Home BeritaBerita Headline Wamen Stella Christie: Penggunaan AI Berlebihan Bisa Hambat Kemampuan Siswa

Wamen Stella Christie: Penggunaan AI Berlebihan Bisa Hambat Kemampuan Siswa

Share

JAKARTA, LINTAS — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengingatkan para guru agar tidak membiarkan siswa terlalu bergantung pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam proses belajar.

Penggunaan AI tanpa diimbangi latihan berpikir mandiri berisiko menghambat perkembangan kemampuan siswa dalam membaca, menulis, berhitung, dan memecahkan masalah.

Pesan tersebut disampaikan Stella dalam kegiatan bertema Guardians for the Future atau Penjaga Masa Depan yang ditujukan kepada para guru, Jumat (9/10/2026), di Jakarta.

Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan generasi muda sehingga metode pembelajaran perlu didasarkan pada bukti ilmiah, bukan semata-mata kebiasaan atau perasaan.

“Guru-guru kita adalah manusia yang paling penting di tanah air kita karena merekalah yang menjaga, membina, dan membangun bangsa kita,” kata Stella.

Ia menjelaskan, kemampuan berpikir tidak terbentuk secara instan. Sebagaimana otot yang harus dilatih secara rutin, otak juga membutuhkan proses belajar dan latihan agar seseorang mampu mengembangkan pengetahuan serta keterampilannya.

Karena itu, siswa yang selalu menggunakan AI untuk memperoleh jawaban secara cepat tanpa berusaha memahami persoalan berisiko kehilangan kesempatan melatih kemampuan dasarnya.

“Kalau semuanya kita serahkan kepada AI, anak-anak menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban yang cepat, tidak menulis sendiri, tidak menghitung sendiri, dan tidak membaca sendiri, mereka tentu tidak akan punya kemampuan itu,” ujarnya.

Penggunaan AI Perlu Dikendalikan

Stella juga menyinggung data penelitian yang membandingkan capaian sains siswa berdasarkan frekuensi penggunaan AI.

Ia menyebut hasil penelitian yang dipaparkannya menunjukkan perbedaan skor antara siswa yang menggunakan AI setiap hari dan siswa yang tidak pernah menggunakannya.

Menurut Stella, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan harus mempertimbangkan pengaruhnya terhadap proses belajar dan perkembangan kemampuan kognitif siswa.

Meski demikian, ia menegaskan tidak menolak penggunaan AI di sekolah maupun perguruan tinggi.

Teknologi tersebut tetap dapat dimanfaatkan selama membantu siswa menjalani proses belajar, berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan secara mandiri.

“Kalau guru-gurunya mampu menggunakan AI agar anak-anak kita mau berproses, mau mengerjakan lebih lama, dan mau berpikir, itu bahkan bagus,” katanya.

Sebaliknya, penggunaan AI yang hanya berfungsi sebagai jalan pintas untuk memperoleh jawaban dinilai tidak mendukung tujuan pendidikan.

Siswa tetap perlu membaca, menulis, menghitung, dan menganalisis secara mandiri agar memiliki kemampuan yang dapat digunakan dalam berbagai situasi.

Stella juga menyinggung kebijakan pemerintah terkait penggunaan teknologi digital dan AI di lingkungan sekolah.

Menurutnya, penyesuaian kebijakan membutuhkan waktu, tetapi guru dapat mulai mengambil peran melalui metode pengajaran yang mendorong siswa aktif berpikir dan belajar.

Ia menilai, pemahaman guru mengenai dampak AI menjadi langkah awal yang penting sebelum penerapan teknologi tersebut dalam kegiatan belajar mengajar.

AI Mengubah Kebutuhan Dunia Kerja

Selain berdampak pada pendidikan, Stella menyoroti perubahan kebutuhan tenaga kerja akibat perkembangan AI.

Sejumlah pekerjaan yang selama ini menjadi pintu masuk bagi lulusan baru, seperti memasukkan data, melakukan pencatatan, hingga sebagian pekerjaan pemrograman, semakin dapat dikerjakan dengan bantuan teknologi tersebut.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja.

Menurut Stella, institusi pendidikan tinggi perlu menyesuaikan strategi pembelajaran agar mahasiswa tidak hanya menguasai pengetahuan teoretis, tetapi juga memiliki pengalaman kerja dan kemampuan yang tidak mudah digantikan oleh otomatisasi.

“Bukan saja prihatin, kita harus berstrategi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman kerja menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam menyiapkan lulusan menghadapi perubahan tersebut.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, lanjut Stella, terus membahas langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk merespons perkembangan AI.

Namun, pelaksanaannya membutuhkan kerja sama dengan perguruan tinggi karena masing-masing universitas memiliki kewenangan dalam menentukan kurikulumnya.

Menurutnya, dialog dan pemberian insentif dapat menjadi cara untuk mendorong perguruan tinggi menyesuaikan program pendidikan dengan kebutuhan baru di dunia kerja.

Guru Perlu Memahami Manfaat dan Risiko AI

CEO Redea Institute ( dulu Highscope Indonesia) Antarina S.F. Amir,  menyatakan sependapat bahwa AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir siswa.

Ia menilai, siswa perlu memiliki dasar pengetahuan dan kemampuan analitis sebelum memanfaatkan AI untuk mencari informasi atau menyelesaikan persoalan.

“Saya setuju sekali bahwa AI itu digunakan untuk membantu saja. Kita harus mampu mengakses jawaban dari AI, tetapi berarti kita harus punya kemampuan dulu sendiri, belajar juga sendiri, dan tidak bergantung pada semua jawabannya,” kata Rina.

Ia juga mengaku prihatin apabila mahasiswa terlalu bergantung pada AI dalam proses belajar.

Menurutnya, guru perlu memahami posisi dan batas penggunaan teknologi tersebut di tengah perkembangan dunia yang semakin digital.

AI dapat membantu mempersingkat waktu persiapan pembelajaran, tetapi guru dan siswa tetap perlu melakukan analisis serta membandingkan informasi dari berbagai sumber.

Dengan demikian, pemanfaatan AI tidak berhenti pada kemudahan memperoleh jawaban, tetapi juga mendorong kemampuan mengevaluasi informasi dan memahami materi.

Stella menambahkan, dalam pendidikan calon guru, pemahaman mengenai dampak AI perlu menjadi perhatian utama. Calon guru perlu mengetahui manfaat sekaligus risiko teknologi tersebut sebelum mengajarkannya kepada siswa.

Ia menilai, kesadaran guru terhadap pengaruh AI merupakan langkah awal untuk membangun pola pembelajaran yang tepat di tengah perkembangan teknologi. (CHI)

Oleh:

Share