JAKARTA, LINTAS — Sebanyak 40 hektare lahan pada demplot KM 21 Kawasan Sentra Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan ditargetkan memasuki panen perdana pada awal hingga pertengahan November 2026.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau kawasan tersebut pada Kamis (8/10/2026) untuk melihat kesiapan infrastruktur sumber daya air yang mendukung pengembangan pertanian di Wanam.
Menurut Dody, ketersediaan air menjadi faktor utama dalam pengembangan lahan pertanian di kawasan tersebut. Karena itu, jaringan irigasi harus mampu menyediakan air secara berkelanjutan, termasuk saat musim kemarau.
“Di saat musim kemarau ternyata di sini air mengalir. Kita harus memastikan air tawar ini tersedia dalam kondisi apa pun,” kata Dody.
Kementerian PU membangun jaringan irigasi rawa, saluran primer dan sekunder, serta saluran pengendalian banjir untuk mendukung pengembangan kawasan. Infrastruktur tersebut dirancang agar pasokan air tersedia sebelum perluasan lahan pertanian dilakukan.
“Kalau kita bicara sawah, porsi PU sebenarnya soal air. Kita siapkan irigasi primer, irigasi sekunder. Dari awal memang kita desain supaya airnya tersedia, kemudian pertanian yang mengembangkan lahannya,” ujar Dody.
Hingga 1 Oktober 2026, pembangunan jaringan saluran di KSPEAN Kabupaten Merauke telah mencapai 133 kilometer dari target 180 kilometer. Pekerjaan tersebut meliputi jaringan irigasi rawa dan saluran pengendalian banjir.
Sementara itu, penanaman padi tahap awal di demplot KM 21 dilakukan pada lahan sekitar 40 hektare. Tanaman tersebut diproyeksikan dapat dipanen paling lambat pertengahan November 2026.




“Paling lambat pertengahan November sudah bisa panen. Ini kita trial dulu, setelah itu tahap berikutnya tinggal menunggu arahan Kementerian Pertanian untuk memperluas penanamannya,” kata Dody.
Dikembangkan Bertahap
Pengembangan Wanam dilakukan secara bertahap. Pemerintah tidak membuka seluruh kawasan sekaligus, tetapi memulai dari tahap yang dinilai siap untuk menghasilkan produksi pertanian.
Salah satu sasaran awalnya adalah pengembangan sekitar 10.000 hektare sebagai bagian dari program Quick Win. Tahap berikutnya akan dihubungkan dengan berbagai infrastruktur pendukung, termasuk industri pangan, pelabuhan dan bandara.
Dody mengatakan pengembangan kawasan tersebut diarahkan untuk membuka sumber produksi pangan baru. Menurut dia, Indonesia membutuhkan cadangan pangan dan sumber produksi yang dapat berjalan secara berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
“Visi Presiden Prabowo adalah kita wajib memiliki cadangan pangan. Kondisi global dengan berbagai ketidakpastian membuat kita harus mengejar keberlanjutan. Karena itu, kawasan seperti Wanam ini harus kita siapkan,” tuturnya.
Selain pembangunan infrastruktur, Kementerian PU juga melibatkan masyarakat sekitar dalam pekerjaan di kawasan tersebut. Tenaga kerja lokal diikutsertakan sesuai dengan jenis pekerjaan yang dapat mereka lakukan.
“Di mana pun kita bekerja, kita wajib mengikutkan warga lokal sebagai pekerja, sebagai apa pun yang memang bisa dikerjakan oleh masyarakat lokal. Ini sesuai arahan Presiden sejak awal,” pungkas Dody. (CHI)












