Minggu, 10 Mei 2026, menjadi salah satu perjalanan yang paling membekas bagi tim Majalah Lintas. Setelah menyelesaikan rangkaian tugas peliputan di Malang, kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju salah satu kawasan alam paling menakjubkan di Indonesia, yakni Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Perjalanan menuju kawasan ini terasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Udara mulai berubah semakin sejuk ketika kendaraan kami meninggalkan keramaian kota dan menembus jalur pegunungan menuju Cemoro Lawang. Jalur dari Probolinggo memang dikenal sebagai rute paling mudah dan aman menuju Gunung Bromo.
Selain akses jalan yang relatif nyaman, sepanjang perjalanan mata juga dimanjakan oleh panorama lereng pegunungan yang perlahan muncul di balik kabut sore.
Sebelum tiba di kawasan Bromo, kami sempat berdiskusi dengan Yoni Astuti, seorang pemandu wisata yang cukup dikenal di kawasan tersebut. Ia menyarankan agar kami menginap di salah satu hotel terbaik di wilayah Cemoro Lawang yang memiliki panorama langsung menghadap kawasan Bromo Tengger Semeru. Saran itu ternyata menjadi keputusan yang sangat tepat.
Menjelang malam, suhu di Cemoro Lawang turun cukup drastis. Dari balkon hotel, hamparan kabut tipis perlahan menutupi lembah, sementara siluet gunung terlihat samar diterangi cahaya bulan. Suasana tenang khas pegunungan membuat malam terasa begitu damai, seolah alam sedang mempersiapkan pertunjukan terbaiknya menjelang pagi.
Tepat pukul 03.00 WIB pada Senin dini hari, 11 Mei 2026, petualangan dimulai. Sebuah Jeep Hartop merah telah menunggu di depan hotel. Kendaraan klasik itu dikemudikan oleh Mas Pon, pemandu lokal yang sudah sangat hafal medan kawasan Bromo. Dengan udara dingin yang menusuk dan langit penuh bintang, Jeep perlahan menembus jalur berbatu menuju titik pertama, yakni Bukit Cinta.

Bukit Cinta
Perjalanan menuju Bukit Cinta menghadirkan sensasi tersendiri. Lampu-lampu Jeep dari berbagai arah terlihat seperti iring-iringan kunang-kunang yang bergerak di tengah gelapnya pegunungan. Setelah menempuh perjalanan menanjak, kami akhirnya tiba di salah satu titik terbaik menikmati matahari terbit di kawasan Bromo.
Dari Bukit Cinta, panorama alam terbentang begitu sempurna. Di depan tampak gagah Gunung Batok dengan bentuknya yang unik dan artistik. Di sisi kiri berdiri Gunung Bromo yang masih mengeluarkan asap tipis dari kawahnya. Sementara di kejauhan, Gunung Semeru terlihat megah sebagai latar belakang utama.
Perlahan, cahaya keemasan mulai muncul dari balik cakrawala. Langit yang semula gelap berubah menjadi gradasi jingga, merah muda, dan biru. Suasana hening seketika berubah menjadi decak kagum para pengunjung yang menyaksikan matahari terbit dari negeri di atas awan. Momen itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.
Setelah menikmati sunrise, perjalanan dilanjutkan turun menuju lautan pasir di kaki Gunung Batok. Jeep melintasi jalur berdebu khas kaldera Bromo yang luas dan eksotis. Di kawasan ini, banyak wisatawan berhenti untuk mengabadikan momen dengan latar dinding Gunung Batok yang memiliki tekstur alami menyerupai pahatan raksasa.
Pasir Berbisik
Perjalanan kemudian berlanjut menuju kawasan Pasir Berbisik. Hamparan pasir hitam yang luas menciptakan suasana dramatis khas pegunungan vulkanik. Angin yang bertiup membawa butiran pasir halus hingga menimbulkan suara lirih menyerupai bisikan, asal mula kawasan ini dikenal dengan nama Pasir Berbisik. Jeep merah yang kami tumpangi tampak kontras di tengah bentang alam tersebut, menghadirkan suasana yang begitu sinematik.


Dari sana, Mas Pon membawa kami menuju kawasan savana yang dikenal sebagai Bukit Teletubbies atau sering juga disebut Bukit Marlboro oleh masyarakat setempat. Perbukitan hijau membentang luas dengan kontur bergelombang yang indah. Udara segar dan panorama alam terbuka menjadikan tempat ini terasa sangat berbeda dibandingkan kawasan pasir sebelumnya.
Menjelang siang, perjalanan Jeep akhirnya usai. Kami kembali ke hotel untuk sarapan, membersihkan diri, sekaligus bersiap melanjutkan tugas berikutnya. Namun sebelum meninggalkan kawasan Bromo, ada satu kesan yang tertinggal begitu kuat: kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan sebuah perjalanan rasa yang menghadirkan ketenangan, kekaguman, dan pengalaman yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Dari dinginnya udara dini hari, lautan pasir yang eksotis, hingga matahari terbit yang perlahan menyinari pegunungan, semuanya menjadi bagian dari cerita perjalanan Majalah Lintas sebelum kembali melanjutkan tugas peliputan pembangunan ruas akhir Tol Trans Jawa, yakni Probolinggo–Banyuwangi. (PAH/SAL/ROY)
Baca Juga: Libur Panjang 14-17 Mei 2026, Penumpang KAI Tembus 196 Ribu per Hari

























