JAKARTA, LINTAS — PT Meindo Elang Indah sebagai perusahaan terkemuka di Indonesia yang bergerak di EPCIC (Engineering, Procurement, Construction, Installation, dan Commissioning) memiliki komitmen kuat terhadap kualitas, keselamatan kerja (HSE), dan penerapan sistem manajemen terpadu yang memenuhi standar internasional seperti ISO 9001, ISO 14001, dan OHSAS 18001.
Chief Business Development Officer di PT Meindo Elang Indah (EPCIC), Ir Bisri Hasyim, IPU, Selasa (2/9/2025), mengatakan, komitmen Meindo untuk memastikan kualitas dan HSE (Health, Safety, and Environment) sebagai landasan dalam pelaksanaan semua proyek dan operasional, juga akan terus mempertahankan dan menerapkan Sistem Manajemen Terpadu (IMS) yang terakreditasi, serta Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) nasional untuk perbaikan berkelanjutan melalui audit dan pelatihan.
“Meindo sebagai salah satu perusahaan kontraktor EPCIC terkemuka di Indonesia dengan lebih dari 35 tahun unggul dalam menangani proyek-proyek di offshore maupun onshore, baik itu pekerjaan instalasi pipeline, topside, jacket, modul rekayasa, dan banyak lainnya,” kata Bisri.
Meindo terus berkembang dan menjadi perusahaan terkemuka sebagai kontraktor dalam negeri. Ini menjadi modal penting Indonesia, khususnya di sektor hulu migas untuk mewujudkan Astacita Pemerintah dan kemandirian energi dalam negeri, serta untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Ketahanan energi dapat memberikan manfaat besar bagi perekonomian nasional dan kemakmuran rakyat. Tanpa ketahanan energi, ketahanan di sektor lain tidak dapat terwujud.
Tangani 200 Proyek
Ia menambahkan, sampai dengan saat ini Meindo sudah menangani kurang lebih 200 proyek di hulu migas, mulai dari darat yang terkecil berupa proyek maintenance long term (pemeliharaan untuk jangka panjang) sampai dengan yang besar sekalipun.
Proyek-proyek tersebut mencakup pembangunan fasilitas produksi, platform lepas pantai, pipa bawah laut, hingga fasilitas pemrosesan migas. Pencapaian ini menjadi bukti pengalaman dan kredibilitas kami di industri migas.
Baca Juga: Kementerian PU Siapkan Rp 900 Miliar untuk Perbaikan Fasum Rusak Imbas Demo
“Bagi kami, setiap proyek memiliki nilai lebih masing-masing, tetapi saat ini Meindo tengah menangani AOI project PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) dengan pabrikasi yang dilakukan di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, menggunakan caisson foundation construction. Konstruksi ini memiliki keunggulan karena tidak lagi dilakukan dengan metode pancang manual, melainkan menggunakan teknik pemancangan hingga ke dasar laut yang kemudian menggunakan sistem vacuum,” ujarnya.
Ada dua platform yang masih ongoing dan akan onstream di beberapa bulan ke depan. Teknologi baru foundation caisson ini baru pertama kali diterapkan di Indonesia oleh Meindo sebagai kontraktor dalam negeri yang mengerjakan 6 platform sekaligus.
Salah satu proyek terbesar yang pernah ditangani Meindo adalah penggelaran pipa berukuran 52 inci pada proyek lepas pantai offshore RDMP (Refinery Development Master Plan), Lawe-Lawe, Balikpapan, milik PT Kilang Pertamina Indonesia.
Meindo dipercaya sebagai subcontractor karena memiliki capability yang memadai serta dukungan armada kapal di lokasi tersebut. Dan proyek tersebut telah berhasil diserahterimakan pada Maret 2025.
Berkolaborasi dengan Pendidikan Tinggi
Meindo dalam pengembangan sumber daya manusia, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat pada bidang infrastruktur kelautan telah menjalin kerja sama sejak 2022 dengan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB).
Kerja sama ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan industri strategis nasional, khususnya dalam mendukung pengembangan kompetensi sumber daya manusia dan teknologi di sektor teknik lepas pantai.
Melalui kolaborasi tersebut, Meindo dan FTSL ITB berharap dapat menciptakan solusi inovatif yang relevan dengan kebutuhan industri serta meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan profesional di lapangan.

Adapun kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan matching fund Kedaireka, yaitu pengembangan metoda dan studi kelayakan dekomisioning anjungan lepas pantai di Indonesia, melalui kunjungan dosen dan mahasiswa ITB ke yard, pengadaan kerja praktik/magang industri yang telah dilakukan oleh delapan mahasiswa FTSL, serta penelitian kolaborasi internasional bersama universitas di Asia Tenggara dengan support dari Royal Engineering, London.
“Sebagai kontraktor EPCIC bagi Meindo mendukung keberpihakan dalam negeri dan berharap migas tetap menjadi motor penggerak ekonomi nasional, sekaligus menjamin ketahanan energi Indonesia,” tutur Bisri. (PAH/SAL/*)






















