JAKARTA, LINTAS – Ketua Umum Ikatan Ahli Bandara Indonesia (IABI), Moch. Iksan Tatang, menilai tantangan terbesar dalam pengembangan bandar Udara (bandara) di Indonesia saat ini adalah persoalan aksesibilitas, optimalisasi ruang udara, dan kapasitas terminal.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia menurutnya perlu mulai memanfaatkan potensi transportasi udara perairan atau seaplane untuk memperkuat konektivitas antarpulau.
“Negara kita ini kepulauan, jadi ke depan harus lebih banyak mengembangkan bandara perairan. Dulu seaplane pernah ada, sekarang tinggal bagaimana mengembangkannya lagi. Di banyak negara potensi ini sudah mulai digarap, dan Indonesia sebagai negara maritim seharusnya tidak ketinggalan,” ujar Iksan, saat ditemui Lintas, Sabtu (27/9/2025).
Menurutnya, seaplane menjadi solusi efisien untuk menjangkau pulau-pulau kecil yang tidak memungkinkan pembangunan bandara konvensional.
“Kita tidak perlu membangun landasan besar, cukup area perairan di pantai. Ini potensinya luar biasa, terutama di kawasan Indonesia Timur,” jelasnya.

Iksan menambahkan, beberapa titik pengembangan seaplane sudah mulai digagas, namun masih membutuhkan panduan dan regulasi yang jelas, terutama terkait ruang udara dan keselamatan penerbangan.
“Sekarang mulai ditata. Tapi kita jangan sampai tertinggal dari negara lain yang juga mengembangkan seaplane,” ujarnya.
Selain pengembangan moda baru seperti seaplane, Iksan mengungkapkan ada tiga bottleneck utama dalam sistem kebandarudaraan Indonesia, yakni terminal, ruang udara, dan akses menuju bandara.
“Kalau terminal, solusinya bisa dengan pembangunan atau perluasan. Ruang udara bisa dioptimalkan lewat peningkatan teknologi dan peningkatan kemampuan SDM. Tapi akses, ini yang paling menantang,” jelasnya.
Sebagai contoh, ia menyoroti kepadatan akses menuju Bandara Soekarno-Hatta. “Dulu jalan ke Soekarno-Hatta khusus untuk penumpang bandara. Sekarang banyak perumahan yang menggunakan jalur yang sama, jadi macetnya luar biasa. Jangan sampai penerbangannya sudah bagus, tapi aksesnya justru jadi masalah,” katanya.
Persoalan akses juga dirasakan di Bali. Iksan bercerita pengalamannya dari Kuta menuju terminal bandara memakan waktu hingga tiga jam.
“Bayangkan, jalan kaki lebih cepat. Ini masalah besar, apalagi pertumbuhan ekonomi Bali hanya terpusat di wilayah selatan. Bali Utara perlu segera dikembangkan agar tidak timpang,” ujarnya.
Optimalisasi Bandara
Terkait pembangunan bandara baru, Iksan menilai optimalisasi bandara yang sudah ada merupakan langkah yang lebih efisien.
“Masih banyak bandara yang belum dimanfaatkan secara optimal. Jadi, sebelum bicara membangun yang baru, kita maksimalkan dulu yang ada,” tuturnya.
Baca Juga: Tujuh Tahun Bangkit: Sulawesi Tengah Menata Harapan Pascabencana
Ia juga mendorong agar konsep pengembangan bandara tidak hanya berorientasi pada penumpang, tetapi juga pada aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
“Bandara itu bisa jadi pusat pertumbuhan ekonomi. Kalau ada bandara, pasti ada kehidupan di sekitarnya. Tapi kalau tidak diatur, justru bisa jadi masalah sosial,” ujarnya. (CHI)































