Pagi itu, Minggu (3/5/2026) suasana Stasiun Bekasi Timur terasa berbeda. Biasanya, langkah-langkah kaki bergerak cepat, mengejar waktu sebelum pintu kereta menutup. Namun hari itu, ritmenya melambat. Orang-orang datang bukan hanya untuk berangkat bekerja, tetapi juga untuk berhenti sejenak.
Di lantai dua, sepanjang kaca dekat akses masuk sebelum mesin tap, bunga-bunga mulai berjejer. Datangnya satu per satu, dibawa oleh orang-orang yang mungkin tidak saling mengenal. Tidak ada instruksi, tidak ada pengumuman. Namun ruang itu perlahan berubah menjadi tempat sunyi untuk menundukkan kepala dan mengirimkan doa.
Beberapa orang datang, meletakkan bunga, lalu berdiri cukup lama tanpa kata. Sebagian menuliskan pesan singkat di kertas kecil, seolah berbicara langsung kepada mereka yang dikenang.
Alesya, pengguna Commuter Line, sengaja datang lebih pagi. Ia tidak mengenal para korban, tetapi langkahnya tetap membawanya ke tempat itu.
“Saya setiap hari naik KRL. Entah kenapa rasanya dekat, seperti kehilangan teman perjalanan,” ujarnya pelan.
Di sisi lain, Kresna melakukan hal yang sama. Ia pun tak mengenal siapa pun di antara korban. Namun rasa kehilangan itu tetap nyata.
“Tiap hari kita berangkat bareng, walau tidak saling sapa. Tapi rasanya tetap satu perjalanan,” katanya.
Kalimat sederhana itu menjelaskan mengapa bunga terus bertambah. Di balik rutinitas yang sama, tumbuh kedekatan yang tak membutuhkan perkenalan.
Di antara rangkaian bunga, terselip pesan tulisan tangan:
“Terima kasih sudah kuat menjalani hari-hari. Perjalananmu mungkin berhenti di sini, tapi kebaikan dan perjuanganmu akan terus hidup di hati banyak orang.”
Beberapa bunga juga menyertakan foto para korban. Enam belas perempuan pekerja. Sosok-sosok yang setiap hari berangkat lebih pagi, menempuh perjalanan jauh, berpindah kota demi harapan dan keluarga.
Mereka adalah wajah-wajah yang mungkin pernah berdiri di peron yang sama, duduk di kursi yang sama, atau berpegangan pada pintu kereta yang sama seperti jutaan pengguna lainnya. Karena itulah duka ini terasa begitu dekat.
Perjalanan yang Mengikat Tanpa Kata
Perjalanan dengan Commuter Line selama ini memang lebih dari sekadar berpindah tempat. Ada ritme yang sama setiap pagi dan sore. Ada wajah-wajah yang mulai terasa akrab meski tak pernah saling menyapa. Dari kebiasaan itu, tumbuh rasa saling mengenal dalam diam.

Perjalanan di lintas Cikarang terus meningkat dari waktu ke waktu. Pada 2015, frekuensi perjalanan tercatat 158 perjalanan per hari. Sepuluh tahun kemudian, pada 2025, jumlahnya mencapai 281 perjalanan per hari.
Jumlah pengguna pun terus bertambah. Dari 55,6 juta pelanggan pada 2022, meningkat menjadi 71,6 juta pada 2023, lalu 84,4 juta pada 2024, dan 85,9 juta pada 2025. Pada triwulan pertama 2026 saja, tercatat 21,7 juta pelanggan telah menggunakan layanan ini.
Namun di balik angka-angka itu, ada cerita yang jauh lebih dalam. Ada perempuan-perempuan yang setiap hari bangun sebelum matahari terbit, menempuh perjalanan panjang, bekerja dengan tekun, dan pulang membawa harapan untuk keluarga. 16 perempuan yang kini dikenang adalah bagian dari cerita besar itu.
Empati yang Menjadi Kekuatan Bersama
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyebut apa yang terjadi di Bekasi Timur sebagai gambaran kuat hubungan yang terbangun di antara para pengguna KRL.
“Kami melihat bagaimana pelanggan hadir dengan ketulusan, membawa doa, dan saling menguatkan. Meskipun tidak saling mengenal, ada rasa kebersamaan yang tumbuh dari perjalanan yang dijalani setiap hari,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pelanggan yang menunjukkan empati di tengah duka.
“Terima kasih atas kepedulian yang diberikan. Di tengah situasi ini, kita merasakan bahwa perjalanan bersama juga menghadirkan rasa saling menjaga. Semangat ini menjadi penguat bagi kami untuk terus menghadirkan layanan yang lebih baik,” tambahnya.
Bunga-bunga masih terus bertambah. Orang-orang datang dan pergi, namun meninggalkan hal yang sama: doa yang dipanjatkan pelan, rasa hormat yang tulus, dan kenangan yang tak ikut pergi.
Di tempat yang biasanya menjadi titik berangkat, hari itu banyak orang memilih untuk berhenti sejenak. Menunduk, mengingat, lalu melanjutkan langkah—dengan hati yang tak lagi sama. (CHI)
Baca Juga: 76 Penumpang Terdampak Insiden Bekasi Timur Sudah Pulang

























