JAKARTA, LINTAS – Teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang dilakukan pada 26-28 Agustus 2023 dinilai berhasil dan signifikan mengurangi polusi udara di Jabodetabek. TMC, yang merupakan kolaborasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BNPB, serta TNI-AU, membuahkan hasil dengan turunnya hujan di Kota Bogor, Tangerang, dan Jakarta.
Demikian disampaikan Koordinator Laboratorium Pengelolaan TMC di lingkungan BRIN Budi Harsoyo, yang dihubungi Majalahlintas.com, Selasa (28/8/2023).
”Berdasarkan data, hujan yang turun di wilayah Jabodetabek menunjukkan keberhasilan yang cukup sifnifikan dari operasi TMC yang telah dilakukan. Bahkan, di Kota Bogor pada 27 Agustus 2023 terjadi hujan yang cukup lebat sampai di atas 100 mm per 2 jam. Normalnya hujan pada musim kemarau berkisar 150 mm per bulan. Demikian pula hujan yang turun di wilayah DKI Jakarta dan Tangerang,” kata Budi.
Budi mengatakan, pelaksanaan TMC melibatkan beberapa instansi pemerintah. BNPB berperan dalam segi pembiayaan, BRIN bertugas sebagai pelaksana sekaligus penguasaan teknologinya dan BMKG lebih pada aspek pengamatan cuaca termasuk kondisi awan saat pelaksanaan serta TNI-AU berperan dalam penyediaan armada pesawat berikut kru.
“Sebagai wahana untuk armada penyemaian awan menggunakan bahan semai garam (NaCl) beserta fasilitas pendukung pos komando (posko) operasi yang mengambil tempat di Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma Jakarta,” katanya.

Pelaksanaan TMC, kata Budi, sangat bergantung pada kondisi awan serta arah dan energi angin.
“Hasil pengamatan BMKG pada 26-28 Agustus, khususnya di wilayah Jabodetabek, menunjukkan adanya peluang timbulnya awan potensial yang dapat dioptimalkan menghasilkan hujan,” ujarnya.
Setelah berkoordinasi dengan TNI-AU terkait pengadaan pesawat Casa yang dimodifikasi khusus untuk operasi TMC, kemudian dipersiapkanlah bahan semai berupa NaCl yang akan digunakan untuk disemai dalam awan.
Menurut Budi, efektivitas hujan buatan yang telah dilakukan dalam mengatasi polusi udara telah dinyatakan membuat kualitas udara membaik oleh Menteri LHK seusai rapat terbatas membahas polusi udara Jakarta di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin 28 Agustus 2023.
Angka ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara) menurun tajam dari 97 menjadi 29 pada pukul 18.30 setelah hujan berhenti pada pukul 15.30.
Polusi di Jabodetabek
Terkait polusi udara di Jabodetabek, Presiden Jokowi kepada media, Rabu (30/8/2023), mengatakan, di sela-sela kunjungannya ke SMK Negeri di Kota Semarang, Jawa Tengah, perlu kerja total semua pihak dalam mengatasi persoalan polusi udara.
Presiden mengimbau agar ada perpindahan dari transportasi pribadi ke transportasi publik atau transportasi massal. Ia juga meminta agar dilakukan penanaman pohon sebanyak-banyaknya di halaman kantor-kantor.
“Kantor yang memang belum ada pohonnya juga (perlu) diwajibkan dan diharuskan menanam pohon,” kata Presiden.
Selain itu, Presiden menegaskan, pihak yang terbukti menjadi penyebab polusi udara akan diberi sanksi berat.
Direktur Transportasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Ikhwan Hakim, kepada Majalahlintas.com, mengatakan, mengutip data Vital Statistic DKI Jakarta, polutan 67 persen berasal dari sektor transportasi, industri (26,8 persen) dan pembangkit listrik (power plant) sebesar 5,7 persen.
Sementara itu, berdasarkan data surveilans kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Jabodetabek yang dirilis Kementerian Kesehatan, hingga pertengahan 2023 jumlahnya rata-rata melebihi 100.000 kasus per bulan. Pada Agustus 2023, terdata melonjak dua kali lipat menjadi 200.000 kasus.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, ada enam penyakit gangguan pernapasan yang diderita masyarakat, yaitu pneumonia,
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, kanker paru, tuberkulosis dan penyakit paru obstuksi kronis. Beban BPJS akibat keenam penyakit gangguan pernapasan itu mencapai Rp 10 triliun.
Penelusuran Majalahlintas.com, di DKI Jakarta, upaya mengurangi polusi udara, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan penyiraman air dari atas gedung-gedung tinggi menggunakan pompa bertekanan tinggi. Dari siaran pers, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, penyiraman menjadi salah satu upaya jangka pendek untuk mengurangi pencemaran udara menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-43 ASEAN di Jakarta, 5-7 September 2023.
Upaya lain, yakni ASN bekerja dari rumah selama beberapa waktu serta kewajiban bagi ASN untuk naik angkutan umum pun diberlakukan. Sementara uji emisi kendaraan bermotor juga sudah mulai digalakkan. (MAL/HRZ)





















