Dunia infrastruktur tak selalu didominasi pria, keterlibatan kaum wanita sangat terbuka bahkan ada yang memegang posisi kunci dalam organisasi.
Kebijakan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono tidak membedakan gender kaum laki-laki dan perempuan untuk bekerja, berkarya dan berkarier termasuk menduduki jabatan penting.
Oleh karenanya perempuan harus mampu menunjukan prestasi, bekerja keras, dan mampu menyelesaikan tugas yang diberikan. Perempuan harus juga mampu berperan sebagai ibu dan tetap dapat membagi waktu dengan anak dan suami.
Nurhasnah termasuk salah satu dari perempuan yang berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Menjabat sebagai PPK 3.7 pada Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah III Provinsi Sulteng, dia mampu membuktikan bahwa peran laki-laki dan perempuan adalah saling melengkapi.
Berasal dari keluarga yang berlatar belakang lingkungan PUPR mendorong Nurhasnah untuk juga menjadi bagian dari Kementerian PUPR.
“Bapak saya adalah pegawai PUPR dan terus terang saya besar di lingkungan PUPR, sehingga saya menjadi tertarik untuk mendalami walaupun pada awalnya tidak terpikirkan menjadi pegawai PUPR,” ujarnya.
Dia mengaku senang dan bangga ketika pertama kali mengetahui diterima bekerja di Kementerian PUPR dan berhasil mewujudkan cita-cita masa kecilnya.
“Pertama saya mengikuti tes di Kementerian PUPR di Makassar saya tes di sana 2 kali dan tahapannya harus benar-benar kita ikuti, saya mengikuti tes untuk pegawai negeri sipil tahun 1997 dan diterima serta mendapat SK penetapan di tahun 1998. ” kenangnya.
Sebelum menjadi Pegawai Negeri Sipil, Nurhasnah bercerita dia ditempatkan di Unit Perencanaan pada tahun 1995 sebagai Surveyor.
“Awalnya bekerja, yang harus kita pelajari membantu proses penggambaran kemudian terjun kelapangan menjadi surveyor, posisi saya masih di status D3 karena di Sulawesi Tengah baru ada S1 di tahun berikutnya sehingga ketika diangkat pertama kali jadi pegawai negeri saya masih di status D3 Sipil,” lanjutnya.
Pada tahun 1998 Nurhasnah masih menjadi staf Perencanaan Jalan dan Jembatan di P2JN, kemudian di tahun 2003 menjadi KTU di Perencanaan Kota. Di tahun 2004 dia kembali ke P2JN dan diangkat menjadi KTU hingga 2013.
“Pertama masuk ke proyek fisik saya menjadi Korlap di PPK Ampana antara Poso – Luwuk sekarang Touwna, kemudian pada tahun 2014 saya di tugaskan ke Satker menjadi TU, selanjutnya pada tahun 2017 saya ditugaskan menjadi asisten teknik di Satker Wilayah III, dan pada tahun 2018 saya menjadi PPK pertama kali di ruas Pagimana – Batui, kemudian saya bertugas di ruas Bungku – Bahadopi – Bts. Sultra dari tahun 2019 sampai dengan sekarang,” jelasnya.
Perihal bimbingan langsung dari atasan, dia mengatakan bahwa banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang diberikan oleh orang-orang yang pernah menjadi atasannya.
“Saya masih ingat dengan jelas pesan para atasan untuk mengerjakan sesuatu dengan totalitas, cintai pekerjaan supaya dapat memahami apa yang kita kerjakan, dan ini yang menjadikan saya agak cukup cerewet sekarang,” imbuhnya seraya tertawa.
Pengalamannya sebagai surveyor juga membuatnya menjadi lebih kritis dalam menanyakan kondisi-kondisi hasil survey jalan.
“Saya sekarang menjadi pengguna hasil survey jadi sekarang saya perlu penjelasan yang detail, saya selalu menanyakan ini survey apa, karena tidak jarang kondisi eksisting jalan tidak baik, akan tetapi menurut data mereka kondisi jalan baik, hal seperti inilah yang kadang sering kali terjadi dalam survey.”
Selain sebagai bagian dari Kementerian PUPR, Nurhasnah juga merupakan seorang Ibu Rumah Tangga yang memiliki tiga orang anak dan memiliki suami yang juga bekerja di lingkungan PUPR
Meskipun demikian, dia tetap berusaha mengatur waktu sesuai porsi masing-masing dan tetap menjalankan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya baik didalam pekerjaan maupun berumah tangga.
“Pada saat libur porsi saya untuk keluarga dan tidak dapat diganggu, walau terkadang di hari sabtu saya masih suka pergi bekerja ketika dipanggil ke kantor, tapi karena anak saya sudah besar semua, sudah kuliah sehingga lebih mudah mengerti, saya memiliki satu anak perempuan dan itu yang menjadi kekuatan saya kalau sedang tugas keluar karena dapat ikut mengurus kedua adik laki-lakinya” ungkapnya.
Sebagai ibu, memperlakukan anak selayaknya seperti teman , hal ini menjadi salah satu senjata untuk menjaga komunikasi dengan anak-anak. Dengan demikian setiap kali ada permasalahan atau apaupun anak-anak akan terbuka terhadap orang tuanya.
Terakhir ia berpesan kepada para perempuan yang bekerja di lingkungan PUPR, cintailah pekerjaan agar bisa dilaksanakan dengan baik, dengan mencintai pekerjaan dapat mendalami dan memahami pekerjaan supaya tidak bertindak semaunya dalam pekerjaan karena semua sudah ada aturannya yang menjadi acuan kita.
Apapun posisi dalam bekerja, apapun jabatan nya, tetaplah ingat selalu kodrat kita sebagai perempuan, itu sudah ditentukan. Tetap menjaga dan mengutamakan keselamatan diri dalam bertugas.





