SIDOARJO, LINTAS – Upaya pengamanan kawasan Lumpur Sidoarjo,Jawa Timur terus diperkuat untuk mengantisipasi limpasan lumpur akibat penurunan tanah dasar serta disisi lainnya terjadi fenomena peningkatan volume lumpur hingga saat kini.
Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah menambah peninggian tanggul sementara (temporary) pada elevasi + 9.70 MDPL diatas tanggul yang ada (existing) pada elevasi + 8.03 MDPL menggunakan lumpur sedimen klastik halus berupa lempung (clay) dan lanau (silt) yang tempatkan pada titik-titik rawan rembesan lumpur tersebut, sembari mempercepat pembangunan tanggul permanen yang ditargetkan selesai pada tahun 2026.
Langkah tersebut difokuskan titik kritis, terutama di kawasan bagian barat jalur tanggul 10D, yang menjadi lokasi dengan tingkat penurunan tanah signifikan dibandingkan area lainnya.
Kepala Bidang Operasional Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), Ir. Nalvian, SST., M.T., menjelaskan bahwa tanggul yang dibangun sebelumnya berada pada elevasi + 11.00 meter di atas permukaan laut (MDPL). Namun, akibat proses penurunan tanah (land subsidence), elevasinya kini turun mencapai rerata + 8,03 MDPL.
“Awalnya tinggi tanggul berada pada elevasi + 11.00 MDPL. Namun karena kondisi tanah dasar yang sangat lunak dan terus mengalami penurunan, saat ini keberadaan elevasinya berada pada + 8.03 MDPL. Penurunan ini bukan dikarenakan tanggul mengalimi rusak, akan tetapi dikarenakan mengalami penurunan (deformasi),” ujar Nalvian saat ditemui Lintas, Jumat (31/7/2026).

Lapisan Tanah Lunak
Nalvian menambahkan, kawasan Lumpur Sidoarjo berada di atas lapisan tanah yang sangat lunak sehingga memiliki daya dukung rendah. Berdasarkan hasil pengujian tanah, nilai NSPT (Standard Penetration Test) pada kedalaman sekitar 40 meter hanya mencapai nilai 3 sangat lunak (very soft) untuk material tanah lempung, jauh di bawah nilai ideal berkisar 10-30 yang umumnya dibutuhkan sebagai dasar pondasi suatu struktur.
Kondisi geologi tersebut menyebabkan tanggul maupun infrastruktur lain di sekitarnya, termasuk jalur rel kereta api, terus mengalami penurunan secara alami. Akibat turunnya elevasi tanggul, permukaan lumpur di dalam kolam penampungan semakin tinggi sehingga meningkatkan risiko limpasan maupun rembesan ke arah luar tanggul.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PPLS membangun tanggul sementara menggunakan material lumpur yang dikeruk dari dalam kolam. Tanggul darurat tersebut ditempatkan di atas tanggul eksisting untuk menambah ketinggian elevasi + 10.00 MDPL, sehingga mampu menahan/mencegah limpasan lumpur (over storage) pada elevasi + 8.73 MDPL.
Selain itu, PPLS juga membangun banwall atau tanggul penahan sebagai pelindung yang berfungsi melokalisasi aliran lumpur agar tidak langsung memberikan tekanan pada tanggul utama. Struktur tersebut juga membantu mengarahkan aliran lumpur sehingga kapasitas kolam tetap terjaga.
Tanggul Permanen Sedang Dibangun
Sementara itu, Kepala SNVT PPLS, Ir. Mahdani, S.T., M.T., IPU, mengatakan pembangunan tanggul permanen telah dimulai sebagai solusi jangka panjang dalam menjaga keamanan melimpasnya Lumpur dikawasan permukiman dan sekitarnya.
“Pembangunan tanggul permanen saat ini sudah berjalan. Tanggul sementara tetap dipertahankan sebagai langkah antisipasi, sementara konstruksi permanen dilaksanakan secara bertahap dengan target penyelesaian pada tahun 2026,” kata Mahdani.


Menurutnya, pekerjaan diprioritaskan pada kawasan 10D sepanjang sekitar 750 meter, yang menjadi titik paling rawan karena penurunan tanah yang bervariasi rata-rata hingga 30-50 sentimeter per tahun. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan titik lain yang rata-rata mengalami penurunan hanya beberapa sentimeter setiap tahun.
Selain meninggikan tanggul, PPLS juga terus melakukan pengerukan lumpur untuk mengurangi tekanan terhadap tanggul. Lumpur kemudian dicairkan dan dialirkan menuju Sungai Porong melalui sistem pengaliran yang dilakukan secara rutin. Saat ini volume lumpur di kawasan penanganan diperkirakan mencapai sekitar 31 juta meter kubik pada elevasi eksisting tanggul + 8.03 MDPL.
Mahdani menambahkan, seluruh pekerjaan dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan kawasan Lumpur Sidoarjo yang terdampak sejak semburan terjadi. Dengan pembangunan tanggul permanen yang kini berlangsung, diharapkan sistem pengamanan kawasan menjadi lebih terjaga dan mampu mengantisipasi meluap (overtoping) lumpur dalam jangka PANJANG. (CHI)
Baca Juga: El Nino Picu Kekeringan, Kementerian PU Kirim Air Bersih ke Situbondo















