Home Berita Kemdiktisaintek Ubah Arah Riset, Kampus Diminta Selesaikan Masalah Industri

Kemdiktisaintek Ubah Arah Riset, Kampus Diminta Selesaikan Masalah Industri

Share

JAKARTA, LINTAS — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengubah pendekatan pendanaan riset dengan mendorong perguruan tinggi menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi industri, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Kebijakan ini diarahkan agar hasil penelitian tidak berhenti di jurnal ilmiah, tetapi dapat dikembangkan menjadi teknologi dan solusi yang digunakan secara langsung.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Faudjan Adziman, mengatakan penelitian perlu dimulai dari identifikasi masalah yang jelas, bukan semata-mata mengikuti bidang prioritas yang ditetapkan pemerintah.

“Kalau tidak tahu apa yang ingin dipecahkan, kami sarankan jangan riset,” kata Faudjan dalam pemaparannya pada Kamis (8/10/2026) malam.

Menurut dia, pendekatan tersebut menempatkan dampak sebagai bagian penting dalam perencanaan penelitian.

Dalam istilah akademik internasional, konsep ini dikenal sebagai pathway to impact, yakni jalur yang menghubungkan kegiatan riset dengan manfaat nyata bagi pengguna atau masyarakat.

Dengan pendekatan berbasis masalah, penelitian juga membuka ruang kolaborasi lintas disiplin. Persoalan produktivitas pertanian, misalnya, tidak hanya membutuhkan keahlian di bidang pertanian, tetapi juga teknologi drone, kecerdasan buatan (AI), pengolahan data, serta ilmu sosial untuk memahami kebutuhan masyarakat dan penerapan teknologi.

Pendanaan Riset Dibagi Dua Jalur

Untuk mendukung perubahan tersebut, Kemdiktisaintek menerapkan dua jalur pendanaan, yakni riset prioritas dan riset strategis.

Riset prioritas ditujukan untuk mendukung kegiatan penelitian di perguruan tinggi secara lebih luas. Sementara itu, riset strategis diarahkan pada penyelesaian persoalan yang membutuhkan kapasitas penelitian, pengalaman, dan kolaborasi yang lebih besar.

Faudjan menjelaskan, kedua jalur tersebut diperlukan agar pendanaan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok peneliti yang sudah mapan. Di sisi lain, penelitian yang berpotensi menyelesaikan persoalan strategis juga perlu mendapat dukungan sesuai skala dan kebutuhannya.

Menurut dia, pemerintah ingin menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan kapasitas riset perguruan tinggi, kemudian membawa hasilnya kembali kepada pengguna, termasuk industri.

Persoalan yang menjadi dasar penelitian, lanjutnya, tidak seharusnya hanya ditentukan oleh kampus.

Industri, pemerintah daerah, dan pihak lain yang menghadapi persoalan di lapangan perlu ikut menyampaikan kebutuhan agar penelitian memiliki tujuan yang jelas.

Proposal Riset Tahun Ini Tembus 120.000

Di tengah perubahan pendekatan tersebut, jumlah proposal penelitian yang masuk ke Kemdiktisaintek meningkat tajam. Faudjan menyebut kementerian membiayai sekitar 22.000 penelitian di seluruh Indonesia pada tahun lalu.

Dalam paparannya, ia menyebut sekitar 60.000 proposal masuk pada tahun lalu. Sementara itu, jumlah proposal yang diterima tahun ini mencapai sekitar 120.000, atau dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Faudjan menilai kenaikan tersebut dapat menjadi indikasi meningkatnya minat terhadap kegiatan penelitian. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi AI membuat penyusunan proposal menjadi lebih mudah dan cepat.

Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga kualitas penelitian, terutama ketika jumlah proposal yang harus dinilai terus bertambah.

Menurut Faudjan, proses penilaian melibatkan sekitar 2.500 reviewer dari kalangan akademisi. Sementara itu, tim internal kementerian yang menangani pemeriksaan proposal berjumlah kurang dari delapan orang.

Karena itu, proses evaluasi tidak hanya mengandalkan tim kementerian, tetapi juga membutuhkan keterlibatan reviewer dari perguruan tinggi.

Faudjan menekankan pentingnya penilaian yang tidak sekadar memeriksa kelengkapan proposal, tetapi juga melihat persoalan yang hendak diselesaikan dan manfaat penelitian yang diusulkan.

Kemdiktisaintek juga tengah mengembangkan pendekatan berbasis problem statement atau rumusan masalah untuk membantu memastikan proposal penelitian memiliki sasaran yang jelas.

Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga relevansi penelitian, termasuk di tengah semakin luasnya penggunaan AI dalam penyusunan proposal.

Industri Diminta Menyampaikan Persoalan

Kemdiktisaintek turut mendorong perusahaan terlibat sejak awal dalam proses penelitian. Industri diharapkan menyampaikan persoalan yang ingin diselesaikan sehingga perguruan tinggi dapat merancang penelitian berdasarkan kebutuhan tersebut.

Faudjan menilai kolaborasi tidak harus dimulai dengan proyek besar. Perusahaan dapat mengidentifikasi satu persoalan terlebih dahulu, kemudian bekerja sama dengan peneliti untuk mengembangkan solusi yang dapat diuji dan diterapkan.

Salah satu skema yang didorong adalah pendanaan bersama atau co-funding.

Melalui skema ini, industri dan pemerintah dapat berbagi dukungan untuk membiayai penelitian yang dibutuhkan.

Kontribusi perusahaan tidak selalu harus berupa uang tunai. Dukungan juga dapat berbentuk waktu kerja insinyur, fasilitas, atau sumber daya lain yang relevan dengan pelaksanaan penelitian.

Melalui skema tersebut, Kemdiktisaintek ingin mempertemukan pengetahuan yang dihasilkan perguruan tinggi dengan kebutuhan pengembangan produk dan teknologi di industri.

AI untuk Memetakan Riset dan Peneliti

Selain mengubah pendekatan pendanaan, Kemdiktisaintek mengembangkan pemanfaatan AI untuk membantu pemetaan penelitian dan pencarian solusi berbasis hasil riset.

Faudjan memaparkan pengembangan sistem yang dapat membantu pengguna menemukan informasi tentang penelitian yang telah dilakukan, peneliti yang terlibat, serta persoalan yang menjadi fokus kajian.

Kemdiktisaintek juga mengembangkan Asisten Riset Indonesia (ASRI), yang dirancang untuk membantu pengguna mencari informasi dan alternatif solusi dengan merujuk pada sumber-sumber penelitian.

Sistem tersebut diharapkan mempermudah industri menemukan peneliti yang sesuai dengan kebutuhannya. Peneliti dan calon mitra kolaborasi juga dapat menggunakannya untuk menelusuri penelitian yang relevan sebelum memulai kerja sama baru.

Menurut Faudjan, pemetaan tersebut penting karena informasi mengenai siapa yang meneliti suatu persoalan dan apa yang sudah dihasilkan perlu lebih mudah diakses. Dengan demikian, penelitian yang telah dilakukan dapat dimanfaatkan dan dikembangkan lebih lanjut.

Ia juga menyoroti tantangan dalam menghubungkan persoalan dengan hasil penelitian yang relevan. Melalui pemetaan tersebut, industri dapat menelusuri keahlian dan hasil penelitian yang berpotensi membantu menyelesaikan persoalan mereka.

Riset Harus Berlanjut Menjadi Teknologi

Faudjan menekankan, hasil penelitian tidak semestinya berhenti pada publikasi ilmiah.

Pengetahuan yang dihasilkan kampus perlu memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi teknologi, produk, atau layanan yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Namun, proses tersebut membutuhkan penghubung antara perguruan tinggi dan industri.

Perguruan tinggi berkontribusi melalui pengetahuan dan penemuan baru, sedangkan industri memiliki pengalaman dalam pengembangan produk, produksi, dan penerapan teknologi di pasar.

Menurut Faudjan, salah satu tantangan dalam pengembangan inovasi adalah menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan pengguna.

Karena itu, kerja sama antara peneliti dan industri perlu dibangun sejak tahap identifikasi masalah, bukan baru dilakukan ketika penelitian selesai.

Pentingnya Inovasi

Ia juga menyoroti pentingnya inovasi yang tidak hanya menawarkan teknologi lebih baik, tetapi juga lebih terjangkau dan mudah digunakan.

Inovasi semacam ini berpeluang menjangkau lebih banyak pengguna, terutama ketika mampu menjawab kebutuhan yang belum terpenuhi.

Faudjan mencontohkan hasil penelitian di bidang kesehatan yang dikembangkan menjadi alat deteksi berbiaya rendah.

Teknologi semacam ini menunjukkan bagaimana pengetahuan dari perguruan tinggi dapat memiliki nilai ekonomi sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Melalui perubahan pendekatan riset, skema pendanaan bersama, dan pemanfaatan AI, Kemdiktisaintek berupaya membangun hubungan yang lebih erat antara penelitian perguruan tinggi, kebutuhan industri, dan persoalan masyarakat. (CHI)

Oleh:

Share