JAKARTA, LINTAS — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memperkuat program penataan kawasan permukiman di berbagai daerah sebagai bagian dari pelaksanaan Astacita Presiden Prabowo. Program ini diarahkan untuk membangun dari desa dan dari bawah guna mendorong pemerataan ekonomi serta pengentasan warga dari kemiskinan.
Menteri PU Dody Hanggodo, melalui keterangan tertulis, menyatakan, pembangunan infrastruktur permukiman tidak hanya memperbaiki kondisi fisik, tetapi juga menjadi instrumen sosial-ekonomi untuk memperkuat ketahanan masyarakat.

“Melalui penataan kawasan, kita memastikan layanan dasar, seperti air minum, sanitasi, dan ruang publik, benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Dody, Rabu (23/10/2025). “Pembangunan ini juga membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan kualitas hidup.”
Tujuh program
Sepanjang 2025, Kementerian PU melaksanakan tujuh program penataan kawasan permukiman di sejumlah daerah. Lokasi tersebut mencakup Medan Belawan Bahari (Kota Medan), Pulau Penyengat (Kota Tanjungpinang).
Kemudian Tanjung Banun (Kota Batam), Panjunan (Kota Cirebon), kawasan relokasi bencana Gunung Ruang (Sulawesi Utara). Termasuk Bahodopi (Kabupaten Morowali), serta Lelilef Waibulan (Kabupaten Halmahera Tengah).
Salah satu program unggulan adalah penataan Pulau Penyengat di Kepulauan Riau dengan investasi Rp 36,98 miliar. Kawasan cagar budaya ini ditata melalui pembangunan jalan lingkungan, drainase, plaza penyambut, hingga artworks bertema sejarah Melayu. Langkah tersebut diharapkan memperkuat daya tarik wisata sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan.
Di Medan, Sumatera Utara, program senilai Rp 18,89 miliar difokuskan pada pengendalian banjir rob dan peningkatan kualitas lingkungan pesisir. Sementara di Batam, penataan kawasan Tanjung Banun menjadi bagian dari penanganan relokasi masyarakat terdampak proyek Rempang Eco City. Pekerjaan infrastruktur dasar di lahan 36,77 hektar itu menelan biaya Rp 164,78 miliar.

Kementerian PU juga membangun hunian tetap untuk korban bencana Gunung Ruang di Sulawesi Utara di atas lahan 11,85 hektar dengan total 287 unit rumah dan berbagai fasilitas sosial. Nilai proyek ini mencapai Rp 115,92 miliar.
Adapun penataan kawasan Bahodopi dan Lelilef Waibulan diarahkan untuk mendukung pertumbuhan industri nikel di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara. Program ini menekankan keseimbangan antara ekspansi industri dan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar.
Sementara itu, optimalisasi kawasan Panjunan di Cirebon difokuskan pada penguatan struktur tanah dan penataan pedestrian dengan anggaran Rp 4,67 miliar. Pekerjaan menggunakan teknologi Corrugated Concrete Sheet Pile itu ditargetkan selesai pada Desember 2025.
Dengan program ini, Kementerian PU berharap penataan kawasan permukiman tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat di berbagai daerah. (HRZ)
Baca Juga: Kementerian PU Selesaikan Penataan Permukiman Kumuh di Pulau Penyengat

























