Home Fitur Buldozer Menyusuri Jakarta, Ketika Persahabatan Menemukan Jalannya di Kota Tua

Buldozer Menyusuri Jakarta, Ketika Persahabatan Menemukan Jalannya di Kota Tua

Share

Rabu pagi, 20 Mei 2026, suasana di Stasiun MRT Lebak Bulus tampak lebih hangat dari biasanya. Di tengah lalu lalang masyarakat yang bergegas menuju aktivitas masing-masing, sekelompok pensiunan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berdiri sambil bercengkerama penuh tawa.

Mereka menamakan diri Buldozer, sebuah nama yang lahir dari semangat kebersamaan dan ketangguhan yang telah mereka bangun selama puluhan tahun mengabdi di dunia infrastruktur jalan.

Hari itu bukan sekadar perjalanan wisata biasa. Bagi mereka, perjalanan menuju Kota Tua Jakarta menggunakan transportasi umum menjadi cara menikmati kota dengan sudut pandang yang berbeda, lebih santai, lebih dekat, sekaligus penuh nostalgia.

Sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan mulai bergerak menaiki MRT dari Stasiun Lebak Bulus menuju Bundaran HI. Di dalam gerbong yang bersih dan nyaman, obrolan mengalir tanpa henti. Ada yang membahas perkembangan Jakarta, ada pula yang mengenang masa-masa ketika pembangunan transportasi modern seperti MRT masih sebatas wacana.

Mereka tampak kagum melihat bagaimana Jakarta kini memiliki moda transportasi massal yang modern dan tertata apik. MRT Jakarta yang diresmikan tahun 2019 oleh Presiden Joko Widodo menjadi simbol perubahan besar wajah ibu kota. Kereta melaju cepat menembus bawah tanah, menghadirkan pengalaman perjalanan yang nyaman sekaligus menjadi bukti bahwa kota metropolitan seperti Jakarta terus bergerak menuju sistem transportasi yang lebih maju.

pensiunan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) . Lintas/Roy Afriansyah.

Kawasan Kota Tua

Setelah tiba di Bundaran HI, perjalanan dilanjutkan menggunakan TransJakarta menuju kawasan Kota Tua. Dari balik jendela bus, rombongan menyaksikan denyut pembangunan Jakarta yang terus tumbuh. Di beberapa titik, terlihat konstruksi MRT fase 2A yang tengah berlangsung.

Pembangunan jalur Bundaran HI hingga Kota sepanjang 5,8 kilometer itu menjadi perhatian tersendiri bagi para pensiunan Bina Marga. Sebagai orang-orang yang pernah berkecimpung dalam pembangunan infrastruktur, mereka memahami betul bagaimana sebuah proyek besar membutuhkan ketelitian, perencanaan, dan kerja keras yang panjang.

“Jakarta sekarang luar biasa ya,” ujar salah seorang peserta sambil memandangi konstruksi bawah tanah yang sedang dikerjakan.

Segmen pertama MRT fase 2A dari Bundaran HI hingga Monas ditargetkan beroperasi pada akhir 2027, sementara jalur penuh hingga Stasiun Kota direncanakan selesai pada 2029. Jalur ini diharapkan menjadi solusi mobilitas modern yang cepat dan bebas macet bagi masyarakat ibu kota.

Tak hanya MRT, mereka juga memperhatikan transformasi TransJakarta yang kini mulai menggunakan armada listrik sebagai bagian dari upaya mengurangi emisi karbon.

Bagi rombongan Buldozer, perubahan itu menjadi bukti bahwa pembangunan tidak lagi hanya berbicara tentang konektivitas, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Perjalanan menuju Kota Tua terasa singkat karena sepanjang jalan dipenuhi cerita dan canda.

Sesampainya di kawasan Kota Tua Jakarta Utara, suasana langsung berubah menjadi lebih santai dan penuh antusiasme. Bangunan-bangunan tua bergaya kolonial yang berdiri kokoh membawa mereka seolah kembali ke masa lampau. Langkah demi langkah mereka menyusuri area lapangan besar Kota Tua sambil sesekali berhenti untuk berfoto bersama.

