JAKARTA, LINTAS — Pembangunan Flyover Djuanda di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, akan mengurai kemacetan di Simpang Tiga Bangah-Aloha. Flyover ini juga sekaligus mengatasi dampak kemacetan lalu lintas akibat pelintasan sebidang rel kereta api di jalan akses Bandara Juanda.
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dikutip dari rilis pers, Kamis (17/8/2023), mengatakan, konektivitas antarwilayah diperlukan agar mobilitas barang, jasa, dan manusia lebih efisien. Dengan konektivitas yang semakin lancar diharapkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah sehingga dapat membantu proses percepatan pembangunan di wilayah tersebut.
“Pembangunan infrastruktur jembatan, flyover dan underpass akan memperlancar konektivitas dan aksesibilitas lalu lintas, di samping memberikan alternatif bagi warga untuk meningkatkan produktivitas perekonomian,” kata Menteri Basuki.

Flyover Djuanda–sebelumnya dikenal dengan nama Flyover Aloha–mulai dibangun sejak 1 November 2022. Masa pelaksanaan 540 hari kalender hingga 23 April 2024. Berdasarkan data progres fisik, pembangunan flyover hingga minggu I Agustus 2023 sebesar 50,24 persen. Ini melebihi rencana kemajuan progres pekerjaan yang ditetapkan, yaitu 49,55 persen.
Baca Juga: Flyover Purwosari, Wujud Kebanggaan Anak Bangsa terhadap Tanah Air
Secara konstruksi, Flyover Djuanda memiliki dua struktur dari jalan akses Bandara Juanda menuju Sidoarjo sepanjang 435 meter dan menuju Surabaya sepanjang 423 meter. Flyover dilengkapi ramp baik menuju Sidoarjo maupun Surabaya. Flyover A dengan frontage Sidoarjo-Juanda dikerjakan mulai STA 0+000-0+978 dan Flyover B dengan frontage Juanda-Surabaya dikerjakan mulai dari STA 0+000-0+889 dengan lingkup kerja meliputi pekerjaan drainase (3,85 persen), pekerjaan tanah dan geo (1,91 persen), perkerasan beton (6,04 persen), pekerjaan struktur (82,77 persen), dan aksesoris jalan jembatan (2,09 persen).

Perubahan Nama
Biaya pembangunan Flyover Djuanda bersumber dari APBN (SBSN) senilai Rp332,8 miliar yang dianggarkan secara Multy Years Contract (MYC) tahun 2022-2024. Flyover ini dikerjakan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali, Ditjen Bina Marga dengan kontaktor pelaksana PT Wijaya Karya (Persero)-PT Nindya Karya (Persero) (KSO).
Penamaan Flyover Aloha menjadi Juanda sebagai upaya menghormati jasa Pahlawan Nasional Djuanda Kartawidjaja pencetus Deklarasi Djuanda tahun 1957 dan penggagas pembangunan bandara internasional di Jawa Timur.
Secara keseluruhan pada 2023, Kementerian PUPR membangun 3 flyover guna mendukung sterilisasi pelintasan sebidang rel kereta di sepanjang jalan nasional, yakni Flyover Djuanda di Jawa Timur dan dua flyover lagi di Sumatera Selatan, yakni Flyover Gelumbang dan Bantaian. (HRZ)
Baca Juga: Kemenhub Bangun JPO dan “Flyover” untuk Memperlancar “Feeder” KCJB






















