belanda, pemerintah mendirikan Staatsspoorwegen (SS) 148 tahun lalu, tepatnya pada 6 April 1875, untuk menghubungkan Surabaya-Pasuruan-Malang melalui jalur kereta api. Jalur ini dibuka pada 16 Mei 1878 dan selesai sepenuhnya pada tahun 1879.

Awalnya, semua perawatan kereta dan depo lokomotif berpusat di Stasiun Surabaya Kota atau Stasiun Semut. Namun, seiring berkembangnya jaringan kereta api dan peningkatan jumlah serta ukuran lokomotif, dibutuhkan fasilitas perawatan yang lebih besar. Maka pada tahun 1918, diputuskan untuk membangun depo lokomotif baru di Sidotopo.

Dalam waktu tiga tahun, wilayah Sidotopo yang dulunya adalah sawah dan rawa-rawa berubah menjadi kawasan depo seluas lebih dari 80 hektar. Depo ini bahkan menjadi depo terbesar di Asia pada masanya.

Saksi Pertempuran

Setelah kemerdekaan Indonesia, Stasiun Sidotopo menjadi saksi pertempuran antara pejuang kemerdekaan dan tentara Sekutu selama bulan Agustus-November 1945 di Kota Surabaya. Pejuang yang tergabung dalam organisasi Pemuda Republik Indonesia (PRI) Utara mempertahankan daerah sekitar Jatipurwo yang dekat dengan Stasiun Kereta Api Prince Hendrik.

Sampai saat ini, Depo Sidotopo masih berfungsi sebagai tempat perawatan dan perbaikan lokomotif, kereta, dan gerbong. Di sana juga dilakukan perawatan rangkaian KA Commuter Line Tumapel, Line Jenggala, Line Supas, Line Dhoho, dan Penataran. Meski telah mengalami beberapa renovasi, bangunan-bangunan asli yang dibangun sejak tahun 1923 tetap dipertahankan, menjadikannya sebuah lokasi yang sangat otentik. (MDF)

Baca Juga: PT KAI Dorong Penutupan Pelintasan Sebidang yang Membahayakan Masyarakat

Oleh:

Share

ARTIKEL TERKAIT