Di Pulau Nias, ada jalan yang dulu tak begitu dikenal. Jalur buntu dan penuh tantangan itu, kini menjadi jalan primadona. Namanya Jalan Sirombu–Afulu. Panjangnya hanya 26 kilometer, tetapi maknanya kini lebih dari sekadar lintasan: ia telah menjadi penghubung kehidupan, ekonomi, dan bahkan kebahagiaan. Mengakhiri keterisolasian di Kabupten Nias Utara dan Nias Barat.
Jalan ini membelah pemandangan pesisir barat Nias dengan cara yang memukau. Di satu sisi, laut Samudra Hindia membentang biru dan tak berujung. Di sisi lain, deretan pohon kelapa berdiri tenang di bawah langit tropis. Sinar matahari pagi menari di atas aspal hitam yang mulus, menyapa setiap kendaraan yang melintas.
Peristiwa ambruknya Jembatan Oyo di Kecamatan Moi, Nias Barat, membuat perbedaan belakangan ini. Jembatan itu sebelumnya menjadi akses utama warga dari Kota Gunungsitoli menuju wilayah barat. Kini, ketika hujan turun dan jalur darurat tak bisa dilalui, semua mata beralih ke satu-satunya alternatif yang paling bisa diandalkan: jalan Sirombu–Afulu. Warga memang sedikit berlelah melalui jalan berliku, tetapi aman.

Namun, jalan ini tak hanya menjawab soal kebutuhan logistik dan mobilitas. Ia menyuguhkan sesuatu yang lebih dari sekadar jalur transportasi. Ia menawarkan pengalaman sekan melewati jalan tol. Betapa tidak, penampakan jalannya di beberapa tempat terbentang lurus. Tidak mengherankan jika warga begitu menikmati kenyamanan berkendara sambil menghela udara laut Samudra Hindia.
“Kalau hari Sabtu dan Minggu sore, ramai sekali. Banyak warga datang hanya untuk duduk-duduk, foto-foto, atau menunggu matahari tenggelam,” tutur Ferry, Kepala Teknik dari kontraktor pelaksana proyek.
Menurut Ferry, sejak jalan ini mulus dan nyaman dilalui, warga tak lagi melihatnya sekadar tempat lewat. Jalan ini telah berubah menjadi ruang publik terbuka yang hidup. Mobil-mobil keluarga datang membawa anak-anak, remaja berboncengan sepeda motor, dan orangtua yang sekadar ingin menghirup udara pantai nan segar.

Geliat Ekonomi
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.6 Sumatera Utara Konverman Berkat Zebua yang membersamai kunjungan Lintas, Rabu (30/7/2025), mengatakan, di sepanjang jalur Sirombu-Afulu, geliat ekonomi sudah mulai terasa.
“Restoran-restoran lokal tumbuh. Restoran Cemara, misalnya, baru saja dibuka sejak jalan ini sudah mulai diakses. Lokasinya strategis, makanannya menggugah selera, dan menawarkan panorama laut,” ujar Cove, panggilan Konverman.

Bersama Restoran RPJ, keduanya menjadi titik-titik persinggahan favorit warga, pelancong lokal, bahkan sejumlah tamu dari luar daerah.
Tak heran jika jalan ini kini disebut-sebut sebagai primadona baru di Pulau Nias. Ia bukan hanya menggantikan peran jalur lama, tapi juga menciptakan wajah baru bagi kawasan Afulu dan Sirombu. Dibangun melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD) dengan skema kontrak tahun jamak selama tiga tahun, jalan ini adalah hasil dari perencanaan panjang dan kerja lapangan yang tak kenal lelah.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya tuntas. Jalan ini masih gelap ketika malam tiba. Belum ada penerangan jalan sehingga warga yang melintas selepas matahari tenggelam harus ekstra hati-hati.
Kini, setiap kali matahari terbenam di ufuk barat Nias, cahaya keemasan jatuh di atas Jalan Sirombu–Afulu. Dan saat itu pula, jalan ini bukan sekadar lintasan, tetapi menjadi saksi dari bagaimana infrastruktur bisa mengubah nasib dan membangkitkan harapan baru bagi Nias. (HRZ)
Baca Juga: Sah, Jalan Lingkar Nias Akhirnya Mulai Dikerjakan

























