Home Fitur Cerita Jembatan Besuk Kobo’an Masuk Rekor MURI dan Jadi Tujuan Wisata

Cerita Jembatan Besuk Kobo’an Masuk Rekor MURI dan Jadi Tujuan Wisata

Share

Bencana erupsi Gunung Semeru pada tahun 2021 membuat Jembatan Besuk Kobo’an di Lumajang, Jawa Timur, punya wajah baru, masuk rekor MURI dan jadi tujuan wisata.

Pada Desember 2021, erupsi Semeru menyebabkan Jembatan Besuk Kobo’an terputus. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono yang meninjau lokasi jembatan bersama Presiden Jokowi menginstruksikan agar jembatan segera dibangun kembali dalam waktu 1 tahun. Hal ini karena jembatan yang dulu bernama Gladak Perak ini berada di jalur penting sebagai penghubung antara Lumajang dan Malang.

“Saat itu, busur beton di bawah jembatan dihantam erupsi. Hal ini mengakibatkan pilar jembatan roboh,” cerita Pejabat Pembuat Komitmen 1.3 Pelaksanaan Jalan Nasional I Provinsi Jawa Timur (PPK 1.3 PJN I Jatim) David Rachmat Prabowo dalam wawancara khusus kepada Lintas, Kamis (18/1/2024).

Menurut David, karena dalam situasi bencana, pembangunan jembatan dilaksanakan dengan sistem penunjukan langsung. PT Adhi Karya yang paling siap ditunjuk menjadi kontraktor untuk mendesain sekaligus membangun (design and build) Jembatan Besuk Kobo’an yang baru.

Jembatan memakai konstruksi rangka baja karena lebih mudah dan cepat. Tapi, karena jembatan sepanjang 140 m ini lebih dari ukuran standar, rangkaian baja disusun secara custom. Konstruksi yang dipilih akhirnya berupa rangka baja segitiga siku-siku tanpa pilar.

“Karena panjangnya 140 m, lebih dari standar 100 m, inilah yang membuat Jembatan Besuk Kobo’an yang baru, masuk Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia),” lanjut David.

Jembatan Besuk Kobo'an. | Majalah Lintas/Firdaus DH
Jembatan Besuk Kobo’an. | Majalah Lintas/Firdaus DH

Tujuan Wisata dan Pusat Perekonomian

Semua kendala dalam pembangunan jembatan bisa diatasi sehingga terbangun kembali Jembatan Besuk Kobo’an wajah baru yang kokoh dan menarik. Masyarakat pun ikut senang dengan adanya jembatan ini. Karena selain menghubungkan jalur yang terputus, juga bisa menjadi tujuan wisata baru.

“Banyak warga datang ke jembatan untuk sekadar berfoto bersama maupun selfie. Mereka datang bukan hanya dari Malang dan Lumajang, tapi juga dari wilayah dengan jarak yang lebih jauh seperti Probolinggo dan Jember,” lanjut David.

Banyaknya masyarakat yang berkunjung, membuat Jembatan Besuk Kobo’an juga menjadi pusat ekonomi baru. Kehadiran warung-warung di dekat jembatan menghadirkan pemasukan bagi warga sekitar.

“Selain dampak positif, ada juga dampak negatifnya, seperti banyak kendaraan yang parkir sembarangan sehingga membahayakan pengendara jalan lainnya,” sebut David.

Selain itu, jembatan menjadi kumuh karena pengunjung sering membuang sampah sembarangan. David berharap masyarakat ikut menjaga dan merawat jembatan ini agar sesuai umur rencana 100 tahun. (FDH/EDW)

Baca Juga: Kriteria Jembatan Khusus dan Standar

Share