Sudah menjadi rahasia umum bahwa musuh jalan adalah air. Bahkan, para praktisi mengatakan musuh jalan ada 3, yakni air, air, dan air. Walaupun kerusakan jalan disebabkan juga oleh muatan kendaraan yang melebihi batas kemampuan jalan.
Oleh Achmad Maliki
Di banyak ruas jalan, kerusakan jalan dimulai dari kurang maksimalnya drainase yang berfungsi mengalirkan air permukaan agar tidak menggenangi jalan. Para perencana jalan tahu persis bagaimana merencanakan sistem drainase jalan yang dapat membebaskan jalan dari genangan air.
Namun, pada ruas jalan yang memotong aliran sungai atau saluran diperlukan kajian yang melibatkan dua konsep berbeda. Kedua konsep itu adalah dari aspek jalan dan sumber daya air.
Konsep jalan pada pertemuan dengan sungai lebih memilih lokasi di ruas sungai yang memiliki lebar terkecil dengan pertimbangan untuk efisiensi biaya pembangunan jembatan atau gorong-gorong (box culvert). Di samping itu elevasi jembatan diupayakan tidak terlalu tinggi. Hal ini dengan maksud untuk kenyamanan lalu lintas dan tidak memerlukan konstruksi oprit yang terlalu curam.
Alternatif membangun konstruksi box culvert lebih banyak dipilih karena pertimbangan kemudahan dalam pelaksanaan di lapangan. Konstruksi box culvert dapat dibuat di pabrik kemudian diangkut ke lokasi untuk dipasang.
Rekayasa Teknik
Sementara konsep sumber daya air sangat berlawanan dengan konsep jalan di mana setiap bangunan yang didirikan di sungai tidak boleh mengurangi luas penampang sungai ideal. Termasuk ketinggian muka air banjir di sungai pada skala debit tertentu.
Kolaborasi kedua konsep yang berlawanan tersebut dapat dipertemukan melalui pendekatan rekayasa teknik yang dapat diterima oleh setiap konsep, baik jalan maupun air.
Perencana jalan dapat memilih alternatif pembangunan box culvert dengan syarat luas penampang basahnya sama atau lebih luas daripada penampang sungai yang ada. Dengan begitu aliran sungai tidak akan mengalami penyempitan/bottle neck saat melalui bangunan pelintasan.
Bottle neck akan menimbulkan back water ke arah hulu sungai sehingga muka air sungai naik dan pada gilirannya berakibat banjir atau tergenangnya kawasan di sekitar sungai.
Mengeruk Sedimentasi
Bangunan box culvert yang direncanakan di sungai yang lebar umumnya lebih dari satu lubang. Hal itu untuk mencegah tersumbatnya salah satu lubang akibat sedimentasi di sungai.
Untuk mengeruk sedimentasi di dalam box culvert perlu dirancang konstruksi khusus berupa sponeng untuk meletakkan stoplog di mulut/hulu box culvert. Karena itu, pada saat dilakukan pengerukan sedimen di dalam box culvert, aliran air sungai dapat ditutup sementara. Penutupannya dengan memasang stoplog pada tempat yang telah disediakan.
Demikian seterusnya dilakukan secara bergantian untuk lubang-lubang box culvert lainnya yang mengalami sedimentasi.
Dari aspek sumber daya air untuk memenuhi tuntutan elevasi muka air maksimum/banjir, solusi di atas belum menyelesaikan persoalan secara komprehensif. Untuk itu, diperlukan kompromi antara konsep jalan dan air dengan memilih elternatif elevasi muka air yang dapat diterima bersama.
(Achmad Maliki, Kepala BWS Kalimantan 3 2007-2011; Dosen di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Universitas Trisakti)



















