Jakarta, Lintas – Sebanyak 73 unit rumah hunian tetap bagi korban terdampak gempa di Desa Wani, Kecamatan Tanantofea, Kabupaten Donggala dipercepat pembangunannya. Hal itu disampaikan oleh Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Iwan Suprijanto dikutip dari rilis yang diterima, Kamis (13/7/2023).
“Kami terus berupaya mempercepat proses pembangunan Huntap Tahap 2A pascabencana Sulteng. Kami juga menugaskan Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Sulawesi II untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam proses pembangunan hunian tetap tersebut,” kata Iwan Suprijanto.
Seperti diketahui, pada 28 September 2018, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 yang menimbulkan tsunami terjadi di Sulawesi. Tsunami melanda pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara, termasuk Sulawesi Tengah.

Berdasarkan data Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan Sulawesi II, Ditjen Perumahan, secara keseluruhan hunian tetap Tahap 2A dibangun sebanyak 712 unit yang tersebar di 15 lokasi, di antaranya Kabupaten Donggala berada di Desa Wani (73 unit), Tompe 1 (44), Tompe 2 (83), Tompe 3 (161), Lende (68), Lompio (16). Selanjutnya di Desa Tanjung Padang (13), Lende Ntovea 1 (10), Lende Ntovea 2 (44), Ganti (17), Loli Dondo (16), Loli Saluran (18), Loli Tasiburi III (17), dan lokasi mandiri di Kota Palu (104) dan Talise Panau sebanyak 26 unit.
Operasi Kemanusiaan
Iwan Suprijanto mengatakan, pembangunan hunian tetap tahap 2A ini sangat penting bagi masyarakat terdampak bencana di Sulawesi Tengah. Kementerian PUPR melalui Ditjen Perumahan, kata Iwan, turut bertanggung jawab atas penyediaan hunian agar masyarakat bisa segera menempati hunian yang layak dan memiliki konstruksi bangunan yang aman serta berkualitas.
“Percepatan pembangunan Huntap bukan hanya proyek semata, melainkan juga bagian dari operasi kemanusiaan agar masyarakat terdampak bisa segera pindah dan menempati hunian yang layak,” kata Iwan.
Adapun pembangunan hunian tetap tersebut dilaksanakan menggunakan teknologi rumah tahan gempa rumah instan sederhana sehat (risha). Nantinya, kata Iwan, dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung sehingga dapat menjadi hunian nyaman bagi masyarakat.

Hunian tetap dibangun dengan tipe 36 Plus dengan luas lahan 10 meter x 15 meter untuk tiap unit dilengkapi ruang tamu, 2 kamar tidur, dapur, dan kamar mandi.
Sementara sumber pendanaan pembangunan hunian tetap berasal dari Central Sulawesi Rehabilition and Reconstruction Project (CSRRC) dengan kontraktor pelaksana PT Wijaya Karya Beton-PT Murni Konstruksi Indonesia (KSO).
“Secara konstruksi bangunan, hunian tetap sudah hampir rampung seluruhnya. Saat ini, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah sehingga asetnya bisa segera diserahterimakan untuk dihuni masyarakat,” kata Kepala Satuan Kerja Penyediaan Perumahan Provinsi Sulawesi Tengah Erpika Ansela Surira. (HRZ)
Baca Juga:
- Hampir Rampung, 71 Hunian Tetap Tahap 2A Pascabencana di Sulteng
- 3.463 Hunian Tetap di Sulawesi Tengah Selesai Dibangun, Target Selesai Keseluruhan di Tahun 2023



















