Aceh,Lintas – Hujan dengan intensitas ekstrem yang melanda Provinsi Aceh pada rentang 18 hingga 26 November 2025 menyebabkan meningkatnya debit arus sungai secara signifikan dan berdampak pada infrastruktur jalan nasional.
Salah satu dampak terparah terjadi pada Jembatan Krueng Meureudu (01.005.025.0.3), tepatnya pada ruas jalan batas Kabupaten Pidie Jaya/Pidie–Meureudu di Km 156+400, yang mengakibatkan terputusnya oprit jembatan dari arah Banda Aceh.
Putusnya oprit jembatan tersebut menyebabkan terhentinya arus transportasi utama yang menghubungkan Banda Aceh dengan Medan maupun sebaliknya. Kondisi ini berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat serta distribusi logistik dan perekonomian wilayah sekitar.
PPK 1.2 Provinsi Aceh Satker PJN 1 Aceh, Rita Marleni, menjelaskan bahwa Jembatan Krueng Meureudu merupakan jembatan tipe Girder Beton Pratekan (GTI) yang dibangun pada tahun 1995. Menurutnya, kerusakan oprit terjadi akibat derasnya aliran banjir bandang yang menggerus struktur tanah di sekitar jembatan hingga akhirnya terputus pada 26 November 2025.


“Selain oprit jembatan yang hilang, kondisi jalan pendekat dari dua arah juga sempat tergenang lumpur dengan ketinggian antara 50 hingga 150 sentimeter, sehingga tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan,” ujar Leni saat diwawancarai Lintas, Sabtu (13/12/2025).
Sebagai langkah awal, Satker PJN 1 Aceh segera melakukan penanganan darurat guna memulihkan konektivitas jalan nasional tersebut. Penanganan pertama dilakukan dengan membersihkan sedimen dan material lumpur sisa banjir bandang yang menutupi badan jalan.
Setelah itu, dilakukan penanganan sementara berupa penimbunan oprit jembatan sepanjang kurang lebih 60 meter dengan lebar 11 meter dan tinggi mencapai 6 meter, yang dilengkapi proteksi pemancangan batang kelapa serta pemasangan batu boulder sebagai pengaman.
“Penanganan darurat ini kami laksanakan secara intensif agar akses transportasi dapat segera kembali dibuka. Total waktu pengerjaan selama 14 hari,” jelas Leni.
Berkat upaya tersebut, Jembatan Krueng Meureudu kini telah kembali fungsional dan dapat dilalui kendaraan sejak 12 Desember 2025.
Pemulihan akses ini diharapkan mampu mengembalikan kelancaran arus transportasi dan distribusi barang, sekaligus mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah Aceh.
Ke depan, Leni berharap dapat dilakukan penanganan permanen pada oprit Jembatan Krueng Meureudu guna meningkatkan ketahanan struktur terhadap potensi bencana serupa di masa mendatang.
“Penanganan permanen sangat diperlukan agar infrastruktur ini lebih aman dan berkelanjutan, mengingat ruas ini merupakan jalur vital nasional,” pungkasnya. (ROY/SAF)





