Berpindah kerja di tempat baru, bagi Dr Ir Junaidi, MT sudah merupakan hal biasa. Bukan sesuatu yang sulit bagi dirinya untuk menyesuaikan diri dengan rekan-rekan di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Sumatera Utara.
Dilantik menjadi Kepala BBPJN Sumatera Utara per 2 Mei 2023 menggantikan Brawijaya, yang pada hari yang sama ditugaskan di BBPJN DKI-Jawa Barat, Junaidi langsung bergerak.
”Pada tugas baru ini, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk meneruskan apa yang sudah dirintis oleh Kepala Balai sebelumnya dan melengkapi kalau ada program yang belum optimal,” ujar kakek dari tiga cucu ini.
Setelah mempelajari dan mengadakan konsolidasi internal BBPJN, Junaidi mengaku memiliki sejumlah program yang segera dikerjakan.
“Kami segera menuntaskan penugasan terkait Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba. Terus juga ada jalan penunjang food estate, yang belum 100 persen selesai. Hal itu betul-betul akan kami tuntaskan,” kata Junaidi yang lahir di Lahat, Sumatera Selatan, itu.
Jalan penunjang yang dimaksud Junaidi adalah akses menuju Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH) di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Tak ketinggalan, Junaidi juga berjanji, akan menuntaskan pekerjaan-pekerjaan di daerah-daerah, seperti di Pulau Nias dan Berastagi, Karo.
“Akses ke perkebunan jeruk di Berastagi di Liang Melas Datas, Karo, yang merupakan penugasan dari Bapak Presiden, kami harapkan tahun 2023 ini bisa tuntas,” kata penyuka olahraga joging dan tenis meja tersebut.
Selain itu, juga dalam waktu dekat, akan ada pembangunan underpass di Jalan Gatot Subroto, Kota Medan.
”Di tengah Kota Medan, tepatnya di Jalan Gatot Subroto, kami bangun underpass karena di titik itu sering terjadi kemacetan. Terjadi bottle neck sehingga lalu lintas menjadi padat. Kami segera berkoordinasi dengan instansi terkait, terutama mengenai utilitas dan pembebasan lahan,” kata lulusan Teknik Sipil Universitas Sriwijaya (1983-1988) tersebut.
Selain itu, kata Junaidi, pihaknya bertanggung jawab untuk mengerjakan perbaikan jalan daerah melalui skema dana berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2023 tentang Percepatan Peningkatan Konektivitas Jalan Daerah. Pada Batch 1 ini, Provinsi Sumatera Utara mendapatkan dana sebesar Rp 1,019 triliun.
Perjalanan Karier
Setelah tamat kuliah dari Teknik Sipil Universitas Sriwijaya (1988), Junaidi diterima di Kementerian Pekerjaan Umum pada 1990. Ia ditugaskan pertama sekali di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), selama 10 tahun (1990-2000).
Setelah dari Flores, Junaidi pada tahun 2000 pindah ke tanah kelahirannya di Palembang, Sumatera Selatan. Ia bertugas menjadi pimpinan proyek hingga tahun 2016. Selain menjadi pimpro, ia juga menjadi kepala satuan kerja.
Lewat berbagai pengalaman dan tempaan yang dijalani, Junaidi pun diberi tanggung jawab lebih besar. Pada 2016, ia diangkat sebagai Kepala BPJN Jambi-Kepulauan Riau. Kemudian pada awal 2018, ia dipindah lagi menjadi Kepala Balai di Kalimantan Barat selama satu setengah tahun.
“Mulai 2019 akhir, saya ditugaskan sebagai Kepala BPJN di Kalimantan Timur. Di Kalimantan Timur saya tiga tahun. Mulai 2019 akhir hingga 2023. Sekarang saya dipercaya menjadi Kepala BBPJN Sumut,” kata Junaidi yang lulus S-2 Teknik Sipil di Universitas Sriwijaya pada 2016.
Bagi Junaidi, sudah menjadi kepala Balai di tiga tempat selama 8 tahun, ia menduga dirinya mungkin yang terlama di antara yang lain.
“Jangan-jangan saya yang terlama jadi kabalai, he-he. Dengan penugasan di Sumut ini, berarti saya sudah empat kali menjadi kepala balai di tempat berbeda,” kata Junaidi.
Kontribusi dalam Pembangunan IKN
Dari banyak tempat penugasan yang dijalani Junaidi, tempat tugas yang paling berkesan adalah saat dipercaya menjadi Kepala BPJN Kalimantan Timur.
Waktu itu, bertepatan dengan dipastikannya pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
“Saat itu, saya mendapatkan surat penugasan dari Presiden Joko Widodo bahwa Ibu Kota Negara Nusantara dipastikan akan dibangun. Saat itu, waktunya sangat sempit,” katanya.
Ketika sudah ada kepastian IKN akan jadi dibangun, Junaidi pun langsung melaksanakan percepatan perencanaan program. Untuk desain, mereka menggunakan Building Information Modelling (BIM).
“Jadi, kalau perencanaan secara tradisional, paling tidak dibutuhkan waktu satu tahun untuk desain jalan tol dari Balikpapan sampai ke IKN. Namun, kami bisa menyelesaikan desain tersebut dalam waktu dua minggu menggunakan BIM,” kata Junaidi.
Sekarang, kata Junaidi, Jalan Tol Balikpapan-IKN sepanjang 47 km itu sudah terkontrak.
Junaidi tidak bisa menyembunyikan kebanggaannya ikut berkontribusi dalam sebuah sejarah baru di Republik ini. Selain merancang Jalan Tol Balikpapan-IKN, jalan tol bawah laut, Junaidi juga membangun Jembatan Pulau Balang, Titik Nol IKN, dan jalan-jalan utama di kawasan inti pusat pemerintahan.
Tidak itu saja, kebanggaan terbesar Junaidi saat bertugas di Kaltim, ia bisa menyelesaikan studi doktoralnya dengan desertasi terkait infrastruktur di IKN.
Meskipun berbagai prestasi didulang oleh Junaidi, sikap kesederhanaan dan rendah hati senantiasa terpancar lewat tutur kata yang apa adanya dan sangat bersahaja.
Tugas baru sebagai Kepala BBPJN Sumut, menurut Junaidi, berarti tantangan baru. Ia yakin, bersama dengan seluruh jajaran di BBPJN Sumut, dirinya bisa berkiprah dan melakukan yang terbaik demi Nusa dan Bangsa.
“Seperti yang selama ini sudah saya jalani, apa yang terbaik yang saya punya akan saya berikan juga di Sumatera Utara,” pungkasnya.
Selamat mengabdi di Sumut Pak Jun! (HRZ/AGN/ROY)




















