JAKARTA, LINTAS – Pembangunan dua Sekolah Rakyat di Provinsi Maluku Utara terus dikebut penyelesaiannya. Proyek yang berlokasi di Kabupaten Halmahera Barat dan Halmahera Utara tersebut ditargetkan segera siap digunakan untuk mendukung akses pendidikan bagi anak-anak dari berbagai latar belakang di wilayah kepulauan itu.
PT Hutama Karya (Persero) melalui HK–MAP KSO menjadi pelaksana pembangunan kedua sekolah berasrama tersebut. Hingga awal Juni 2026, progres pekerjaan telah melampaui 50 persen dan kini difokuskan pada penyelesaian arsitektur bangunan, penataan kawasan, serta pembangunan fasilitas pendukung.
Direktur Operasi II Hutama Karya, Mardiansyah, meninjau langsung perkembangan proyek di Halmahera Barat dan Halmahera Utara pada 3–4 Juni 2026. Dalam kunjungannya, ia menegaskan bahwa percepatan pembangunan harus tetap berjalan seiring dengan menjaga kualitas hasil pekerjaan.
“Kami memprioritaskan kualitas di setiap tahapan dan terus memacu penyelesaian fisik di lapangan, sehingga fasilitas pendidikan ini siap mendukung proses belajar anak-anak Maluku Utara secara optimal,” kata Mardiansyah dikutip dari web Hutama Karya, Senin (8/6/2026).
Sejumlah Tantangan
Masing-masing sekolah dibangun di atas lahan sekitar 8,8 hektar dengan total luas bangunan mencapai kurang lebih 27.150 meter persegi. Kompleks pendidikan tersebut dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari gedung SD, SMP, dan SMA, asrama putra dan putri, rumah susun guru, masjid, gedung serbaguna, dapur, kantin, hingga lapangan olahraga.
Konsep sekolah berasrama diterapkan agar peserta didik dapat tinggal dan belajar dalam satu kawasan pendidikan yang terpadu selama menempuh pendidikan.
Dalam pelaksanaannya, pembangunan menghadapi tantangan logistik karena lokasi proyek berada di wilayah kepulauan. Material konstruksi harus diangkut melalui jalur laut menuju Pulau Halmahera dengan pengaturan pasokan yang disesuaikan jadwal pelayaran agar pekerjaan tetap berjalan sesuai target.
Selain itu, kondisi cuaca yang berubah-ubah juga menjadi faktor yang diperhitungkan dalam pengaturan ritme pekerjaan di lapangan.
Untuk mempercepat penyelesaian proyek, Hutama Karya menerapkan sejumlah strategi, antara lain memperpanjang jam kerja melalui sistem long shift dan menambah jumlah tenaga kerja pada masa puncak konstruksi. Produktivitas pekerjaan pengecoran juga ditingkatkan dengan penambahan peralatan beton.
Metode Konstruksi
Perusahaan turut menerapkan metode konstruksi yang lebih efisien, seperti penggunaan plat bondek dan precast fondasi foot plate guna mempercepat pekerjaan tanpa mengurangi standar mutu. Pada pekerjaan kawasan, dilakukan penimbunan makadam untuk mempercepat pemulihan akses jalan saat curah hujan tinggi.
Tak hanya menghadirkan fasilitas pendidikan, pembangunan Sekolah Rakyat juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sekitar 20 hingga 25 persen tenaga kerja proyek berasal dari warga lokal.
Selain itu, Hutama Karya menggandeng subkontraktor daerah dan memanfaatkan pasokan material dari pemasok setempat. Langkah tersebut turut mendorong perputaran ekonomi di sekitar lokasi proyek selama masa konstruksi berlangsung.
Kehadiran Sekolah Rakyat diharapkan dapat membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak Maluku Utara, terutama mereka yang selama ini menghadapi keterbatasan akibat faktor geografis maupun ekonomi.
Harapan tersebut disampaikan salah seorang warga Desa Tuniku, Nurlinda, yang berharap pembangunan sekolah dapat segera rampung dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Semoga cepat selesai, supaya anak-anak bisa sekolah. Karena banyak anak yang kurang mampu,” katanya. (CHI)
Baca Juga: Dikebut, Pembangunan Sekolah Rakyat Brebes Capai 55 Persen

























