Pada Senin, 19 Oktober 1987, pukul 07.00, 36 tahun lalu, dunia transportasi Indonesia, khususnya kereta api, berduka. Ratusan orang tewas dalam tabrakan dua kereta api, yakni KA 225 versus KA 220, di antara Stasiun Kebayoran Lama dan Stasiun Sudimara. Waktu itu, Stasiun Pondok Ranji belum ada.
Oleh Harazaki
Lokasi terjadinya kecelakaan sekitar 4 km dari Stasiun Kebayoran Lama atau 6 km dari Stasiun Sudimara. Tidak jauh dari jembatan layang dekat Pasar Bintaro sekarang.
KA Patas Tanah Abang-Merak (KA 220) diberangkatkan dari Stasiun Kebayoran Lama pada pukul 06.45. Terlambat 9 menit dari seharusnya. Kecepatan rata-rata 40 km per jam, jarak Stasiun Kebayoran Lama dengan Stasiun Sudimara 10 km, artinya bisa ditempuh dalam waktu 15 menit.
Namun, dari arah berlawanan, dari Stasiun Sudimara, KA klutuk Rangkasbitung-Tanah Abang (KA 225) diberangkatkan pada pukul 06.55. Kereta itu disebutkan mengangkut sekitar 700 pelajar, karyawan, dan pedagang.
Dikabarkan, petugas PJKA dari Sudimara lalai mengontak pihak Stasiun Kebayoran Lama sebelum memberangkatkan KA 225. Sekitar pukul 07.00 itu, tabrakan tak bisa terhindarkan. Sebanyak 139 orang tewas, 72 orang meninggal di tempat.
Menurut pengamat KA, Moch S. Hendrowijono, dalam tulisannya di Kompas, kemungkinan kedua masinis terlambat saling melihat karena terhalang tikungan. Sadar sudah dekat, kedua masinis baru mengerem.
Kecepatan 50 km per jam dengan lokomotif berbobot 90 ton dan tujuh gerbong dengan bobot total 245 ton baru bisa berhenti sekitar 200 meter setelah direm. Pada kecepatan 60 km per jam pengereman pada jarak 400 meter. Kala itu, semua sudah terlambat.
Termasuk upaya petugas untuk menahan KA 225 yang juga gagal.
Pada pemberitaan harian Kompas di berita utamanya menggambarkan kecelakaan itu sebagai kecelakaan KA paling mengerikan (Kompas, 20/10/1987).
Ketika itu rel kereta tidak seperti sekarang yang rel ganda (double track), masih single track. Artinya, penggunaan rel harus secara bergantian. Itu mutlak mengandalkan komunikasi.
Begitu dahsyatnya tabrakan itu, dari berbagai pemberitaan media, mengakibatkan loko kereta yang menarik tujuh gerbong “ditelan” oleh gerbong pertama. Artinya loko kereta itu “terbungkus” oleh gerbong pertama.

Sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana kondisi para penumpang yang ada di dalam gerbong pertama. Mereka yang berdesak-desakkan di pagi hari tersebut tergencet oleh besi lokomotif kereta itu berbobot 90 ton. Tidak mengherankan jika disebutkan ada sekitar 26 korban tidak terindentifikasi.
Dari tulisan di Kompas disebutkan, suster kepala RSPP Pertamina menyebut tempat kecelakaan tersebut seperti tempat pemotongan hewan. Di mana-mana ada potongan tubuh manusia.
Menurut sejumlah kesaksian penumpang selamat, di atas gerbong kereta yang tabrakan itu ada banyak penumpang. Ada sebagian mereka yang terlempar dan sebagian ikut tergencet oleh lokomotif.
Tidak sedikit korban yang berteriak meminta pertolongan. Namun, masyarakat hanya bisa menonton karena para korban yang masih hidup itu rata-rata terjepit. Mustahil untuk membantu dengan tangan kosong.
“Ada yang minta minum karena kehausan. Teriakan-teriakan itu sangat memilukan hati. Oleh saran dari seseorang, korban tidak diberi minum karena justru minum itu mempercepat kematian mereka. Baru beberapa waktu kemudian pihak rumah sakit dari RSCM membawa botol infus. Sambil dilakukan upaya penyelamatan dengan memotong besi yang menggencet dengan mesin las, korban dipasangi infus,” tutur saksi mata dikutip dari pemberitaan di Kompas.
Dari antara korban yang meminta pertolongan, ada yang berhasil dibebaskan tetapi setelah bebas justru nyawa mereka tidak tertolong. Kebanyakan kematian mereka karena sudah kehabisan banyak darah.

Dua kakak beradik, masih anak-anak, terpaksa harus kehilangan dua kaki mereka karena terjepit dan harus diamputasi. Tidak hanya itu, keduanya juga harus kehilangan kedua orangtua mereka yang terikut tewas dalam insiden naas itu.
Parkir Lebih Maju
Sungguh kecelakaan tersebut di luar dugaan. Ada saksi hidup yang merupakan penumpang kereta tersebut, yaitu Agus Nugroho, wartawan Lintas. Ketika kejadian, seperti biasa Agus dan istrinya, yang saat itu bekerja di sebuah perusahaan swasta di daerah Kota dan Agus bekerja di PUPR Jalan Patimura, pukul 06.00 sudah tiba di Stasiun Sudimara.
