JAKARTA, LINTAS – Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A terus menunjukkan progres signifikan dengan berbagai pekerjaan utama yang tengah dikebut. Berdasarkan laporan terbaru, paket kontrak CP201 yang mencakup jalur Thamrin—Monas telah mencapai 85,44 persen.
“Sejumlah pekerjaan utama di Stasiun Thamrin seperti pemasangan sheetpile di entre 4, 7, dan 8; instalasi sistem HVAC, suplai air, drainase, pemadam kebakaran, dan elektrikal sedang dalam tahap pengerjaan. Tim konstruksi juga tengah melakukan finishing plaster, pengecatan dinding di area beranda peron, serta pemasangan dinding AAC dan PSD Hanging Beam di area peron,” ujar Kepala Divisi Corporate Secretary MRT Jakarta, Ahmad Pratomo, dari web MRT, Selasa (11/2/2025).
Stasiun Thamrin sendiri menjadi stasiun terpanjang di fase 2A dengan panjang sekitar 440 meter. Sementara itu, di Stasiun Monas, pengerjaan instalasi homogenous tiles di koridor entre 2 serta pengujian eskalator di peron dan beranda peron terus dipercepat. MRT Jakarta menargetkan penyelesaian konstruksi CP201 pada akhir tahun 2025.

Progres CP202 Capai 46,11 Persen
Ia menjelaskan, pada paket kontrak CP202 yang mencakup Stasiun Harmoni—Sawah Besar—Mangga Besar, sejak dimulai pada 25 Juni 2022, progres konstruksi per 25 Januari 2025 telah mencapai 46,11 persen.
Di Stasiun Harmoni, pekerjaan yang tengah berlangsung mencakup ekskavasi boks stasiun, pengecoran lantai dasar, atap stasiun, dan pembangunan area beranda peron. Tim konstruksi juga sedang memasang gantry crane sebagai persiapan pembangunan terowongan.
Sementara itu, di Stasiun Sawah Besar dan Mangga Besar, ekskavasi boks stasiun masih berlangsung. Setelah penyelesaian D-Wall, tim melanjutkan ekskavasi area launching dan receiving shaft TBM, serta pengecoran roof slab boks stasiun. Kedua stasiun ini akan menjadi stasiun kereta empat tingkat di bawah tanah pertama di Indonesia.
“Untuk paket kontrak CP203 yang mencakup Stasiun Glodok dan Kota, kedua terowongan penghubung telah selesai dibangun. Hingga 25 Januari 2025, progresnya telah mencapai 67,95 persen,” ujar Tomo, sapaan Ahmad Pratomo.
Sedangkan di Stasiun Kota, beberapa pekerjaan utama meliputi pembangunan struktur peron, tangga, dinding arsitektur, serta instalasi mekanikal, elektrikal, dan pipa. Pekerjaan konstruksi entre 3 dan 4 juga tengah berlangsung.
Di Stasiun Glodok, pembangunan terowongan dari sisi selatan menuju sisi utara Stasiun Mangga Besar sedang dilakukan menggunakan TBM 1. Sementara itu, terowongan northbound telah selesai dikerjakan oleh TBM 2.
“Pekerjaan lainnya seperti invert slab di terowongan Stasiun Glodok dan Mangga Besar, struktur tangga akses damkar di sisi utara, serta instalasi mekanikal dan elektrikal masih terus dikebut,” kata dia.
Baca Juga: 40 Persen Pendapatan MRT Jakarta Disumbang dari Naming Right
Lebih lanjut Ahmad Pratomo mengatakan, pada paket kontrak CP205 yang mencakup sistem perkeretaapian dan rel, proyek ini telah dimulai dengan ditandatanganinya kontrak kerja antara PT MRT Jakarta (Perseroda) dan Sojitz Corporation pada 17 April 2024 lalu.
Dengan periode kontrak selama 75 bulan hingga akhir 2029, progres pekerjaan per 25 Januari telah mencapai 11,48 persen.
Pekerjaan utama yang sedang dilakukan antara lain pengangkutan seluruh rel fase 2A, desain kapasitas main transformers, kabel 20kV, serta sistem telekomunikasi dan signalling backup automatic train supervision server.
Sementara itu, CP206 yang mencakup pengadaan rolling stock (ratangga) sedang dalam tahap market sounding dengan calon kandidat potensial untuk re-bidding. Sedangkan CP207 yang mencakup sistem pembayaran otomatis (automatic fare collection system) masih dalam proses klarifikasi dokumen tender.

Ditargetkan Selesai pada 2029
Fase 2A MRT Jakarta dirancang untuk menghubungkan Stasiun Bundaran HI hingga Kota dengan panjang sekitar 5,8 kilometer dan terdiri dari tujuh stasiun bawah tanah, yaitu Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota.
Pembangunan fase 2A dibagi menjadi dua segmen, yakni segmen Bundaran HI—Harmoni yang ditargetkan selesai pada 2027, dan segmen Harmoni—Kota yang direncanakan selesai pada 2029.
Fase 2A MRT Jakarta dibangun dengan anggaran sekitar Rp25,3 triliun melalui dana pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jepang.
Baca Juga: Program 3 Juta Rumah Dikebut, 123 Ribu Unit Siap Dibangun
Berbeda dengan fase 1, fase 2A mengadopsi konsep kawasan berorientasi transit (transit-oriented development), yang tidak hanya menyiapkan infrastruktur stasiun tetapi juga mengembangkan kawasan sekitar agar lebih optimal bagi mobilitas masyarakat.
“Pembangunan dengan konsep ini akan mengintegrasikan fungsi transportasi, kegiatan manusia, bangunan, dan ruang publik untuk meningkatkan aksesibilitas terhadap transportasi publik serta menunjang daya angkut penumpang,” tutur Tomo. (CHI)





