Pangkalpinang, Lintas – Permasalahan tanah lunak di Provinsi Bangka Belitung, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Bangka Belitung (BPJN Babel) saat ini sudah menerapkan penggunaan teknologi Mortar Foam (mortar busa) di Ruas Jalan Air Bara-Toboali (Bikang) KM 110+750 sampai dengan KM 111+750, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, sebagai solusi konstruksi di atas tanah lunak.
Kepala BPJN Babel Dadi Muradi, ST, MT, Kamis (15/6/2023), mengatakan, penerapan teknologi mortar busa pertama kali di BPJN Babel sebagai alternatif mengatasi permasalahan stabilisasi dan penurunan timbunan.

Teknologi mortar busa saat ini sudah diterapkan di berbagai konstruksi di Indonesia, beberapa di antaranya adalah Jalan Layang Antapani (Bandung), Flyover Klonengan (Tegal), dan Flyover Manahan (Solo).
Mortar busa merupakan optimalisasi penggunaan busa (foam) yang dipadukan dengan mortar (pasir, semen, dan air). Teknologi ini digunakan sebagai pengganti timbunan tanah atau sub-base yang biasanya dipakai.
Dikutip dari situs resmi Kementerian PUPR, waktu pengerjaan menggunakan teknologi mortar busa dapat dihemat sampai 50 persen dibandingkan dengan konstruksi konvensional, sehingga waktu pelaksanaan di lapangan juga dapat dihemat.

Teknologi yang dikembangkan oleh Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan) tersebut merupakan teknologi yang mengoptimalisasi penggunaan busa dan mortar berkekuatan tinggi, sehingga dapat dijadikan dasar atau perkerasan jalan pada tanah lunak.
Pada ruas jalan Air Bara-Toboali waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan menggunakan teknologi mortar busa adalah 180 Hari Kalender.
Keunggulan Mortar Busa
Keunggulan teknologi mortar busa salah satunya adalah memiliki kuat tekan yang cukup tinggi sesuai untuk jenis konstruksi penggunaannya. Misalnya, kuat tekannya bisa mencapai 1000 Kilonewton (kN) dalam 14 hari.
Sedangkan dari segi pelaksanaan di lapangan penggunaan teknologi tersebut memiliki kemudahan, yaitu dapat memadat dengan sendirinya karena berperilaku seperti mortar beton atau material campuran tersebut akan mengeras sesuai dengan waktu curring (pemeraman) yang ditetapkan.
Dadi mengatakan, saat ini teknologi mortar busa sudah dilaksanakan di ruas jalan Air Bara-Toboali (Bikang) KM 110+750 sampai dengan KM 111+750 sepanjang 1,00 km. Penanganan mortar busa pada ruas jalan tersebut dikombinasikan dengan penggunaan cerucuk kayu dengan mempertimbangkan hasil penyelidikan tanah di lapangan.

Dari segi pembiayaan penggunaan teknologi mortar busa lebih efisien untuk menangani permasalahan tanah lunak. “Artinya, dari sisi penghematan anggaran, teknologi mortar busa dapat berkontribusi dalam penghematan biaya belanja konstruksi. Biaya pelaksanaan pada penggunaan teknologi mortar busa di Bikang dibandingkan dengan penggunaan metode pile slab dapat lebih hemat sekitar 60-70 persen,” lanjutnya.
“Dilaksanakannya teknologi mortar busa di ruas jalan Air Bara-Toboali oleh BPJN Babel, diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan kondisi jalan yang rusak berat, serta dapat memacu personel di BPJN Babel untuk selalu berinovasi dalam pembangunan infrastruktur jalan nasional di Provinsi Bangka Belitung,” tutup Kabalai. (SAL)

