Kawasan Bersejarah

Bagi sebagian rombongan, ini adalah kunjungan pertama mereka ke kawasan bersejarah tersebut. Selama ini mereka hanya mendengar cerita atau melihatnya melalui televisi dan media sosial. Kini, mereka dapat menyaksikannya secara langsung.

Di hadapan mereka berdiri megah Museum Fatahillah, bangunan bersejarah yang dahulu dikenal sebagai Balai Kota Batavia. Arsitektur klasik Eropa dengan jendela besar dan dinding kokoh membuat bangunan itu tampak begitu berwibawa. Dibangun pada tahun 1707, gedung tersebut menjadi saksi perjalanan panjang sejarah Jakarta sejak era kolonial Belanda.

Rombongan berjalan perlahan menikmati suasana sekitar. Beberapa tampak serius membaca informasi sejarah, sementara yang lain sibuk mengabadikan momen bersama teman-teman lamanya.

Tak jauh dari Museum Fatahillah, mereka melanjutkan kunjungan ke Museum Seni Rupa & Keramik. Pilar-pilar besar bergaya Romawi dan nuansa klasik bangunan itu menghadirkan kesan elegan sekaligus artistik. Di dalam museum, berbagai koleksi lukisan, keramik, hingga karya seni para maestro Indonesia seperti Raden Saleh dan Affandi menjadi daya tarik tersendiri.

Namun perjalanan hari itu terasa semakin lengkap ketika rombongan memasuki Museum Bank Indonesia. Sebanyak 13 anggota Buldozer menikmati setiap sudut museum yang menyimpan sejarah panjang ekonomi dan perbankan Nusantara.

Gedung bekas De Javasche Bank itu tampil megah dengan arsitektur kolonial Belanda yang masih terawat. Di dalamnya, mereka melihat berbagai koleksi uang dari masa ke masa—mulai dari ORI, uang zaman kerajaan, hingga rupiah modern.

Ruang imersif digital, diorama sejarah perdagangan, hingga replika emas batangan menjadi pusat perhatian rombongan. Beberapa peserta bahkan tampak antusias berfoto di area replika emas yang menjadi ikon museum tersebut.

Di sela kunjungan, Dwi Sapto, pensiunan Bina Marga tahun 2015, menyampaikan kesannya mengenai perjalanan hari itu.

“Acara hari ini cukup menarik,” katanya sambil tersenyum. “Selama ini kita cuma dengar cerita tentang tempat-tempat seperti ini. Ternyata sekarang kita bisa datang langsung dan menikmatinya bersama-sama.”

Menurutnya, kebersamaan menjadi hal paling berharga dalam perjalanan tersebut.

“Dengan teman-teman itu rasanya akrab sekali. Tidak ada batasan jabatan, semuanya hanya persahabatan. Mudah-mudahan kita terus seperti ini sampai akhir hayat.”

Masa Pensiun

Kalimat itu membuat suasana sejenak hening. Ada rasa haru yang sulit diungkapkan. Waktu memang telah membawa mereka memasuki masa pensiun, namun persahabatan yang terbangun selama bertahun-tahun tetap hidup dan terasa hangat.

Menjelang pukul 15.30 WIB, rombongan mulai bersiap kembali pulang menggunakan transportasi umum. Langkah mereka mungkin tak lagi secepat dulu, tetapi semangat kebersamaan tetap terasa kuat.

Perjalanan sehari itu bukan hanya tentang wisata ke Kota Tua. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi ruang untuk merawat silaturahmi, mengenang masa pengabdian, dan menikmati Jakarta dengan cara yang sederhana namun penuh makna.

Di tengah hiruk pikuk ibu kota yang terus berubah, para pensiunan Buldozer membuktikan satu hal yakni persahabatan sejati tidak pernah menua. (PAH/ROY)

Baca Juga: Kontrak Baru PTPP Tembus Rp 24,95 Triliun, Proyek Pemerintah Mendominasi

Oleh:

Share