JAKARTA, LINTAS — Opening Ceremony Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) ke-44 secara resmi dibuka pada 20 Oktober 2026 di Hotel Pullman Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat
Turut hadir meresmikan dan menyambut para delegasi, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, bersama seluruh jajaran pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII).
Penyelenggaraan CAFEO tahun ini diinisiasi oleh PII. Acara yang berlangsung pada 20-22 Oktober 2026 ini merupakan forum keinsinyuran terbesar di kawasan ASEAN yang diadakan secara rutin setiap tahun sejak 1982.
Diselenggarakan secara bergilir oleh organisasi keinsinyuran nasional yang tergabung dalam AFEO (ASEAN Federation of Engineering Organisations), tahun ini Indonesia kembali menjadi tuan rumah.
CAFEO 44 mengangkat tema “Future of Asean: Shared Prosperity and Humanity through Inclusive and Sustainable Industrialisation”.
Tema tersebut menekankan peran insinyur dalam mendorong industrialisasi dan kemajuan teknologi yang inklusif, berkelanjutan, serta berorientasi pada kemanusiaan.




Ketua Umum PII Ilham Akbar Habibie, menekankan pentingnya langkah konkret para insinyur dalam menjawab tantangan pembangunan kawasan.
“Saya mendorong agar kita tidak hanya berdiskusi, tetapi juga mengambil langkah-langkah konkret. Mari kita uraikan bersama tantangan-tantangan yang kita hadapi. Keberhasilan kita tidak boleh hanya diukur dari apa yang kita bicarakan hari ini,” kata Ilham dalam pembukaan konferensi di Pullman Bandung International Convention Center.
Sertifikat ASEAN Eng
Chief Business Development Officer di PT Meindo Elang Indah (EPCIC), Ir Bisri Hasyim, IPU, ASEAN Eng, memperoleh pengakuan profesional tingkat regional sebagai ASEAN Engineer (ASEAN Eng) dalam rangkaian kegiatan CAFEO ke-44 di Bandung.
Bisri mengatakan, sertifikasi dan gelar keinsinyuran tingkat regional di kawasan Asia Tenggara, yang diterbitkan oleh AFEO (The ASEAN Federation of Engineering Organizations) ini merupakan bentuk pengakuan atas kontribusi insinyur dalam mengembangkan keahliannya.
“Artinya, kualifikasi insinyur Indonesia dengan insinyur dari negara-negara anggota ASEAN lainnya sudah setara,” lanjutnya.
Penerima sertifikat tidak hanya orang Indonesia, tetapi juga peserta serta delegasi insinyur dari 11 negara anggota ASEAN, salah satunya dari Filipina, Thailand, Timur Leste.
“Melalui kolaborasi lintas negara ini, kita memperkuat sinergi teknologi, riset, dan kapabilitas industri demi kemandirian serta kemajuan kawasan ASEAN secara berkelanjutan,” tuturnya.
Bisri berharap, ke depan kita dapat berlomba lagi untuk bagaimana engineer-engineer baru bisa mengetahui, mendalami, mempelajari, dan bahkan menjadi ahli ke depannya, khususnya insinyur-insinyur muda yang fokus dalam satu keilmuannya.
Ataupun membuat sesuatu dalam lingkungan kerjanya atau bidangnya yang kemudian memberikan advance (kemajuan atau peningkatan) kepada masyarakat dan negara. (SAL)












