Home Berita Saran MTI untuk Industri Kereta Api di Indonesia

Saran MTI untuk Industri Kereta Api di Indonesia

Share

JAKARTA, LINTAS — Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia atau MTI Tory Damantoro memberikan saran untuk penguatan industri kereta api di dalam negeri mengingat sektor transportasi berbasis rel ini bakal jadi andalan masyarakat.

Tory menjelaskan, Pemerintah sudah menghabiskan hingga ratusan triliun Rupiah untuk pembangunan Kereta Cepat Whoosh dan LRT Jabodebek. Ia juga mengingatkan adanya potensi pengeluaran anggaran besar dalam pengembangan MRT Jakarta.

“Kalau MTI melihat Pemerintah harus mulai serius untuk membangun industri kereta api. Selama ini kereta api counter part-nya hanya PT KAI. MTI mendorong ada industri,” ujar Tory dalam keterangan MTI, Sabtu (30/12/2023).

“Karena untuk pembangunan LRT Jabodebek sepanjang 42 km biayanya Rp 31 triliun dan untuk Kereta Cepat biayanya Rp 114 triliun. Belum lagi nanti kalau ada pembangunan MRT tahap 4 tahap 3 dan sebagainya,” lanjut dia.

MRT Jakarta. | MajalahLintas/Edwan Ruriansyah
MRT Jakarta. | MajalahLintas/Edwan Ruriansyah

Tory mengatakan, industri kereta yang dimaksud, harusnya bisa menyediakan kebutuhan sarana kereta ke depannya.

Salah satu contoh yakni PT INKA memperluas cakupan bisnisnya tergantung pada jenis-jenis kereta yang beroperasi di Indonesia.

“Jadi ini harus serius membangun industri kereta apinya, termasuk rolling stock PT INKA kalau bisa ada jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan untuk masing-masing jenis model kereta api di Indonesia. Karena ke depannya ini adalah berkaitan dengan logistik,” ujarnya.

Tory juga meminta adanya penguatan elektrifikasi lintasan pada operasional kereta yang sudah berjalan, khususnya di kota-kota seperti Bandung, Semarang, hingga Surabaya.

Hal ini dengan tujuan untuk meningkatkam frekuensi angkutan dan peningkatan layanan dari mode transportasi tersebut.

“Dari perkembangan yang terjadi di tahun 2023 ini, MTI mendorong Kementerian Perhubungan segera dilakukan elektrifikasi lintasan kereta perkotaan di Bandung, Semarang, Surabaya, dan Medan,” lanjut Tory.

“Hal ini untuk peningkatan frekuensi dan layanan angkutan kereta perkotaan yang didukung dengan integrasi layanan antarmoda, terutama di simpul-simpul transportasi seperti terminal bus, pelabuhan, dan bandara,” tuturnya. (ATO)

Baca Juga: Terus Naik, MRT Jakarta Layani 105.124 Penumpang Setiap Hari

Share