JAKARTA, LINTAS – Melalui Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), Kementerian PUPR merampungkan penataan Kawasan Tepi Air Puday-Lapulu, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, sebagai destinasi wisata ikonik.
“Penataan kawasan kumuh jangan hanya mengerjakan fisik yang sifatnya terbatas, tapi perlu perencanaan serta penataan yang komprehensif. Sehingga permukiman kumuh dapat ditangani dengan tuntas, melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.
Peningkatan kualitas permukiman pada kawasan seluas 14,7 hektar tersebut dilakukan oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sulawesi Tenggara, Direktorat Jenderal Cipta Karya. Pekerjaan dimulai pada 15 September 2021 dan telah selesai pada Desember 2022, sehingga saat ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat.

Plt. Kepala BPPW Sulawesi Tenggara Kementerian PUPR Kusumawardhani, dikutip dari rilis pers Kementerian PUPR, Sabtu (30/12/2023), berharap, keberadaan Kotaku Puday-Lapulu dapat terus dijaga sehingga senantiasa menjadi kawasan yang tidak kumuh.
“Harapan kami infrastruktur ini harus dijaga dan terus terpelihara oleh kelompok masyarakat dan pemanfaat secara berkesinambungan di Kota Kendari. Sehingga tetap bersih dan terpelihara dengan baik,” ujarnya.

Lingkup pekerjaan kawasan meliputi, Pengaspalan Jalan, Penataan Jalan dan Tangga Dermaga Waterfront City, Jalan Setapak, Ruang Terbuka Hijau (RTH), Tambatan Perahu Masyarakat hingga MCK, dengan nilai kontrak Rp 51 milliar.
Kawasan yang berdekatan dengan Jembatan Teluk Kendari ini juga akan ditata dengan pembangunan Sculpture dan Letter Kota, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal, Area Perbaikan Jaring Nelayan, Tempat Pengeringan Ikan, Gerbang Utama, dan Area Parkiran.

Kini tempat Kawasan Tepi Air Puday-Lapulu ini menjadi ruang publik yang didatangi banyak warga untuk sekadar berolahraga dan bersantai. (HRZ)
Baca Juga: Ada Aek Margondang di Waterfront City Pangururan



















