JAKARTA – Hingga Mei 2025, PT Hutama Karya (Persero) telah mengoperasikan jalan tol sepanjang 786,25 km. Sebagian besar merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), selebihnya tersebar di Pulau Jawa seperti Tol Akses Tanjung Priok dan Tol JORR-S.
Namun, lebih dari sekadar membangun jalan, Hutama Karya membawa misi keberlanjutan di setiap ruasnya.
“Kami menjalankan inspeksi rutin, pemeliharaan preventif, dan self-assessment digital untuk memastikan seluruh elemen pelayanan berjalan optimal,” kata Adjib Al Hakim, EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya.
Jalan tol yang dikelola dilengkapi layanan derek dan ambulans gratis, patroli 24 jam, serta sistem informasi lalu lintas real-time berbasis Intelligent Traffic System (ITS) yang terhubung ke command center.
Keselamatan pengguna tetap menjadi hal utama. Di titik-titik rawan, dipasang speed trap dan rambu visibilitas tinggi. Kampanye keselamatan berkendara #SETUJU (Selamat Sampai Tujuan) rutin digaungkan, beriringan dengan kerja sama intensif bersama Kepolisian, TNI, hingga BNPB untuk memastikan kesiapsiagaan darurat sepanjang waktu.
Namun, cerita tol tak hanya soal kecepatan tempuh. Di balik aspalnya, ekonomi lokal ikut bertumbuh. Lebih dari 25 rest area dan 2 mini rest area kini menjadi simpul aktivitas masyarakat. Di dalamnya, tersedia SPBU, toilet bersih, musala, ruang laktasi, parkiran luas, dan SPKLU.
“Kami sediakan lebih dari 30% area untuk UMKM lokal dengan skema sewa yang bersahabat. Ini bukan sekadar tempat singgah, tapi titik tumbuh ekonomi rakyat,” ujar Adjib.

Di salah satu rest area ruas Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (Terpeka), misalnya, Ibu Rina—penjual makanan khas setempat—mengaku omzetnya meningkat sejak hadirnya jalan tol.
“Dulu cuma jualan di teras rumah. Sekarang pelanggan dari luar kota datang tiap hari,”
Keberlanjutan menjadi napas di setiap proyek. Hutama Karya mengusung konsep green toll road—dimulai dari desain ramah lingkungan, penggunaan material rendah emisi, hingga penghijauan di sepanjang koridor jalan.
Limbah organik dari rest area diolah dengan metode magot, sedangkan sampah anorganik dipilah dan didaur ulang oleh mitra lokal. Sosialisasi ke pengguna dan tenant terus dilakukan agar program ini menjadi gerakan bersama, bukan hanya inisiatif perusahaan.
Lampu jalan pun tak luput dari inovasi. Smart lighting berbasis LED kini digunakan untuk menyesuaikan intensitas cahaya otomatis berdasarkan waktu dan cuaca. Hasilnya? Konsumsi energi turun hingga 40% dan keamanan berkendara di malam hari meningkat.
Di sisi pelestarian satwa, Hutama Karya membangun 5 underpass perlintasan gajah di Tol Pekanbaru–Dumai, serta jalur khusus untuk simpanse dan reptil di Tol Sigli–Banda Aceh.
Tak ketinggalan, sekitar 30 ribu pohon ditanam setiap tahun di berbagai titik tol sebagai bagian dari komitmen penghijauan berkelanjutan.
“Penanaman pohon tidak hanya soal karbon, tapi juga soal membangun habitat baru dan memperkuat daya dukung tanah di sekitar trase tol,” ujar Adjib.

Melangkah ke depan, perusahaan memiliki roadmap berkelanjutan: pemanfaatan energi terbarukan, digitalisasi pengelolaan lalu lintas, serta integrasi transportasi hijau yang menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Targetnya bukan sekadar operasional, tapi juga kontribusi nyata bagi ekosistem nasional.
“Jalan tol bukan hanya infrastruktur. Ia bisa jadi penggerak ekonomi, ruang hidup baru, dan warisan hijau untuk generasi mendatang,” tutup Adjib. (LINTAS-ADVETORIAL)

