Rumah kediaman Agus dari Stasiun Sudimara, jika jalan kaki, memakan waktu sekitar 10 menit. “Jika naik becak, dari kontrakan kami hingga ke Stasiun Sudimara sekitar lima menit. Cukup dekat,” kata Agus saat ditemui di rumahnya di bilangan Bintaro Sektor 8.
Biasanya, Agus dan istrinya, selalu naik di gerbong pertama. Sebab, pintu masuk gerbong pertama itu selalu sejajar dengan pintu masuk stasiun. “Artinya, kami begitu masuk, langsung lurus naik ke dalam gerbong kereta,” kata Agus.
Namun, entah kenapa, kata Agus, di pagi Senin 19 Oktober 1987 itu, kereta berhenti tidak seperti biasanya. Kereta parkir lebih maju. Dengan begitu, kata Agus, pintu masuk stasiun sejajar dengan pintu masuk gerbong kelima. Jadilah mereka naik di gerbong kelima.
”Saya belakangan berpikir, betapa Allah telah mengatur nasib saya dan istri saya. Coba bayangkan jika kami naik gerbong pertama yang biasa kami naiki, mungkin sudah beda ceritanya. Kesaksian saya tidak akan pernah ada,” kata Agus yang didampingi istri mensyukuri mukjizat dari Tuhan tersebut.
Ketika sudah naik kereta, setelah beberapa lama, tiba-tiba kereta berhenti. Agus mengaku tidak terlalu mendengar dentuman akibat tabrakan itu. Namun, setelah turun, Agus dan istrinya melihat dua kereta beradu lokomotif, dan banyak orang yang tergeletak di sekitar kereta.
Agus dan istrinya mengaku tidak kepikiran untuk melihat detail tabrakan itu.
“Saya justru kepikiran bagaimana segera bisa sampai ke kantor. Waktu itu tidak ada telepon untuk memberi tahu tentang keberadaan kami. Sistem komunikasi belum semaju sekarang ini. Satu-satunya cara memberi tahu bahwa kami selamat dengan sampai ke kantor,” kata Agus.
Agus dan istrinya ketika itu kesulitan mencari kendaraan. Mereka akhirnya berhasil naik angkot. Istrinya langsung ke Kota, Agus menuju kantornya di PUPR Jalan Patimura, Kebayoran Baru.
Sesaat setelah peristiwa kecelakaan itu, keluarga Agus dan keluarga istrinya khawatir kalau-kalau mereka itu sebagai korban.
“Bahkan, dari kantor, ada yang diminta mencari saya di ruang mayat rumah sakit. Cari mayat yang badannya agak gemuk,” kenang Agus sambil setengah tertawa mengingat kejadian itu.
Setelah bersusah payah mencari angkutan umum, Agus pun sampai ke kantor. ”Barulah orang kantor tenang. Saya disuruh menelepon keluarga di kampung agar tenang bahwa saya dan istri baik-baik saja,” kata Agus.
Agus dan istrinya pun dari kantor masing-masing pada hari itu diizinkan pulang lebih cepat.
Apakah merasa trauma Pak Agus? Menjawab pertanyaan itu, Agus bilang, mungkin karena ketika itu tidak langsung melihat para korban, dan juga tidak terlalu merasakan guncangan saat bertabrakan, dirinya sama sekali tidak merasa trauma hingga kini.
Pelajaran Penting
Selalu ada hikmat yang bisa dipetik di balik sebuah kecelakaan. Begitu kata-kata bijak yang sering kita dengar dalam merespons sebuah peristiwa kecelakaan.
Bagi Agus, ayah dari tiga anak ini, pelajaran yang ia petik dari kecelakaan tersebut, bahwa ia dan istri tak pernah berhenti bersyukur. Ia masih bisa diberi keselamatan lolos dari maut, itu sebuah anugerah yang besar dari Yang Maha Pencipta.
”Kami tak pernah berhenti bersyukur,” kata Agus yang sebelum pensiun dari PUPR banyak dipercaya untuk menjadi perintis pembukaan jalan di wilayah timur Indonesia, seperti di Papua dan Timor-Timur (sekarang negara Timor Leste).
Menurut Agus, hidup mati seseorang sudah ada yang mengatur. Karena itu, jangan pernah takut untuk melangkah. “Niat kita baik, untuk bekerja, kita berdoa, dan semuanya pasti dilancarkan.”
“Saya berterima kasih kepada PT Kereta Api, dengan segala kekurangannya, bisa membawa kita dalam waktu yang relatif cepat,” puungkas Agus.
Kejadian memilukan yang membuat kepedihan bagi keluarga korban pasti menjadi kenangan berharga bagi kita. Kesalahan teknis ataupun kesalahan operator yang menjadi penyebab kecelakaan semoga takkan terulang lagi.
Perhatian pemerintah Indonesia untuk membangun sistem perkeretaapian yang modern patut terus kita dukung. Insiden Bintaro yang mengerikan itu terus dikenang. Iwan Fals mengabadikannya lewat lagu dengan judul “1910”
Apa kabar kereta yang terkapar di Senin pagi? /
Di gerbongmu ratusan orang yang mati /
Hancurkan mimpi bawa kisah /
Air mata /
Air mata /
….
19 Oktober tanah Jakarta berwarna merah /
Meninggalkan tanya yang tak terjawab /
Bangkai kereta lemparkan amarah /
Air mata
Air mata






















