JAKARTA, LINTAS — Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) berhasil memanfaatkan air hujan sebesar 55.018 meter kubik per tahun. Bandara ini juga menerapkan efisiensi air daur ulang dan pemanfaatan air hujan sebesar Rp 1,1 miliar.
Bandara YIA juga berhasil mencapai penghematan energi sampai dengan tahun 2022 sebesar 5.584.501 kWh. Jumlah ini setara Rp 7,3 miliar dengan tarif listrik Rp 1.324,7 per kWh.
Selain berhasil dalam mencapai penghematan energi, penerapan manajemen energi di Bandara YIA juga berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca atau greenhouse gas di tahun 2022 sebesar 4.411 ton CO2e.
Atas berbagai capaian itu, salah satu bandara yang dikelola oleh PT Angkasa Pura I ini berhasil meraih Peringkat 1 Kategori Manajemen Energi di Bangunan Gedung dan Industri.
Penghargaan yang diselenggarakan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ini merupakan bentuk apresiasi bagi entitas yang memiliki peranan dalam bidang efisiensi, konservasi energi, dan penurunan emisi gas rumah kaca.
“Bandara YIA merupakan salah satu bandara Angkasa Pura I yang dalam konsep pembangunan infrastrukturnya sangat memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan hidup. Selain itu, dalam manajemen operasional bandara, Angkasa Pura I juga turut mengimplementasikan kebijakan energi dan kebijakan lingkungan untuk mendukung bandara ramah lingkungan atau eco airport,” kata Direktur Utama Angkasa Pura I Faik Fahmi, dikutip dari siaran pers belum lama ini.

“Kami menjadikan momentum penghargaan ini sebagai pelecut semangat untuk terus dapat meningkatkan kontribusi perusahaan terhadap pelestarian lingkungan hidup dan konservasi energi,” lanjutnya.
“Greenfield Airport”
Bandara YIA merupakan bandara dengan konsep greenfield airport yang dibangun dari lahan kosong dengan berpegang pada filosofi arsitektur yang berkelanjutan serta ramah lingkungan.
Bandara ini memiliki area terbuka hijau sebesar 19,84 persen dari total luas area atau seluas 26.589,3 meter persegi.
Dalam kegiatan operasionalnya, Bandara YIA didukung dengan penerapan berbagai perangkat utilitas yang mendukung konsep ramah lingkungan. Seperti penggunaan lampu LED, lampu penerangan jalan umum dengan solar cell, dan fitur sleep mode pada elevator, lift, serta travelator.
Tak ketinggalan, penggunaan kaca bangunan Sunergy Green. Kaca ini mampu merefleksikan sinar matahari dengan baik.
Selain itu, terdapat chiller dengan sistem watercooled centrifugal chiller 800 TR dengan nilai COP 6.81 yang menggunakan refrigerant ramah lingkungan sehingga tidak merusak lapisan ozon. (BAS)
Baca Juga: Antisipasi Bandara YIA Terendam, BBWS Serayu Opak Bangun Pengendali Banjir



















