Palu, Lintas – Kota Palu adalah Ibu Kota dari Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Namanya ibu kota, hal itu menjadi “kiblat” Sulteng, etalase, dan sekaligus pintu gerbang bagi Indonesia. Wali Kota Palu H Hadianto Rasyid, SE mengharapkan, profilnya sebagai ibu kota tersebut harus terus didorong supaya menjadi ibu kota yang layak dan pantas.
Dalam mewujudkan profil ibu kota yang layak dan pantas, tidak bisa dilakukan tanpa adanya sinergi antara pihak-pihak lain. Seperti halnya Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Sulteng (BPJN Sulteng).
“Kita semua harus bisa bersama-sama mewujudkan itu dengan dengan lebih cepat tanpa mengesampingkan sisi lainnya. Seperti Kabupaten Sigi, Gondola, dan Parigi Moutong,” tegas Hadianto, Kamis (4/5/2023), saat ditemui di Kantor Balai Kota Provinsi Sulteng.
Memori prahara bencana alam di Provinsi Sulteng telah menyisakan trauma dan kesedihan yang mendalam bagi warga Kota Palu. Termasuk masyarakat di Provinsi Sulteng pada umumnya. Meskipun Hadianto, tidak merasakan langsung peristiwa gempa, likuefaksi dan tsunami pada 28 September 2018 karena masih berada di Singapura.
“Jadi, saat bencana terjadi saya masih berada di Singapura. Namun, keesokan harinya saya langsung meluncur ke Balikpapan, dan tiba di Kota Palu pada hari Minggu menggunakan transportasi laut,” kenang Hadianto.
Setibanya di Kota Palu, Hadianto melihat bagaimana kerusakan yang luar biasa. Infrastruktur yang luluh lantak, dan jalan-jalan nasional, mulai dari Kota Palu, Pantoloan, hingga daerah Watusampu yang kerusakannya cukup berat. Selain itu, Kota Palu juga mengalami likuefaksi dan gempa yang menyebabkan keretakan yang luar biasa pada semua zona yang ada di Kota Palu.
BPJN Sulteng
Kepala BPJN Sulteng Arief Syarif Hidayat, ST, MT mengatakan, meskipun dirinya terbilang sangat baru di Kota Palu sebagai perwakilan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), tetapi sudah cukup memahami paket-paket apa saja yang sedang dan akan dilakukan terkait program pembangunan rekonstruksi dan rehabilitasi di Kota Palu pascabencana.
Sebelas bulan menjadi Kepala BPJN Sulteng, Arief, mengungkapkan, sudah mengetahui sejumlah proyek rekonstruksi dan rehabilitasi tersebut, seperti Jembatan Palu IV dan paket-paket yang menjadi tanggung jawab BPJN Sulteng yang cukup luar biasa dengan pendanaan yang cukup besar.

“Memang di tahun 2022 masih terdapat beberapa kendala terkait dengan dokumen lingkungan dan lahan. Namun, alhamdulillah, pada tahun 2023 ini, sejumlah proyek berjalan dan pergerakan progres fisiknya sudah mulai kelihatan. Hal itu tidak lepas dari bantuan dari pemerintah daerah, khususnya Bapak Wali Kota dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Palu Bapak Ir Singgih Budi Prasetyo, MEng, SC,” ungkapnya.
Arief tidak memungkiri bahwa sinergitas dengan pemerintah daerah yang baik sangat membantu dalam pencapaian progres pembangunan yang ditangani BPJN Sulteng. Seperti pada paket rekonstruksi dan rehabilitasi Japan International Cooperation Agency (JICA) Reconstruction Sector Loan (IRSL) IP-580 di Provinsi Sulawesi Tengah.
“Sehingga kami dari BPJN Sulteng sekarang yang diperlukan adalah bekerja keras dan bekerja cepat supaya masyarakat dapat segera merasakan dampak pembangunan yang dilakukan, seperti Jembatan Palu IV yang telah dinanti-nantikan, serta dapat selesai sesuai jadwal pada Juni 2024,” ujar Arief.
Arief menambahkan, saat ini progresnya cukup baik sudah 37 persen, pengecoran pun sudah berdiri. Semoga kalau sudah ke atas, percepatan-percepatannya bisa lebih ditingkatkan. Tentunya sinergi yang baik antara BPJN Sulteng, JICA, Bina Marga Pusat, Kasatgas, Kepala Dinas, dan Bapak Wali Kota sebagai Kepala Daerah Kota Palu tidak berhenti.
“Misalnya, terkait dibangunnya tanggul di sisi Jalan Cumi-Cumi dan Cut Meutia, serta Palu IV, ternyata terdapat ruang kosong yang dapat dimanfaatkan. Kemudian, kami diskusikan, apa yang menjadi keinginan dari pemerintah daerah supaya tidak mengurangi ikon Jembatan Kuning. Akhirnya, setelah didiskusikan ruang kosong tersebut dilakukan penataan menjadi taman supaya lebih indah dan nyaman bagi masyarakat,” ujar Arief.
Hadianto mengungkapkan bahwa kerja sama dengan BPJN Sulteng berjalan baik dan cepat. Karena cepat itu sehingga orang yang datang ke Kota Palu tidak sedikit yang berkata, Palu berubah ya… kok tidak terlihat lagi situasi yang teruk sebelumnya.

“Karena perbaikan-perbaikan infrastrukturnya berjalan dengan baik, berjalan dengan cepat, dan tentunya itu semua tidak lepas dari gercepnya (gerak cepat) dari Kepala BPJN Sulteng. Kami juga tidak ada putusnya terus menjalin komunikasi dengan BPJN untuk kemajuan Kota Palu,” lanjutnya.
Hadianto menambahkan, bahwa bukan berarti pembangunan tersebut tanpa kendala. Tentu ada, tetapi kendalanya eksternal bukan internal dan tidak dimungkiri, kemudian kendala itu sangat mempngaruhi sehingga penyelesainnya pun tidak mudah. Maka, tentunya diperlukan pendekatan-pendekatan. (SAL)



















