Di bawah terik matahari Kota Mataram, riuh tepuk tangan terdengar membahana dari Lapangan Bhara Daksa Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) pada akhir Juli 2025. Bukan pertandingan sepak bola atau voli yang sedang berlangsung, melainkan gateball, olahraga berstrategi tinggi yang sedang diperjuangkan untuk masuk ke dalam kurikulum jenjang sekolah menengah atas di NTB.
Gateball merupakan olahraga dari Jepang yang memadukan kecepatan, strategi, dan ketepatan. Olahraga ini menyedot perhatian banyak kalangan dan mulai mendapat tempat di hati masyarakat NTB. Terlebih, setelah suksesnya penyelenggaraan Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (Fornas) VIII di NTB.
Wakil Gubernur NTB Hj Indah Dhamayanti Putri, SE, MIP yang hadir langsung menyaksikan pertandingan, menyuarakan dukungannya agar olahraga gateball diperkenalkan lebih luas kepada pelajar.
“Gateball ini luar biasa. Dibutuhkan konsentrasi, cara berpikir, dan perencanaan yang matang. Saya ingin anak-anak usia sekolah, khususnya hingga 16 tahun, mulai mengenal dan memainkannya,” ungkapnya antusias.
Langkah strategis
Langkah konkret pun mulai dirancang. Ketua Umum Persatuan Gateball Seluruh Indonesia (Pergatsi) NTB Sadimin menyampaikan, gateball kini sedang diupayakan untuk masuk ke kurikulum pendidikan menengah sebagai jalan untuk regenerasi atlet. Ini menjadi bagian dari strategi jangka pendek untuk menyongsong Pekan Olahraga Pelajar Provinsi (Poprov) NTB tahun 2026.

“Pelajar SMA dan SMK adalah tulang punggung kontingen di Poprov. Maka penting bagi kami agar gateball dikenalkan sejak bangku sekolah,” jelasnya. Upaya revitalisasi pun mulai digencarkan. Komunitas gateball yang sempat vakum di sejumlah daerah, seperti Bima, Sumbawa, Lombok Barat, dan Lombok Utara akan diaktifkan kembali.
“Sekarang memang masa transisi pemerintahan di daerah, tapi begitu struktur definitif, kami akan gas koordinasi, termasuk dengan Dinas Pendidikan,” imbuhnya. Sadimin juga berharap dengan pengurus baru yang kini sudah definitif, pembinaan atlet dan pelatihan pelatih bisa lebih terarah.
Prestasi di Fornas VIII
Di tengah semangat pembinaan, Fornas VIII membawa kabar manis bagi tuan rumah NTB. Tim NTB 2 sukses meraih emas di nomor beregu bebas, mengungguli kontestan dari Kalimantan Selatan, Maluku, dan Sulawesi Selatan.
Namun, juara umum jatuh ke tangan kontingen Sulawesi Selatan yang tampil mencolok di kategori triple dan beregu bebas. Sulsel membawa pulang satu emas, satu perak, dan satu perunggu.
“Kami bahkan tidak pernah latihan bersama, tapi punya satu tekad juara. Dan hasilnya, kami pulang membawa tiga medali,” ujar Yudi, salah satu pemain Sulsel dengan wajah sumringah. Ajang ini berlangsung sejak Kamis hingga Senin (24-28/7/2025), dan ditutup dengan partai final yang berlangsung sengit.
Technical delegate dari PB Pergatsi Dr Yuslan, ST, MT, menyebut, semangat sportivitas para peserta begitu tinggi meski kompetisi berjalan ketat.
“Ada gesekan kecil, tapi semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Yang penting, semua pulang dengan bahagia,” katanya. Penyerahan medali dilakukan langsung oleh Kapolda NTB Irjen Pol Hadi Gunawan, SH, SIK, menambah kehormatan bagi para pemenang.
Pita hitam
Namun, Fornas VIII tak hanya dihiasi sorak dan prestasi. Suasana haru menyelimuti lapangan ketika kabar duka datang dari kontingen Yogyakarta. Salah satu atlet gateball senior, R Haryo Wijoseno (64), wafat sebelum sempat bertanding.
Sebagai penghormatan, seluruh atlet dan pengurus Pergatsi mengenakan pita hitam sepanjang pertandingan. Ketua Umum PB Pergatsi Diana Kusumastuti menyampaikan belasungkawa mendalam.
“Kami sangat kehilangan. Semoga almarhum diterima di sisi Tuhan. Ini musibah yang tidak kita inginkan, tapi kita jadikan momentum untuk saling menjaga dan memperkuat solidaritas,” ucap Diana.
Baca Juga: Senja Kala Perumahan Rakyat
Gateball bukan sekadar pertandingan di atas rumput. Bagi NTB, ini adalah awal dari gerakan membangun generasi muda yang cerdas strategi, sportif, dan tangguh dalam menghadapi tantangan.
Dengan semangat kebersamaan, semoga gateball bukan hanya dikenal, tetapi juga dicintai pelajar dan menjadi simbol baru prestasi olahraga pelajar NTB. (PAH/CHI)































