JAKARTA, LINTAS – Pembangunan Jalan Tol Betung (Sp. Sekayu) – Tempino – Jambi oleh PT Hutama Karya (Persero) tak hanya diharapkan memangkas waktu tempuh perjalanan.
Di balik proyek sepanjang 170 kilometer ini, tersimpan peluang ekonomi besar bagi masyarakat lokal, terutama pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta petani yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan di Sumatera.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, menyebutkan, pembangunan jalan tol ini bukan hanya proyek infrastruktur biasa. Tol Betung-Tempino-Jambi dirancang untuk menjadi penghubung vital antara sentra produksi pertanian, perikanan, dan perkebunan dengan pusat distribusi nasional. Hal ini dinilai dapat mendorong pemerataan ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
“Hingga Juni 2025, progres konstruksi untuk seluruh seksi non dukungan konstruksi (dukon) pemerintah, yaitu Seksi 1, 2, dan 4, rata-rata telah mencapai 28,02 persen, dengan progres pembebasan lahan sekitar 38,8 persen dari total panjang 135,2 kilometer,” ujar Adjib di Jakarta, Rabu (9/7/2025).
Ia menambahkan, ruas tol yang saat ini paling progresif adalah Seksi 4 Tempino-Ness sepanjang 18,5 kilometer. Ruas ini sudah mencatat progres konstruksi hingga 97,8 persen dan pembebasan lahan sebesar 98,86 persen. Sementara, Seksi 3 Bayung Lencir-Tempino sepanjang 34,10 kilometer telah lebih dulu beroperasi sejak akhir 2024.
Bangun Lima Simpang Susun
Selain mempersingkat perjalanan, tol ini berpotensi menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian lokal. Hutama Karya berencana membangun lima simpang susun strategis yang terkoneksi langsung ke sentra produksi pangan. Selain itu, rest area di sepanjang tol akan menjadi sarana strategis untuk memasarkan produk lokal.
“Tol ini bukan hanya jalan aspal. Kami ingin memberdayakan masyarakat lokal, termasuk pelaku UMKM dan petani, agar bisa memasarkan hasil bumi langsung kepada pengguna jalan. Dengan adanya rest area, produk seperti beras, jagung, sayuran, bahkan kerajinan lokal bisa dijual lebih luas,” jelas Adjib.
Baca Juga: Menteri PU Beberkan Rencana Anggaran 2025 Rp73,76 T, Fokus Jalan, Irigasi, dan Sekolah Rakyat
Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, wilayah Jambi dan Sumatera Selatan selama ini dikenal sebagai lumbung pangan nasional. Produksi beras, kelapa sawit, karet, dan komoditas perkebunan lainnya menjadi andalan ekonomi. Namun, distribusi produk-produk tersebut kerap terhambat oleh jalur transportasi darat yang panjang dan waktu tempuh lama.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pentingnya tol ini untuk mendukung target nasional, mulai dari swasembada pangan hingga hilirisasi industri. Infrastruktur yang baik akan memperkuat daya saing dan membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.
“Pembangunan infrastruktur yang mendukung konektivitas tentu akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” kata AHY dalam acara Konsultasi Regional Kementerian Pekerjaan Umum pada Mei 2025 lalu.
Dampak paling terasa nantinya adalah efisiensi waktu tempuh distribusi. Adjib menjelaskan, jalur Betung-Jambi yang kini ditempuh sekitar 6,5 jam dengan jarak 271 kilometer, bisa diselesaikan hanya dalam 2 jam bila menggunakan tol. Ini artinya ada penghematan waktu hingga 70 persen.
Harga Jual Lebih Tinggi
Pengurangan waktu distribusi tersebut sangat penting bagi sektor pertanian. Hasil panen petani seperti beras, jagung, atau sayur mayur dapat tiba di pasar dalam kondisi lebih segar, sehingga harga jual lebih tinggi dan kerugian akibat kerusakan pasca panen dapat ditekan.
Selain itu, biaya distribusi juga diperkirakan turun hingga 30 persen. Artinya, harga bahan pangan bagi konsumen bisa lebih stabil, sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan pelaku UMKM.
“Dengan tol ini, petani Jambi punya peluang lebih besar memasarkan produk ke Palembang, Lampung, bahkan Jakarta. Produk lokal bisa bersaing lebih baik,” imbuh Adjib.
Baca Juga: Kemenhub Usulkan Tambahan Anggaran Rp13,25 Triliun, Ini Alasannya
Hutama Karya menargetkan penyelesaian proyek ini bertahap mulai 2025 hingga kuartal IV 2026. Fasilitas crossing seperti overpass dan underpass juga akan dibangun untuk memastikan aktivitas masyarakat, terutama petani, tidak terganggu.
Hingga kini, Hutama Karya telah berhasil membangun sekitar 1.235 kilometer Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS), termasuk beberapa ruas strategis yang telah beroperasi, seperti Tol Bakauheni-Terbanggi Besar, Tol Palembang-Indralaya, Tol Pekanbaru-Dumai, dan lainnya. Tol Betung-Tempino-Jambi diharapkan menjadi tambahan signifikan yang mendukung transformasi ekonomi berbasis pertanian di Sumatera.
Bagi masyarakat Jambi dan Sumatera Selatan, kehadiran tol ini membuka harapan besar. Bukan hanya memperlancar mobilitas, tapi juga memberi ruang tumbuhnya ekonomi lokal, menggerakkan UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan petani yang selama ini menjadi pilar ketahanan pangan Indonesia. (GIT)































