Oleh Achmad Maliki
Sudah menjadi suatu hal yang biasa/lumrah bahwa setiap proyek pasti dibebani biaya-biaya tak terduga di luar keuntungan dari proyek itu sendiri. Untuk memenuhi biaya tak terduga tersebut diperlukan pengetahuan tentang strategi peyelenggaraan proyek yang dalam pembahasan berikut disebut Construction Strategy (CS).
Dalam tulisan ini, penyebutan istilah Construction Strategy selanjutnya disingkat CS.
Biaya tak terduga bisa berasal dari pemilik proyek/pengguna jasa atau dari penyedia jasa yang melaksanakan pekerjaan. Dalam pokok bahasan berikut lebih ditekankan pada biaya tak terduga yang harus dipenuhi pengguna jasa.
Yang dimaksud biaya tak terduga adalah biaya-biaya yang tidak diperhitungkan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) seperti pengeluaran akibat musibah kematian, sakit, kecelakaan, “biaya khusus” dan risiko pekerjaan lainnya.
Yang dimaksud dengan CS dalam pokok bahasan berikut adalah suatu cara yang harus dilakukan pemilik pekerjaan/owner/pengguna jasa untuk memenuhi biaya tak terduga yang paling besar, yakni “biaya khusus” yang disisihkan sebagian dari biaya pekerjaan konstruksi.
Umumnya biaya khusus berasal dari pesanan yang timbul saat proses pengusulan proyek ke instansi pengambil keputusan, baik eksekutif maupun legislatif. Biaya khusus berupa fee yang besarannya disepakati bersama sebagai kompensasi jasa atas disetujuinya proyek tertentu untuk dilaksanakan oleh pengguna jasa.
Bisa jadi pesanan timbul atas permintaan pengguna jasa itu sendiri untuk memenuhi permintaan dari pimpinan pengguna jasa serta untuk biaya tak terduga di internal pengguna jasa.
Besaran target biasanya diputuskan dari hasil negosiasi antara pemesan dan yang diberi pesan/pengguna jasa. Untuk mengakomodasi pesanan tersebut, pengguna jasa dihadapkan pada dua opsi, menyerahkan sepenuhnya kepada penyedia jasa untuk memenuhinya (opsi 1) atau pengguna jasa bekerja sama dengan penyedia jasa mengatur strategi untuk memenuhi target yang disepakati (opsi 2).
Diterapkan Sejak Perencanaan
Setiap opsi yang dipilih memilki risiko masing-masing. Bagi pekerjaan yang dilaksanakan oleh penyedia jasa yang kurang profesioanal, pemilihan opsi 1 bisa berdampak pada kegagalan proyek/konstruksi. Sementara pemilihan Opsi 2 menuntut pemilik proyek menjadi lebih sibuk menangani tugas-tugas ekstra yang di luar kewenangannya.
Kalau memang biaya tak terduga harus diperoleh, CS sudah harus diantisipasi dan diterapkan sejak tahap perencanaan proyek sampai proyek selesai (serah terima terakhir/FHO).
Fungsi utama CS dalam bahasan berikut adalah sebagai alat untuk menggali biaya tak terduga yang diperlukan tanpa menerapkan CC (construction crime) karena CC di samping penuh dengan penyimpangan yang berisiko kriminal, juga membuat sipelaku merasa tidak aman dan nyaman.
Besaran Biaya Khusus
Besaran biaya khusus bervariasi tergantung dari hasil negosiasi dan kesepakatan antara pemesan dan yang diberi pesan/pengguna jasa. Biaya khusus ditentukan berdasarkan persentase nilai proyek saat pengusulan atau nilai kontrak setelah pemenang tender diumumkan.
Besaran biaya khusus biasanya berkisar antara 4 dan 8 persen dari nilai proyek atau nilai kontrak. Bahkan, bisa lebih. Biaya khusus dapat dihimpun dengan menerapkan construction bussiness (CB) dan/atau construction effective (CE) tanpa harus menerapkan construction crime. Memang, construction crime relatif lebih mudah diterapkan daripada construction bussiness dan construction effective walaupun berisiko kriminal.

Perumusan BK perlu diuraikan secara detail terutama mengenai sumber BK (darimana BK diambil), cara memperoleh BK, beserta analisis beberapa skenario bila salah satu skenario mengalami kegagalan. Perumusan BK diawali dengan identifikasi sumber BK yang potensial apakah melalui effisiensi atau proses bisnis. Nilai effisiensi proyek terbesar umumnya dapat diperoleh melalui rekayasa metode kerja.
Rekayasa Metode Kerja
Untuk menghimpun BK melalui jalur CE perlu diketahui potensi perolehan biaya effisiensi yang terbesar pada suatu pekerjaan/proyek. Umumnya effisiensi terbesar dapat diperoleh melalui rekayasa terhadap metode kerja. Rekayasa metode kerja dapat menghasilkan BK melalui effisiensi salah satu, dua atau gabungan dari resources 4 M ( Man, Material, Machine, and Methode).
Penerapan CB dapat menghasilkan BK yang cukup besar. CB tidak sekedar memperoleh jasa dari keuntungan jual beli proyek (broker) atau men-subkotrakkan pekerjaan, tetapi lebih dari itu CB akan lebih berhasil bila kita menguasai banyak informasi dan jaringan yang luas. Karena dengan modal informasi yang cukup dan jaringan yang luas, sumberdaya proyek yang tidak/kurang diperlukan pada saat tertentu, dapat diberdayakan melalui proyek lain yang masih dalam satu jaringan, dan demikian juga sebaliknya.
(Achmad Maliki, Kepala BWS Kalimantan 3 2007-2011; Dosen di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Universitas Trisakti)



















