Home Fitur Bendungan Sadawarna untuk Kesejahteraan Warga

Bendungan Sadawarna untuk Kesejahteraan Warga

Share

Kebutuhan Indonesia akan bendungan sangat besar. Sebagai negara agraris, yang sebagian besar penduduknya bercocok tanam,  sangat membutuhkan sumber air.

Tidak ayal lagi, kebutuhan akan bendungan itu pun direspons serius oleh pemerintahan Joko Widodo.

Sejak dipercaya menjadi Presiden dua periode, Jokowi–sejak 2015–sudah membangun 61 unit bendungan. Sebagian di ataranya ada yang baru selesai pada 2024.

Baca Juga: Atasi Dampak Cuaca Ekstrem, 61 Bendungan Dibangun dalam Satu Dekade Terakhir

Dengan jumlah itu, Indonesia kini sudah memiliki 231 bendungan. Kini negara kita sudah termasuk lima negara terbanyak memiliki bendungan di dunia. Jumlah ini masih kalah banyak dari China yang telah membangun hingga 110.000 bendungan.

Pada posisi kedua adalah Amerika Serikat dengan 6.100 bendungan. Lalu Jepang dengan 3.000 bendungan dan India (1.500 bendungan).

Pelat nama Bendungan Sadawarna. | Dok. KemenPUPR

Kebutuhan akan bendungan ini sudah menjadi perhatian global, apalagi dengan kondisi perubahan iklim yang sewaktu-waktu bisa menimbulkan dampak buruk, seperti banjir.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian PUPR, pun terus membangun bendungan, salah satunya Bendungan Sadawarna yang sudah diresmikan Jokowi pada Desember 2022.

Bertempat di Desa Sadawarna, Kecamatan Cibogo, Kabupaten Sumedang, bendungan yang sumber airnya dari Sungai Cipunegara ini dimaksudkan untuk mendukung ketahanan pangan dan pengendalian banjir di Provinsi Jawa Barat.

Musim Kemarau dan Hujan

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Kementerian PUPR Bastari mengatakan, setelah diresmikan Presiden, BBWS Citarum terus mengoptimalkan pemanfaatan Bendungan Sadawarna, terutama untuk menghadapi musim hujan dan kemarau.

“Bendungan ini sudah berfungsi baik dalam menahan air untuk pengendalian banjir pada musim hujan di akhir 2022 dan di awal 2023. Sudah ada pengurangan banjir yang signifikan di Pantura Subang pada musim hujan lalu.

Pintu air di Bendungan Sadawarna. | Dok. Kementerian PUPR

Apalagi Bendungan Sadawarna dilengkapi dengan pintu early release sehingga untuk antisipasi banjir, tinggi muka air waduk dapat diturunkan dari Muka Air Normal di Elevasi +80 ke elevasi + 77,2 sehingga tersedia tampungan banjir sebesar 13,5 juta meter kubik,” kata Bastari.

Sementara di musim kemarau beberapa waktu lalu, Bastari mengatakan, terus dilakukan pembukaan air dengan debit 1,4 meter kubik/detik ke hilir Sungai Cipunegara.

“Selama musim kemarau kita selalu lepas aliran air ini untuk  pemeliharaan sungai di hilir (maintenance flow), dan mungkin jika tanpa bendungan ini Sungai Cipunegara akan kering terdampak kemarau panjang,” ujarnya.

Manfaat Bendungan

Seperti sudah diketahui, bendungan memiliki beberapa manfaat, baik bagi masyarakat maupun bagi lingkungan.

Kehadiran Bendungan Sadawarna, misalnya, telah menjadi irigasi bagi lahan pertanian di Kabupaten Subang dan Indramayu. Dengan demikian, produktivitas pertanian di daerah itu semakin meningkat.

Bendungan Sadawarna juga menjadi pemasok atau penyedia air baku bagi wilayah Subang, Indramayu, dan Sumedang.

Kemudian, kehadiran Bendungan Sadawarna mereduksi banjir debit kala ulang Q25 sebesar 535 meter kubik/detik menjadi 202 meter kubik/detik yang dilalui DAS Cipunagara dengan tampungan banjir 26,90 juta meter kubik.

Tidak hanya itu, bendungan ini bermanfaat sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang berpotensi menyuplai listrik 2 megawatt (MW).

Di bidang ekonomi, jelas bendungan memiliki dampak. Pertanian yang disuplai dengan air yang cukup akan membuat produktivitas lahan meningkat. Artinya, ketahanan pangan di Provinsi Jawa Barat bisa lebih meningkat.

Untuk diketahui, Indonesia kini, hingga 2022, memiliki 1,1 juta jaringan irigasi. Diharapkan dengan jumlah jaringan irigasi sebanyak itu bisa berdampak pada penyediaan kebutuhan pangan masyarakat bisa terpenuhi tanpa harus melakukan impor dari negara lain.

Yang menarik, sekarang bendungan juga ternyata bisa memberikan manfaat pariwisata. Masyarakat bisa memanfaatkan areal bendungan sebagai destinasi wisata dengan biaya yang terjangkau.

Pemerintah daerah setempat bisa memanfaatkan keberadaan bendungan untuk meraup pendapatan dengan menggerakkan UMKM bisa berjualan di daerah lokasi bendungan.

Saat kemarau, bendungan bisa memasok kebutuhan masyarakat akan air bersih. Sementara saat hujan, bendungan bisa menjadi pengendali banjir.

Mengalirkan air dari Bendungan Sadawarna

Tak kurang, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di beberapa kesempatan mengatakan, pembangunan bendungan dan embung sebagai tampungan air di berbagai wilayah Indonesia merupakan salah satu upaya nyata untuk mengatasi ancaman perubahan iklim (climate change), terutama menghadapi cuaca ekstrem.

Baca Juga: Atasi Ancaman Perubahan Iklim, Indonesia Terus Bangun Bendungan dan Embung

Kita berharap, bendungan yang sudah ada sekarang bisa menjadi berdampak maksimal untuk sebesar-besarnya kebutuhan masyarakat. Tinggal, bagaimana masyarakat juga mau ikut berperan untuk menjaga agar bendungan tetap bersih dan jauh dari perusakan tangan-tangan jahil. (HRZ)

Baca Juga: Bendungan Lau Simeme Pasok Air Baku untuk Kota Medan dan Deli Serdang

Oleh:

Share

ARTIKEL TERKAIT