BIREUEN, LINTAS – Banjir bandang yang melanda kawasan Lintas Tengah Aceh menyebabkan terputusnya akses jalan nasional pada ruas Kota Bireuen–Takengon. Dampak terparah terjadi di Jembatan Teupin Mane, Kabupaten Bireuen, yang ambruk akibat derasnya arus Sungai Teupin Mane. Akibat kejadian tersebut, konektivitas antarwilayah pesisir dan dataran tinggi Gayo terhenti total.
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Heri Yugiantoro, menyampaikan bahwa penanganan darurat langsung dilakukan untuk memulihkan akses jalan nasional yang terdampak. Menurutnya, jalur tersebut merupakan akses vital bagi mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
“Penanganan darurat kami lakukan secepat mungkin agar akses jalan dan jembatan yang terdampak segera pulih, terutama jalur utama yang sangat vital bagi masyarakat,” ujar Heri.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.6 Satker PJN 3 Provinsi Aceh, Febyan Lesmana, menjelaskan Jembatan Teupin Mane merupakan bagian dari jalan nasional strategis yang menghubungkan Kabupaten Bireuen dengan Kabupaten Bener Meriah hingga Kota Takengon, Aceh Tengah. Putusnya jembatan ini mengakibatkan terhentinya arus lalu lintas darat, baik untuk mobilitas masyarakat maupun distribusi logistik dan bantuan kemanusiaan.
Jalur Utama Penghubung
Ia menegaskan, jembatan tersebut memiliki peran krusial sebagai jalur utama penghubung wilayah pesisir dengan dataran tinggi Gayo. Tanpa penanganan cepat, masyarakat di sekitar lokasi berpotensi terisolasi lebih lama, mengingat jalur alternatif sulit dilalui dan membutuhkan waktu tempuh yang jauh lebih panjang.
Sebagai langkah awal pemulihan pascabencana, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama BPJN Aceh menetapkan pemulihan akses jalan nasional sebagai prioritas utama. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemasangan jembatan darurat Bailey di lokasi Jembatan Teupin Mane untuk memulihkan konektivitas sementara.


Pemasangan jembatan Bailey dilakukan oleh Kementerian PU bekerja sama dengan BPJN Aceh serta TNI AD. Jembatan darurat ini dipilih karena dapat dirakit dalam waktu relatif cepat dan mampu melayani kendaraan umum serta distribusi logistik hingga jembatan permanen dibangun.
Selain perakitan jembatan, tim teknis juga melakukan penimbunan dan penguatan oprit jembatan yang runtuh agar akses keluar-masuk jembatan Bailey dapat dilalui dengan aman. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsoran dan sisa banjir di sekitar lokasi. Sambil menunggu jembatan darurat difungsikan, petugas juga membuka jalur alternatif sementara dengan membersihkan badan jalan guna meminimalkan keterisolasian wilayah.
Seluruh penanganan darurat dilakukan secara terkoordinasi dengan melibatkan satuan tugas khusus, unsur TNI/Polri, serta pengawasan teknis dari BPJN Aceh. Koordinasi lintas sektor ini bertujuan mempercepat pekerjaan sekaligus memastikan keselamatan selama proses konstruksi berlangsung.
Pemasangan Jembatan Bailey
Febyan menyebutkan, hingga saat ini Jembatan Teupin Mane belum sepenuhnya fungsional karena keruntuhan oprit. Namun pemasangan jembatan Bailey telah dikebut sejak awal Desember 2025, meliputi perakitan struktur, pengalihan alur sungai, dan penimbunan oprit, dengan target dapat difungsikan pada 15 Desember 2025.
Selain Jembatan Teupin Mane, banjir dan longsor juga menyebabkan kerusakan serius pada infrastruktur lain di sepanjang ruas Lintas Tengah Aceh. Tercatat sedikitnya 11 jembatan putus dan delapan titik badan jalan terputus di wilayah kerja PJN 3 Aceh. Sejumlah jembatan yang terdampak antara lain Jembatan Alue Kulus, Weihni Enang-Enang, Weihni Rongka, Timang Gajah, Jamur Ujung, serta kerusakan box culvert di Weihni Lampahan.
Kepala Satker PJN 3 Provinsi Aceh, M. Abdul Azis, menjelaskan bahwa BPJN Aceh telah menyiapkan jembatan Bailey yang didatangkan dari pusat dan didukung oleh satuan Zeni TNI untuk percepatan penanganan. Dari total 11 jembatan yang putus, Jembatan Teupin Mane saat ini sudah dalam tahap pemasangan Bailey, sementara 10 jembatan lainnya akan ditangani secara bertahap dengan kombinasi jembatan Bailey dan Aramco.
“Kami berharap seluruh jembatan dan badan jalan yang terputus dapat segera difungsikan kembali agar aktivitas masyarakat dan distribusi logistik bisa berjalan normal,” ujarnya.
Untuk jangka panjang, BPJN Aceh merencanakan penanganan permanen secara terpadu, meliputi pembangunan jembatan permanen baru, normalisasi sungai, pembangunan bronjong dan guide bank, serta rekonstruksi badan jalan dengan struktur yang lebih kuat dan sistem drainase berkapasitas lebih besar.
Upaya ini dilakukan agar ruas Kota Bireuen–Takengon tidak hanya pulih, tetapi juga lebih tangguh menghadapi bencana di masa mendatang. (ROY)
Baca Juga:





