JAKARTA, LINTAS – Setelah pada kategori beregu klasik tim gateball Indonesia berhasil jadi juara, di kategori tripel, Reni Gateball Indonesia mendapatkan medali emas. Di final RGB Indonesia mengalahkan tim Indonesia Gateball Association (IGA) dengan skor 13-8, Minggu (11/1/2026), di Stadion Nasional Suphachalasai (Stadion Jindarak), Wang Mai, Distrik Pathum Wan, Bangkok, Thailand.
Secara keseluruhan, tim dari Indonesia mendominasi kategori tripel. Pada perebutan tempat ketiga dan keempat, Kabayan Tanding GC menempati posisi keempat setelah kalah dari tiim India 11-13. “Kami, IGA, di beregu juara. Namun, di kategori tripel kami finis di peringkat kedua atau runner-up. Kami kalah dari tim yang juga berasal dari Indonesia, yakni RGB Indonesia,” kata Randi kepada Majalah Lintas, Senin (12/1/2026).
Dijelaskan Randi, tim yang bermain di kategori beregu dipisah menjadi dua tim di kategori tripel, masing-masing IGA A dengan kapten Firman Hidayat Pido dan IGA B dengan kapten Amiruddin Hasibuan alias Ucok dari Dinas Jambi.
“Untuk pemain di IGA A ada Indra Fauzi Wijaya (Balai SDA Citanduy) dan Yoggi Aristanto, dan Ibnu Kurniawan. Sementara di IGA B dipimpin Kapten Amiruddin Nasibuan, dengan anggota tim Musdiyanto Mukti (BWS Brantas), Amirudin (Bina Marga Pusat),” ujar Randi.
Ketemu di 8 Besar
Pada babak penyisihan, baik IGA A maupun IGA B dua-duanya menjadi juara pul. Karena itu, kedua tim terpaksa saling mengalahkan di babak 8 besar. “Di situ memang harus bertanding dan menentukan siapa yang lebih pantas melaju ke babak berikutnya. Hasilnya, IGA A melaju, sementara IGA B terhenti di delapan besar,” ujar Randi.
Di semifinal IGA A bertemu klub India C. Kemudian di babak final bertemu dengan tim RGB akhirnya meraih peringkat II.
Yang menarik, sama dengan final kategori beregu, final kategori tripel IGA berhadapan dengan RGB Indonesia. Kali ini, RGB Indonesia berhasil jadi juara. Tim RGB Indonesia sukses memanfaatkan kelengahan dari IGA dan keluar sebagai juara.
“Salah satu faktor kekalahan IGA A karena bola 8 hingga akhir tidak masuk. Faktor lain adalah kelelahan, karena kami sudah bertanding selama empat hari berturut-turut,” ujar Randi.
Meskipun berhasil membawa banyak medali, gelar juara umum tidak disediakan oleh panitia pelaksana Thailand Open.
Dijelaskan Randi, piala untuk juara umum tidak disediakan oleh penyelenggara. “Nilai kami sama dengan RGB, masing-masing satu emas dan satu perak. Namun, kami unggul di kategori beregu, yang memiliki gengsi lebih tinggi,” ujar Randi.
Adapun juara kategori tripel membawa pulang hadiah 10.000 baht (setara Rp 5.367.300). “Jika dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan memang hadiah relatif kecil. Namun, Thailand Open ini penting untuk mendapatkan pengakuan, terutama karena turnamennya berstatus internasional,” ujar Randi.

Jumlah Panitia Minim
Turnamen ini diselenggarakan oleh Otoritas Olahraga Thailand, Thai Masters Association, dan Thai Gateball Union 7–11 Januari 2026. Adapun terkait penyelenggaraan, Randi menyampaikan bahwa Thailand Open diselenggarakan dengan jumlah panitia yang minim.
“Dari sisi sistem kepanitiaan, Thailand jauh lebih efisien. Panitianya sangat minim, hanya sekitar empat orang, tetapi turnamen internasional bisa berjalan lancar,” kata Randi.
Hal itu, kata Randi, didukung dengan sistem yang rapi, termasuk penggunaan barcode untuk data peserta. “Setiap bagian ditangani satu orang. Untuk wasit, setiap pertandingan ada satu wasit, satu pencatat skor, dan satu linesman. Peserta beregu berjumlah 32 tim, sementara tripel sekitar 42 tim,” ujarnya.
Pada pelaksanaan Thailand Open, panitia menggunakan 6 lapangan. Adapun jenis lapangan yang digunakan adalah lapangan dengan rumput alami. “Namun, kondisinya kurang rata, banyak lubang,” kata Randi.
Randi berharap, ke depan Indonesia terus mengirim tim gateball untuk mengikuti turnamen internasional. Ini penting untuk mempersiapkan tim gateball Indonesia untuk SEA Games 2027 yang digelar di Malaysia. (HRZ/PAH)
Baca Juga: Pergatsi Berjaya di Thailand Open 2026





















