Home Berita Jelang Nataru 2025/2026, ASDP Perkuat Operasi Terintegrasi di Tiga Lintasan Penyebarangan Ini

Jelang Nataru 2025/2026, ASDP Perkuat Operasi Terintegrasi di Tiga Lintasan Penyebarangan Ini

Share

JAKARTA, LINTAS — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan kesiapan penuh menghadapi Masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 melalui penguatan operasi terintegrasi di tiga lintasan utama: Merak–Bakauheni, Ketapang–Gilimanuk, serta jalur-jalur pendukung yang menopang mobilitas nasional.

Upaya ini dilakukan untuk menjamin keselamatan pengguna jasa sekaligus menjaga kelancaran arus kendaraan pada salah satu periode perjalanan tersibuk setiap tahun.

Direktur Operasi & Transformasi ASDP, Rio Lasse, menjelaskan bahwa dinamika pergerakan masyarakat pada Nataru tahun ini semakin kompleks sehingga dibutuhkan pengelolaan berbasis data dan respons cepat di lapangan.

Digitalisasi menjadi kunci, terutama melalui Ferizy yang mengatur alur perjalanan sejak calon penumpang berada di rumah. “Dengan Ferizy, pengendalian antrean jauh lebih terukur sehingga keselamatan dan kelancaran dapat lebih terjamin,” ujarnya.

Penguatan Armada

Menurut Rio, ASDP memastikan pelaksanaan aturan pemerintah terkait pembatasan area pembelian tiket agar tidak ada kendaraan yang berhenti di sekitar pelabuhan. Selain itu, delaying system diperkuat melalui penyanggahan kendaraan di rest area dan jalan arteri sebelum memasuki Pelabuhan Merak dan Bakauheni.

Ia menambahkan, pada lintasan Merak–Bakauheni, ASDP menyiagakan hingga 47 kapal ferry yang mampu melayani sekitar 25.000 kendaraan per hari di tujuh dermaga. Pelabuhan pendukung seperti Ciwandan dan BBJ Bojonegara juga disiapkan untuk membantu distribusi arus kendaraan dan logistik selama periode puncak.

Sementara itu, pada lintasan Ketapang–Gilimanuk, ASDP bersama regulator menyiapkan 28–33 kapal yang akan dioperasikan sesuai kebutuhan. Kapasitas dermaga turut diperkuat, termasuk penambahan dermaga LCM di Gilimanuk yang dapat menampung tambahan sekitar 2.000 kendaraan kecil. ASDP juga mendukung kebijakan pembatasan kendaraan sumbu tiga ke atas pada 19 Desember 2025 – 4 Januari 2026.

Pengalihan Arus dan Mitigasi Cuaca

Selain itu sambung Rio, pengaturan prioritas diberikan kepada sepeda motor, kendaraan kecil, dan bus yang memiliki sensitivitas perjalanan lebih tinggi. Buffer zone seperti Terminal Sri Tanjung dan Grand Watu Dodol di Banyuwangi, serta Terminal Kargo, UPPKB Cekik, Rambut Siwi, dan Pengeragoan di Gilimanuk telah disiagakan untuk mengendalikan volume kendaraan.

Rio menyebut sebagian arus logistik akan dialihkan menuju Lombok melalui Pelabuhan Jangkar dan Lembar untuk mengurangi tekanan lalu lintas di Bali. Di sisi lain, SOP keselamatan diperketat menyusul prediksi cuaca ekstrem dari BMKG, terutama angin kencang dan gelombang tinggi yang sering terjadi di Selat Bali menjelang akhir tahun.

Pergerakan Meningkat 4 Persen

Sementara itu Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Aan Suhanan, menyampaikan bahwa operasi Nataru harus dikelola secara luar biasa, bukan hanya rutinitas tahunan.

Pemerintah telah memastikan layanan terdistribusi melalui tiga pelabuhan di Merak dan tiga pelabuhan di Bakauheni, diperkuat pengawasan keselamatan dan rekayasa lalu lintas. Pergerakan masyarakat pada Nataru 2025/2026 diperkirakan meningkat lebih dari 4 persen dibanding tahun sebelumnya.

Dengan potensi cuaca ekstrem, lonjakan volume kendaraan, dan kebutuhan logistik yang tetap berjalan, ASDP memaksimalkan seluruh sumber daya—mulai dari armada, SDM, sistem digital Ferizy, hingga monitoring real-time di seluruh simpul pergerakan. Koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk memastikan respons cepat saat terjadi dinamika operasional.

Lebih lanjut kata Rio, ASDP optimistis layanan penyeberangan pada Nataru 2026 akan berjalan aman, lancar, dan terkendali di seluruh lintasan kunci Sumatera–Jawa–Bali.

Memperkuat Koordinasi

“ASDP berdiri di garis terdepan untuk menghadirkan perjalanan yang selamat dan nyaman bagi masyarakat. Kami terus memperkuat koordinasi dan pelayanan agar mobilitas publik dan distribusi logistik berjalan tanpa hambatan,” tutur Rio.

Pengamat Transportasi Universitas Soegijapranata, Djoko Setijowarno, mengapresiasi penguatan delaying system yang dinilai efektif mengendalikan kepadatan di akses menuju Bakauheni dan yang akan diperkuat di Merak serta Ketapang–Gilimanuk.

Ia juga mendorong pengaturan arus logistik yang lebih dinamis agar pergerakan barang dan penumpang tetap seimbang. (CHI)

Baca Juga: Maskapai TransNusa Resmi Terbang Harian Jakarta–Penang, Segini Harganya

Oleh:

Share