Home Berita Abu Vulkanik Anak Krakatau Bikin Bandara Ditutup, Injourney Airports Rugi Rp 40 Miliar

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bikin Bandara Ditutup, Injourney Airports Rugi Rp 40 Miliar

Share

JAKARTA, LINTAS – PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau Injourney Airports mencatat kerugian sekitar Rp 40 miliar akibat penutupan sejumlah bandara selama dua hari menyusul sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026.

Direktur Operasi Injourney Airports Agus Haryadi mengatakan, kerugian tersebut merupakan konsekuensi dari keputusan menutup operasional bandara demi memastikan keselamatan penerbangan.

“Kalau ngomong rugi, rugi Pak, banyak ruginya. Rp40 miliar ada kali Pak dalam dua hari (penutupan bandara) itu. Nah, tapi tentu kami tidak memikirkan itu,” kata Agus dalam Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan, Jumat (2/10/2026).

Agus menjelaskan, keputusan penutupan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) diambil setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya abu vulkanik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian memastikan hasil paper test dan black glass positif.

“Setelah BMKG memastikan bahwa dari hasil paper test, hasil black glass ternyata positif, kita tidak mau mengambil risiko dan langsung kita lakukan penutupan,” ujarnya.

Menurut Agus, penutupan bandara dalam kondisi tersebut bukan pilihan, melainkan harus dilakukan karena menyangkut keselamatan penerbangan.

“Bapak dan Ibu, tentu penutupan ini bukan opsi. Memang harus dilakukan. Tentu alasan pertamanya adalah alasan keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle,” katanya.

Soetta Ditutup Total

Agus mengatakan Bandara Soetta ditutup secara total pada 6 September 2026. Ia menyebut, sepanjang pengalamannya bekerja di Soekarno-Hatta sejak 1992, belum pernah terjadi penutupan bandara secara keseluruhan.

“Sepanjang yang saya tahu, saya bekerja di Soekarno-Hatta dari tahun ’92—artinya sudah 35 tahun—belum pernah mengalami penutupan bandara secara total,” ucapnya.

Bahkan saat pandemi Covid-19, status Bandara Soetta tetap terbuka meskipun operasional penerbangan terdampak.

“Covid-19 pun tidak tutup, Pak, status bandara itu open. Kalau ini (kala erupsi Gunung Anak Krakatau) benar-benar close,” sambung Agus.

Penutupan Soetta berdampak terhadap sekitar 130.000 penumpang yang biasanya dilayani dalam sehari. Bandara tersebut juga melayani sekitar 1.000 pergerakan pesawat per hari.

Dengan penutupan sejumlah bandara lainnya, total penumpang yang terdampak mencapai lebih dari 200.000 orang. Bandara lain yang terdampak antara lain Halim Perdanakusuma, Tanjung Karang, dan Husein Sastranegara Bandung.

Posko dan Mobilisasi Penumpang

Setelah penutupan dilakukan, Injourney Airports langsung mengaktifkan posko penanganan penumpang. Perusahaan juga menyediakan bus untuk memobilisasi penumpang menuju sejumlah bandara lain di Pulau Jawa, termasuk Solo, Yogyakarta, dan Surabaya.

Penumpang yang tertahan di Soetta juga ditampung di sejumlah fasilitas, salah satunya employee lounge milik Angkasa Pura Indonesia. Agus mengatakan, sekitar 200 jemaah umrah yang telah telanjur tiba dari sejumlah daerah, termasuk Palangkaraya, ditampung di fasilitas tersebut.

Sebelumnya, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap ruang udara dan operasional sejumlah bandara sejak Sabtu (5/9/2026).

Sebanyak delapan bandara sempat mengalami penutupan operasional, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Budiarto (BTO) di Banten. 

Bandara Radin Inten II (TKG) dan Bandara Muhammad Taufiq Kiemas (TFY) di Lampung; Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) di Jakarta; Bandara Pondok Cabe (PCB) di Banten; Bandara Husein Sastranegara (BDO) di Jawa Barat; serta Bandara Atung Bungsu (PXA) di Sumatera Selatan. (CHI) 

Oleh:

Share

ARTIKEL TERKAIT